GROBOGAN - Jalur KA antara Stasiun Gubug-Stasiun Karangjati sudah kali ketiga dalam setahun ini mengalami jebol dan terdampak limpasan dari luapan air sungai Tuntang.
Akibatnya perjalanan kereta api Surabaya-Semarang terganggu.
Karena sampai saat ini kondisi jalur tersebut baru bisa ditangani secara temporary bridge atau jalur sementara, maka PT KAI Daop 4 Semarang melakukan upaya mengerahkan petugas pemantau selama 24 jam non stop.
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Franoto Wibowo mengatakan, sejak awal Februari 2025, PT KAI telah melakukan normalisasi rel untuk membangun jembatan sementara.
"Sedangkan untuk keputusan permanen diserahkan ke DJKA Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Karena untuk prasarana di Kemenhub yang memiliki kewenangan," jelasnya.
Maka untuk sementara ini yang bisa KAI lakukan dengan menempatkan petugas pemantau di daerah tersebut selama 24 jam.
Petugas tersebut ditugaskan untuk melakukan pengawasan ketika kereta melintas. Serta melakukan pengukuran dalam hal tracknya.
Di lokasi tersebut turut disiapkan alat-alat dan material untuk siaga seperti kricak dan lain sebagainya.
Bahkan, sampai saat ini sejumlah kereta yang melintas masih menerapkan kecepatan terbatas 30 km per jam.
"Karena kemungkinan limpasan mungkin saja terjadi lagi, mengingat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan masih berlangsung sampai akhir April mendatang," jelas Franoto.
Meski begitu, KAI Daop 4 Semarang terus berkoordinasi dengan BMKG terkait perkiraan cuaca di lokasi tersebut atau pun di hulu sungainya.
Sedangkan beberapa waktu lalu, upaya penanganan permanen baru akan dikoordinasikan.
Lantaran sampai saat ini Balai Teknik Kelas 1 Semarang harus lebih dulu menyiapkan DED-nya.
"Termasuk melakukan kajian teknis penanganan permanen jalur KA petak Stasiun Gubug-Stasiun Karangjati," ungkap Kepala BTP Kelas 1 Semarang Rudi Pitoyo.
Menurutnya untuk rencana pembuatan terowongan bakal kecil kemungkinan karena pembangunan terowongan memerlukan relokasi dan pembebasan lahan serta membangun sungai buatan. (Int)
Editor : Mahendra Aditya