alexametrics
23.2 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Dinas Kesehatan Sebut Angka Stunting di Grobogan Turun 9,6 Persen

GROBOGAN – Sempat tinggi angka kasus stunting di Kabupaten Grobogan dengan prevalensi 29,13 persen. Dinkes Grobogan menyebut, kini prevalensi stunting turun menjadi 9,6 persen.

Kepala Dinkes Grobogan Slamet Widodo melalui Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Agus Setijorini mengatakan, tahun lalu petugas kesehatan dan enumerator melakukan survei studi status gizi Indonesia (SSGI) selama dua tahap. Dilakukan secara random sampling di 16 kecamatan dan 19 desa. Setiap desa dipilih 10 rumah tangga, dengan usia balita 0-59 bulan.

”Usia yang disurvei 0-5 tahun tepat saat dilaksanakan survei. Jadi jika ada yang lebih dari lima tahun tidak diikutkan,” ungkapnya.


Dari hasil survei tersebut, prevalensi angka kasus stunting yang semula 29,13 persen turun menjadi 9,6 persen. Turun sebanyak 19,53. Jumlah tersebut juga menjadikan Kabupaten Grobogan diurutan terakhir kasus stunting se-Jateng.

Tak hanya itu, sebelumnya desa locus stunting di Kabupaten Grobogan sebanyak 15 desa. Pada 2022 nanti bertambah menjadi 21 desa locus stunting yang memiliki prevalensi di atas 14 persen. ”Penetapan desa locus ini dilakukan pada Mei 2021 lalu, berdasarkan data pada penimbangan serentak Desember 2020. Sehingga desa locus stunting tahun depan menjadi 21 desa,” paparnya.

Sebanyak 21 desa tersebut menyebar di Kecamatan Tanggungharjo di Desa Sugihmanik, Geyer di Desa Sobo, Pulokulon di Desa Sidorejo, Kradenan di Desa Crewek dan Tanjungsari, Gabus di Desa Keyongan dan Suwatu, Brati di Desa Temon, Lemah Putih dan Tirem, Klambu di Desa Menawan, Trekesi, Jenengan dan Wandankemiri dan Godong di Desa Klampok, Ketitang, Bringin, Rajek, Harjowinangun dan Wanutunggal.

Baca Juga :  Kapolres Grobogan Ajak Jajarannya Bijak Gunakan Medsos

Penurunan angka stunting ini didukung 30 puskesmas dengan berbagai program yang mereka jalankan. Kenyataannya mampu menjadikan Kabupaten Grobogan diurutan stunting terakhir SSGI 2021.

”Program yang ada di puskesmas sangat inovatif. Ada yang memiliki program cooking class, di mana orangtua memasak makanan bergizi yang langsung dikasihkan ke balitanya di tempat itu juga,” imbuhnya.

Menurutnya, saat ini Dinkes melakukan upaya penurunan stunting dengan menggalakkan 9 pesan pokok 1000 hari pertama kehidupan, pemberian sirup zink sebanyak 549 buah ke bayi baru lahir di 30 puskesmas dengan indikasi panjang badan kurang dari 48 cm (laki-laki) dan kurang dari 47cm (perempuan) sampai umur 1 pekan.

”Kemudian pemberian obat cacing pada bumil trisemester 2 serta pemberian vitamin A pada balita bulan Februari dan Agustus. Ada pemberian tablet tambah darah pada remaja putri sebanyak 22.668 orang. Hingga sosialisasi penggunaan garam beryodium hingga pemberian makanan tambahan (PMT),” jelasnya. (him)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Sempat tinggi angka kasus stunting di Kabupaten Grobogan dengan prevalensi 29,13 persen. Dinkes Grobogan menyebut, kini prevalensi stunting turun menjadi 9,6 persen.

Kepala Dinkes Grobogan Slamet Widodo melalui Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Agus Setijorini mengatakan, tahun lalu petugas kesehatan dan enumerator melakukan survei studi status gizi Indonesia (SSGI) selama dua tahap. Dilakukan secara random sampling di 16 kecamatan dan 19 desa. Setiap desa dipilih 10 rumah tangga, dengan usia balita 0-59 bulan.

”Usia yang disurvei 0-5 tahun tepat saat dilaksanakan survei. Jadi jika ada yang lebih dari lima tahun tidak diikutkan,” ungkapnya.

Dari hasil survei tersebut, prevalensi angka kasus stunting yang semula 29,13 persen turun menjadi 9,6 persen. Turun sebanyak 19,53. Jumlah tersebut juga menjadikan Kabupaten Grobogan diurutan terakhir kasus stunting se-Jateng.

Tak hanya itu, sebelumnya desa locus stunting di Kabupaten Grobogan sebanyak 15 desa. Pada 2022 nanti bertambah menjadi 21 desa locus stunting yang memiliki prevalensi di atas 14 persen. ”Penetapan desa locus ini dilakukan pada Mei 2021 lalu, berdasarkan data pada penimbangan serentak Desember 2020. Sehingga desa locus stunting tahun depan menjadi 21 desa,” paparnya.

Sebanyak 21 desa tersebut menyebar di Kecamatan Tanggungharjo di Desa Sugihmanik, Geyer di Desa Sobo, Pulokulon di Desa Sidorejo, Kradenan di Desa Crewek dan Tanjungsari, Gabus di Desa Keyongan dan Suwatu, Brati di Desa Temon, Lemah Putih dan Tirem, Klambu di Desa Menawan, Trekesi, Jenengan dan Wandankemiri dan Godong di Desa Klampok, Ketitang, Bringin, Rajek, Harjowinangun dan Wanutunggal.

Baca Juga :  Pemudik Masuk Kudus Tak Perlu Karantina, Namun Tetap Diawasi

Penurunan angka stunting ini didukung 30 puskesmas dengan berbagai program yang mereka jalankan. Kenyataannya mampu menjadikan Kabupaten Grobogan diurutan stunting terakhir SSGI 2021.

”Program yang ada di puskesmas sangat inovatif. Ada yang memiliki program cooking class, di mana orangtua memasak makanan bergizi yang langsung dikasihkan ke balitanya di tempat itu juga,” imbuhnya.

Menurutnya, saat ini Dinkes melakukan upaya penurunan stunting dengan menggalakkan 9 pesan pokok 1000 hari pertama kehidupan, pemberian sirup zink sebanyak 549 buah ke bayi baru lahir di 30 puskesmas dengan indikasi panjang badan kurang dari 48 cm (laki-laki) dan kurang dari 47cm (perempuan) sampai umur 1 pekan.

”Kemudian pemberian obat cacing pada bumil trisemester 2 serta pemberian vitamin A pada balita bulan Februari dan Agustus. Ada pemberian tablet tambah darah pada remaja putri sebanyak 22.668 orang. Hingga sosialisasi penggunaan garam beryodium hingga pemberian makanan tambahan (PMT),” jelasnya. (him)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/