Proses pembuatan melibatkan puluhan pemuda warga sekitar. Pengerjaan saat malam hari usai Tarawih. Salah satunya di RT 7/RW 1, Dusun Paras, Desa Toko, membuat replika naga.
Naga itu berukuran panjang delapan meter dan tinggi empat meter. Mempunyai empat kaki. Repa Herdita, 17, warga setempat mengaku, pembuatan replika ini dengan membuat sketsa terlebih dahulu. Kemudian dibuat rangka berbahan bambu. Selanjutnya ditempeli potongan kardus yang sudah dibuat pola. ”Kami membuat naga ini sudah menghabiskan 50 kilogram kardus. Kami buat hewan naga agar menarik,” katanya.
Pembuatan naga ini, melibatkan lebih 20 pemuda. Waktu pembutan naga tersebut, sudah dikerjakan satu pekan. Ditargetkan hari ini (28/4) selesai. ”Untuk kepala naga kami pakai bekas layangan ular naga,” terangnya.
Terkait biaya, pembelian kepala naga Rp 500 ribu, beli kardus bekas Rp 400 ribu, ditambah biaya lain. Total pembuatan menghabiskan dana hampir Rp 2 juta. Biaya tersebut berasal dari iuran para pemuda setempat dan dari donator.
”Selama dua tahun kemarin kami tidak membuat karena pandemi Covid-19. Untuk tahun ini karena Covid-19 sudah mereda kami buat lagi. Untuk izin arak-arakan diperbolehkan hanya di desa sendiri,” tandasnya.
Hal yang sama diungkapkan Suparnyo, warga RT 8/RW 1, Dusun Karangnongko, Desa Toko. Dia dan pemuda sekitar membuat replika burung merak. Proses pembuatan sudah dilakukan lima hari dengan melibatkan lebih dari 10 orang. Bahan yang digunakan dari bambu, kertas semen, kardus, lem kertas, dan lampu. Pembuatan dilakukan saat malam hari setelah Salat Tarawih. ”Untuk biaya pembuatan menghabiskan Rp 1,5 juta berasal dari iuran warga,” ujarnya. (mun/lin) Editor : Ali Mustofa