GROBOGAN - Desa Gubug, Kecamatan Gubug, suasana SD Tahfidz Basmala terasa hangat. Puluhan siswa duduk rapi menunggu giliran membaca Juz Amma. Satu ustaz mengampu sekitar 30 anak. Satu per satu maju, melanjutkan bacaan terakhir yang dihafalkan.
Wajah-wajah kecil itu tampak antusias. Bagi sebagian dari mereka, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar. Di sinilah harapan dirawat—terutama bagi anak-anak yatim yang dibebaskan dari seluruh biaya pendidikan.
Sekolah full day tersebut berdiri pada 2020. Sistem pembelajarannya memadukan pendidikan umum dan keagamaan sejak pagi hingga sore hari.
“Kegiatan pembelajaran kami mulai pagi dengan salat duha bersama, dilanjutkan tahfidz sampai jam 10.00. Setelah itu pelajaran umum sampai siang. Siang hingga sore pelajaran diniyah. Jadi anak mendapatkan tiga pembelajaran sekaligus,” ujar Pembina YPIS Basmala Gubug, Misbahul Munir.
Bagi siswa yatim, pihak yayasan memberikan beasiswa penuh. Semua biaya pendidikan digratiskan. Skemanya menggunakan subsidi silang dari siswa lain serta dukungan para donatur.
“Subsidi silang untuk membantu anak yatim dan kurang mampu. Siapa saja boleh membantu, tapi anak tidak boleh difoto saat menerima bantuan,” tegasnya.
Ratusan Warga Kejar Ijazah Kesetaraan
Tak hanya membangun SD Tahfidz, Munir juga merintis Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Basmala sejak 8 Agustus 2008. Lembaga ini menjadi jalan kedua bagi warga Kecamatan Gubug dan sekitarnya yang ingin menuntaskan pendidikan setara SMP dan SMA melalui Paket B dan C.
Kegiatan belajar digelar di Ponpes Al Manshur, Desa Curug, Kecamatan Tegowanu. Pembelajaran berlangsung setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu pagi.
“Rata-rata siswa kami pekerja dan santri. Saat ini lebih dari 200 orang ikut belajar,” ungkapnya.
PKBM tersebut tak hanya memberikan materi akademik, tetapi juga membekali keterampilan. Sebanyak 25 tenaga pengajar terlibat dalam proses pembelajaran.
Banyak peserta didik yang sebelumnya putus sekolah karena kendala biaya. Ada pula pekerja yang hanya lulusan SD atau SMP, serta santri yang fokus menghafal Alquran namun tetap membutuhkan ijazah formal.
“Siswa ingin punya ijazah setara SMA agar bisa bekerja atau melanjutkan kuliah, tapi tetap bisa mondok,” terangnya.
Kini, alumni PKBM Basmala telah merasakan manfaatnya. Sebagian melanjutkan kuliah, bahkan ada yang berhasil menjadi perangkat desa berbekal ijazah kesetaraan tersebut.
Berawal dari Keprihatinan
Munir mendirikan PKBM bukan tanpa alasan. Setelah lulus dari IAIN Walisongo Semarang pada 2005 dan sempat bekerja, ia melihat banyak pekerja tidak memiliki ijazah SMA. Alasannya klasik: tidak punya biaya.
“Banyak yang hanya tamat SD atau SMP. Padahal mereka ingin sekolah lagi. Setelah pulang kampung tahun 2008, saya berpikir harus ada solusi,” kenangnya.
Dari situlah PKBM Basmalah lahir. Tujuannya sederhana: membantu warga memperoleh ijazah kesetaraan yang bisa digunakan untuk melamar pekerjaan maupun melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Program tersebut juga selaras dengan upaya pemerintah dalam pengentasan buta huruf dan perluasan akses pendidikan.
Kini, ratusan warga telah merasakan manfaatnya. Dari ruang-ruang sederhana di pesantren hingga gedung SD Tahfidz yang berdiri di Pilangsari, pendidikan menjadi pintu perubahan.
Bagi Munir, sekolah bukan hanya soal angka kelulusan. Lebih dari itu, ia ingin memastikan setiap orang memiliki kesempatan kedua.
“Selama masih ada yang ingin belajar, kami akan terus membuka jalan,” pungkasnya. (mun)
Editor : Ali Mustofa