Baca Juga : Miris! Sekolah di Purwodadi ini Rusak Parah, Guru hingga Wali Siswa Iuran Bikin Kelas Sementara
Diberitakan sebelumnya, kondisi ruang kelas di SDN 4 Ngraji di Desa Ngraji, Purwodadi rusak parah. Ada empat ruangan kelas rusak. Yaitu kelas III,IV, V, dan VI. Saat ini, atap dua kelas itu jebol dengan genteng terbuka. Material lainnya juga rawan roboh. Bahkan, guna menampung siswa belajar tatap muka, guru dan wali siswa menyepakati untuk membangun dua ruang kelas di tempat parkir sekolahan dengan iuran pribadi.
Pada awal Juni dua SD juga ditemukan rusak parah. Yaitu SD N 2 Penawangan dan SD N 3 Pilangpayung. Saat itu, Komisi D DPRD Kabupaten Grobogan yang menerima aduan akan mengawal perbaikan melalui anggaran perubahan.
SD Penawangan diketahui rusak sejak 2018. Kerusakannya meliputi prafon ambrol, kerangka atap melengkung, dinding retak, lantai keramik pecah-pecah. Kerusakan terjadi di kelas IV, V, dan VI. Karena kerusakan itu siswa belajar di teras.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus di SDN 1 Katekan, Brati, Grobogan, kerusakan terlihat di ruang kelas III, IV, dan V. Di ruang kelas III rusak pada bagian atap. Kerangka atap miring. Mau roboh. Itu karena tiyang penyangga geser. Beberapa bagian dinding juga tampak retak. Ruangan tersebut terletak di ujung timur. Menghadap ke utara.
Karena tampak parah, ruangan kelas tiga itu dikosongkan sejak lima tahun belakangan. Kini tampak seperti gudang. Di dalamnya berisi kursi dan meja yang bertumpuk dan rusak. Siswa pun dialihkan ke ruang kelas pada bangunan sebelah barat. Menghadap ke Timur. Berdekatan dengan ruangan kelas IV dan V.
Dua ruang kelas lainnya yang rusak yakni kelas IV dan kelas V. Pada dua ruangan ini kerusakan tampak pada bagian atap. Plafon-plafon pada dua kelas ini jebol.
Takut ada reruntuhan yang menimpa murid, kelas V dikosongkan sejak awal masuk semester ini. Mereka dialihkan ke ruangan yang lebih layak. Yang semula menjadi ruangan multimedia.
Sementara, ruang kelas IV masih dipakai hingga sekarang. Ada delapan siswa yang belajar di bawah ruangan degan plafon yang rusak itu. Keterbatasan ruang membuat pihak sekolah tak bisa memindahkan siswa.
Guru Kelas IV Ngatmin menyebu, ruang-ruang kelas di sekolah tersebut merupakan bangunan lawas. Sehingga mayoritas rusak. Memang ada pembangunan tiga ruang yang lebih representatif. Tetapi itu dipakai untuk ruang guru, ruang kelas VI dan multimedia.
"Kalau yang multimedia kini jadi ruang kelas V. Soalnya kasihan anak-anak kalau ada apa-apa. Kan ruangan semula rusak. Jadi dialihkan saja," jelasnya.
Menurutnya, atas kerusakan-kerusakan ruang kelas itu pihaknya sudah diminta mengajukan perbaikan. Tetapi hingga kini belum ada realisasi perbaikan.
"Soal siswa yang dipindah, karena ketika saya mengajar waktu itu kadang ada plafon-plafon yang runtuh. Jadi daripada nanti malah kejadian menimpa siswa, makanya itu kelas V dipindah," paparnya.
Untuk kelas V menurutnya ada 12 siswa. Sementara kelas IV ada delapan murid. Dan secara keseluruhan ada 84 siswa di SD N 1 Katekan. (tos/zen) Editor : Abdul Rokhim