Baca Juga : Kerap Mencuri, Warga Purwodadi Minta Kerabatnya Sendiri untuk Dipenjara
Kabid Permukiman Disperakim Grobogan Darlan mengungkapkan butuh nonimal besar yakni sekitar Rp 238 miliar untuk merealisasikan keseluruhan. “Kami juga dibantu DPR RI dalam usulan pengembangan wisata religi menjadi kawasan tematik ini. Namun, jawabannya baru bisa dilakukan pengerjaan untuk pembangunan aksesbilitas terlebih dulu,” ungkapnya.
Wisata religi seluas 8 hektare itu mulai disiapkan pengerjaan prioritas untuk pembangunan konstruksi utama dengan usulan senilai Rp 3,8 miliar seperti, penataan gerbang akses masuk jalan utama pencapaian ke situs Makam Ki Ageng Selo, penataan koridor jalan utama dengan panjang 1,84 km lebar 7 meter, kemudian pengadaan trotoar dengan panjang 1,84 km lebar 1,5 meter. Serta ada pengadaan jalan dengan panjang 1,3 km dan lebar 4 meter hingga pengadaan drainase lingkungan ukuran 90/110 (u-ditch).
“Untuk fasilitas penunjang seperti pembangunan gedung museum, playground dan kolam renang, gedung pertemuan, restoran, drainase lokasi parkiran, spot UMKM dan revitilasi pasar Desa Selo masih menunggu ditahap selanjutnya. Kami upayakan lagi,” paparnya.
Dia mengungkapkan keberadaan Makam Ki Ageng Selo menjadi ikon wisata religi di Grobogan. Terlebih makam tersebut menjadi makam leluhur Mataram Islam yang dipercayai mampu menangkap petir. Hingga kini juga masih berhubungan dengan Keraton Surakarta Hadiningrat.
“Wisata religi ini tak pernah sepi peziarah. Terdata ada 1.500 orang per hari yang datang. Bahkan, jika hari besar seperti 1 Muharram bisa mencapai dua kali lipatnya. Meski ramai pengunjung, tidak diimbangi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai,” keluhnya.
Maka pemkab berencana untuk melakukan penataan penunjang di sekitar area wisata. Harapannya ke depan bisa meningkatkan jumlah wisatawan dan perekonomian masyarakat sekitar makam. (int/mal) Editor : Ali Mustofa