alexametrics
25.4 C
Kudus
Friday, May 20, 2022

Pilih Nyinden dan Kuliah di Blora

TAK pernah terfikirkan untuk menjadi sinden pada masa kecil. Apalagi dia tidak terlahir dari keluarga seniman. Tidak ada yang mengarahkan untuk terjun ke dunia seni. Semua berjalan tanpa terencana.

Delia Rifky Deviana, gadis asal Mendenrejo, Kradenan, Blora, ini kini menggeluti dunia tembang-tembang jawa. Ya, siswa kelas XI SMA NU 1 Kradenan itu kini menjadi sinden untuk pementasan karawitan, barongan, ataupun wayang.

Awalnya Delia hanya diajak Ahlal Laili untuk menemani belajar sinden. Saat itu dia sedang duduk di kelas IX di SMPN 1 Menden. Dia hanya melihat dan menemani tetangganya itu. Pada latihan-latihan berikutnya, dia mulai ikut nyaut lagu yang dinyanyikan. Keinginan Delia untuk ikut belajar pun mulai muncul. Dia mulai ikut belajar. Namun karena khawatir tidak diperbolehkan orang tua, dia belajar secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Seiring berjalannya waktu, orang tua Delia mengetahui kegiatan latihannya. ”Saya kayak diinterogasi, agak dredeg, takut dimarahi karena tidak boleh,” ujar  Delia. ”Ternyata orang tua malah dukung,” imbuhnya.

Setelah tau kalau orang tua mendukung, dia mulai sering latihan. Seminggu dua kali. ”Temen belajarnya sudah sepuh-sepuh,” katanya.

”Terus mulai bisa satu dua tembang. Saat di grup tersebut ada yang mengundang. Saya diajak bergabung,” dirinya menjelaskan.

Baca Juga :  Senang ketika Melihat Siswa Antusias

Setahun setelahnya, dia mulai diajak latihan sinden untuk barongan. Diajak ke undangan-undangan hingga diajak untuk ikut sinden di pentas wayang. Hingga saat ini. ”Meskipun masih belum bagus, masih terus latihan, paling tidak bisa latihan mental juga,” ujarnya.

Undangan-undangan terus berdatangan. Mulai dari lokal kecamatan hingga lintas kecamatan. ”Pernah juga manggung di TVRI di Semarang,” jelasnya.

Untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengolah suara. Kini dia meningkatkan intensitas latihannya. Bisa lima sampai enam kali dalam seminggu. Latihannya pun tidak berpusat di satu tempat saja. ”Di kelompok Ngesti Pandowo Desa Kutukan, kelompok Ngudi Laras di Menden, Singo Kembang Budoyo di Dukuh Goito Desa Mendenrejo, serta di Desa Temulus,” jelasnya.

Dia selalu mengingat pesan gurunya saat pertama kali latihan. ”Latihan nyinden ngene iki gak iso instan nduk, kudu sing sabar, sing telaten, ojo gampang bosen (Latihan menjadi sinden itu tidak bisa instan, nduk. Harus sabar, telaten. Jangan mudah bosan, Red),” Delia menirukan.

Perempuan itu berharap agar bisa melanjutkan kuliah di Blora. ”Agar masih tetap bisa latihan di sini,” harapnya. (cha/zen)

TAK pernah terfikirkan untuk menjadi sinden pada masa kecil. Apalagi dia tidak terlahir dari keluarga seniman. Tidak ada yang mengarahkan untuk terjun ke dunia seni. Semua berjalan tanpa terencana.

Delia Rifky Deviana, gadis asal Mendenrejo, Kradenan, Blora, ini kini menggeluti dunia tembang-tembang jawa. Ya, siswa kelas XI SMA NU 1 Kradenan itu kini menjadi sinden untuk pementasan karawitan, barongan, ataupun wayang.

Awalnya Delia hanya diajak Ahlal Laili untuk menemani belajar sinden. Saat itu dia sedang duduk di kelas IX di SMPN 1 Menden. Dia hanya melihat dan menemani tetangganya itu. Pada latihan-latihan berikutnya, dia mulai ikut nyaut lagu yang dinyanyikan. Keinginan Delia untuk ikut belajar pun mulai muncul. Dia mulai ikut belajar. Namun karena khawatir tidak diperbolehkan orang tua, dia belajar secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Seiring berjalannya waktu, orang tua Delia mengetahui kegiatan latihannya. ”Saya kayak diinterogasi, agak dredeg, takut dimarahi karena tidak boleh,” ujar  Delia. ”Ternyata orang tua malah dukung,” imbuhnya.

Setelah tau kalau orang tua mendukung, dia mulai sering latihan. Seminggu dua kali. ”Temen belajarnya sudah sepuh-sepuh,” katanya.

”Terus mulai bisa satu dua tembang. Saat di grup tersebut ada yang mengundang. Saya diajak bergabung,” dirinya menjelaskan.

Baca Juga :  Dou Mahasiswa asal Kudus Ciptakan Brand Lokal

Setahun setelahnya, dia mulai diajak latihan sinden untuk barongan. Diajak ke undangan-undangan hingga diajak untuk ikut sinden di pentas wayang. Hingga saat ini. ”Meskipun masih belum bagus, masih terus latihan, paling tidak bisa latihan mental juga,” ujarnya.

Undangan-undangan terus berdatangan. Mulai dari lokal kecamatan hingga lintas kecamatan. ”Pernah juga manggung di TVRI di Semarang,” jelasnya.

Untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengolah suara. Kini dia meningkatkan intensitas latihannya. Bisa lima sampai enam kali dalam seminggu. Latihannya pun tidak berpusat di satu tempat saja. ”Di kelompok Ngesti Pandowo Desa Kutukan, kelompok Ngudi Laras di Menden, Singo Kembang Budoyo di Dukuh Goito Desa Mendenrejo, serta di Desa Temulus,” jelasnya.

Dia selalu mengingat pesan gurunya saat pertama kali latihan. ”Latihan nyinden ngene iki gak iso instan nduk, kudu sing sabar, sing telaten, ojo gampang bosen (Latihan menjadi sinden itu tidak bisa instan, nduk. Harus sabar, telaten. Jangan mudah bosan, Red),” Delia menirukan.

Perempuan itu berharap agar bisa melanjutkan kuliah di Blora. ”Agar masih tetap bisa latihan di sini,” harapnya. (cha/zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/