Kasi Penanganan Sampah DLH Grobogan Noer Rochman mengatakan, selama setahun ada 150-an panggilan dari masyarakat yang membutuhkan penyedotan septic tank di luar jadwal. Mesti begitu, jumlah tersebut masih jauh dari target.
“Kami ada data masyarakat yang sudah melewati tiga tahun atau lebih pemasangan septic tank, mereka sudah terjadwal namun enggan menguras. Saat ini L2T3 didominasi masyarakat dari kalangan swasta,” ungkapnya.
Adanya program tersebut dimaksud agar masyarakat menyedot septic tank secara rutin setiap tiga tahun sekali. Selama ini masih banyak perilaku tidak sehat masyarakat, dengan melakukan pengurasan namun membuang di sungai.
“Kemarin saat di Desa Dimoro, Kecamatan Toroh ada yang mengakui melakukan sedot septic tank, tapi malah di buang di sungai dekat rumah. Sama saja mencemari lingkungan. Harapan kami dengan program ini lumpur tinja di buang di IPLT TPA Ngembak. Sehingga aman bagi lingkungan,” paparnya.
DLH berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya sedot septic tank minimal tiga tahun sekali agar mengurangi pencemaran lingkungan. Sehingga bisa menekan serendah-rendahnya tingkat pencemaran air tanah dari bakteri Escherichian Coli (e-coli).
“Bukan hanya berpengaruh ke penceraan seperti diare, pencemaran itu juga mengakibakan stunting dan berpengaruh ke sanitasi,” paparnya.
Untuk menekan pencemaran itu, masyarakat dapat memanggil petugas ke rumah untuk penyedotan lumpur tinja. Layanan ini dipatok tarif operasional Rp 220 ribu, untuk kota tidak dikenakan tarif tambahan. Apalagi di luar Kota Purwodadi kami hitung per jarak. Per kilometer ditambah Rp 1000. Kalau pulang-pergi (PP) dikalikan dua. Untuk biaya pengoperasionalan kendaraan,” paparnya.
Selama ini lumpur tinja yang masuk Instalansi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngembak hanya dimanfaatkan menjadi kompos. Ke depan, selain dimanfaatkan menjadi biogas juga mulai dioptimalkan untuk layanan on-calling tersebut. (int/mal) Editor : Kholid Hazmi