alexametrics
30.8 C
Kudus
Sunday, May 29, 2022

Bikin Aplikasi Donor Darah, Raih Gold Medal di Ajang Internasional I2ASPO

SYATTA Imtiyaz Thuvaila, 14, salah satu dari tim riset yang berhasil meraih gold medal pada akhir 2021 lalu. Tak tanggung-tanggung, kompetisi riset yang dia ikuti itu lomba tingkat internasional. Yakni ajang internasional I2ASPO (Indonesia International Applied Science Project Olympiad) 2021. ”Penyelenggaranya IYSA (International Young Scientist Association),” jelas siswi MTs NU Banat Kudus itu.

Setidaknya ada 14 negara yang mengikuti kompetisi riset bergengsi itu. Saat itu Syatta dan beberapa temannya mengangkat aplikasi Gedor Lakon (Gerakan Donor Plasma Konvalesen). Aplikasi itu dibuat agar dapat mengakses informasi tentang golongan darah, plasma konvalesen, dan rute rumah sakit terdekat di Kudus. Yakni khusus untuk donor darah.

”Awal mula membuat aplikasi tersebut karena saat pandemi, banyak orang yang butuh donor darah,” katanya.


Tetapi sayangnya mereka tak bisa ke mana-mana. Maka dengan aplikasi tersebut dapat memberikan informasi seputar stok darah. Terutama ada daftar rumah sakit yang punyak stok darah. ”Awal mula saya juga tidak pernah tahu dunia aplikasi,” ujarnya.

Baca Juga :  Sempat Tak Direstui Orang tua, Kini Juara

Tetapi berhubung pada 2021 itu saya tidak ada kegiatan. Maka riset itu pun saya coba lakukan bersama teman-teman yang lain. ”Tapi keberhasilan riset tersebut juga tidak terlepas dari kerja keras para pembimbing,” ujarnya.

Aplikasi sudah jadi. Tetapi untuk saat ini aplikasi tersebut masih dalam tahap simulasi. Harapannya nanti aplikasi tersebut dapat berguna bagi orang banyak. Terutama untuk mengatasi masalah donor darah di Kudus. ”Nantinya aplikasi tersebut pun juga perlu kerjasama dengan berbagai pihak runah sakit,” imbuhnya.

Misal pandemi Covid-19 sudah tidak ada pun aplikasi itu dapat dikembangkan dan digunakan kembali. (ark/zen)

SYATTA Imtiyaz Thuvaila, 14, salah satu dari tim riset yang berhasil meraih gold medal pada akhir 2021 lalu. Tak tanggung-tanggung, kompetisi riset yang dia ikuti itu lomba tingkat internasional. Yakni ajang internasional I2ASPO (Indonesia International Applied Science Project Olympiad) 2021. ”Penyelenggaranya IYSA (International Young Scientist Association),” jelas siswi MTs NU Banat Kudus itu.

Setidaknya ada 14 negara yang mengikuti kompetisi riset bergengsi itu. Saat itu Syatta dan beberapa temannya mengangkat aplikasi Gedor Lakon (Gerakan Donor Plasma Konvalesen). Aplikasi itu dibuat agar dapat mengakses informasi tentang golongan darah, plasma konvalesen, dan rute rumah sakit terdekat di Kudus. Yakni khusus untuk donor darah.

”Awal mula membuat aplikasi tersebut karena saat pandemi, banyak orang yang butuh donor darah,” katanya.

Tetapi sayangnya mereka tak bisa ke mana-mana. Maka dengan aplikasi tersebut dapat memberikan informasi seputar stok darah. Terutama ada daftar rumah sakit yang punyak stok darah. ”Awal mula saya juga tidak pernah tahu dunia aplikasi,” ujarnya.

Baca Juga :  Tak Mau Menyerah untuk Wujudkan Cita-cita

Tetapi berhubung pada 2021 itu saya tidak ada kegiatan. Maka riset itu pun saya coba lakukan bersama teman-teman yang lain. ”Tapi keberhasilan riset tersebut juga tidak terlepas dari kerja keras para pembimbing,” ujarnya.

Aplikasi sudah jadi. Tetapi untuk saat ini aplikasi tersebut masih dalam tahap simulasi. Harapannya nanti aplikasi tersebut dapat berguna bagi orang banyak. Terutama untuk mengatasi masalah donor darah di Kudus. ”Nantinya aplikasi tersebut pun juga perlu kerjasama dengan berbagai pihak runah sakit,” imbuhnya.

Misal pandemi Covid-19 sudah tidak ada pun aplikasi itu dapat dikembangkan dan digunakan kembali. (ark/zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/