alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

30 Sapi Satu Desa di Grobogan Mati dalam Sepekan, Kades: Mayoritas Sapi Merah

GROBOGAN – Sebanyak 30 sapi di Desa Jambangan, Geyer, mati dalam kurun waktu sepekan. Kematian itu, diduga akibat penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab, sebelum mati, sapi-sapi tersebut sakit dengan gejala mirip PMK. Seperti sakit pada mulut, sariawan.

Kepala Desa Jambangan Karyadi menyebut, mayoritas sapi-sapi yang meninggal itu, sapi merah jenis brahmana dan limosin. Sedangkan kematian pada sapi lokal putih minim. ”Kematian itu sekitar satu minggu ini. Sapinya semula terserang sakit di mulut dan kaki,” jelasnya.

Total selama sepekan itu, ada 30 sapi yang mati. Mayoritas sapi hamil tua dan sapi muda atau masih anakan. Semuanya milik petani. Tetapi kasus kematian itu, tak semuanya terlaporkan ke dokter hewan Puskesmas Geyer.


”Kemarin ketika sakit itu, masyarakat sebagian besar sudah lapor ke dokter hewan. Sebagian sudah ditangani dokter hewan. Tetapi sebagian tetap mati,” paparnya.

Dengan adanya kasus kematian itu, warga desanya pun merugi. Hingga kemarin belum ada ganti rugi. Terlebih, harga per ternak mencapai puluhan juta. ”Kemarin ada yang satu ekor sapi seharga Rp 21 juta yang mati,” jelasnya.

Baca Juga :  Miris! Ibu di Grobogan Nekat Ajak Dua Anaknya Bunuh Diri

Dengan kejadian itu, pihaknya mengusulkan agar ada vaksinasi. Namun, hingga kini belum mendapat kuota. Di Kecamatan Geyer yang mendapat vaksinasi baru dua desa. Desa Geyer dan Desa Ledokdawan.

”Kami bertanya kok sini belum dapat vaksin? Dari dinas menyampaikan, jika yang divaksin daerah yang belum terkena,” katanya.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Grobogan Riyanto menyebut, memang ada kasus kematian puluhan sapi itu. Namun, hanya beberapa yang terlaporkan sampai pihaknya. Dari laporan dokter hewan di wilayah tersebut, hanya ada tiga induk sapi dan anakan yang mati. Dua di antaranya, mendadak mati ketika hendak makan. Dengan kondisi bunting.

”Sudah saya kroscek ke dokter hewan yang bertugas di sana. Hasilnya seperti itu. Ini masih kami kroscek lagi kebenarannya. Kata pak lurah memang benar ada 30 sapi mati,” tuturnya.

Dia menambahkan, sebagian warga saat sapinya sakit justru terlebih dahulu lapor ke beberapa mantri hewan dari Kabupaten Sragen. Di antaranya, Suwardi, Sutrisno, dan Heri. ”Bukan langsung melapor ke dokter hewan Puskesmas Geyer,” imbuhnya. (tos/lin)

GROBOGAN – Sebanyak 30 sapi di Desa Jambangan, Geyer, mati dalam kurun waktu sepekan. Kematian itu, diduga akibat penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab, sebelum mati, sapi-sapi tersebut sakit dengan gejala mirip PMK. Seperti sakit pada mulut, sariawan.

Kepala Desa Jambangan Karyadi menyebut, mayoritas sapi-sapi yang meninggal itu, sapi merah jenis brahmana dan limosin. Sedangkan kematian pada sapi lokal putih minim. ”Kematian itu sekitar satu minggu ini. Sapinya semula terserang sakit di mulut dan kaki,” jelasnya.

Total selama sepekan itu, ada 30 sapi yang mati. Mayoritas sapi hamil tua dan sapi muda atau masih anakan. Semuanya milik petani. Tetapi kasus kematian itu, tak semuanya terlaporkan ke dokter hewan Puskesmas Geyer.

”Kemarin ketika sakit itu, masyarakat sebagian besar sudah lapor ke dokter hewan. Sebagian sudah ditangani dokter hewan. Tetapi sebagian tetap mati,” paparnya.

Dengan adanya kasus kematian itu, warga desanya pun merugi. Hingga kemarin belum ada ganti rugi. Terlebih, harga per ternak mencapai puluhan juta. ”Kemarin ada yang satu ekor sapi seharga Rp 21 juta yang mati,” jelasnya.

Baca Juga :  Enam Sekolah Adiwiyata di Grobogan Maju Tingkat Provinsi, Mana Saja?

Dengan kejadian itu, pihaknya mengusulkan agar ada vaksinasi. Namun, hingga kini belum mendapat kuota. Di Kecamatan Geyer yang mendapat vaksinasi baru dua desa. Desa Geyer dan Desa Ledokdawan.

”Kami bertanya kok sini belum dapat vaksin? Dari dinas menyampaikan, jika yang divaksin daerah yang belum terkena,” katanya.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Grobogan Riyanto menyebut, memang ada kasus kematian puluhan sapi itu. Namun, hanya beberapa yang terlaporkan sampai pihaknya. Dari laporan dokter hewan di wilayah tersebut, hanya ada tiga induk sapi dan anakan yang mati. Dua di antaranya, mendadak mati ketika hendak makan. Dengan kondisi bunting.

”Sudah saya kroscek ke dokter hewan yang bertugas di sana. Hasilnya seperti itu. Ini masih kami kroscek lagi kebenarannya. Kata pak lurah memang benar ada 30 sapi mati,” tuturnya.

Dia menambahkan, sebagian warga saat sapinya sakit justru terlebih dahulu lapor ke beberapa mantri hewan dari Kabupaten Sragen. Di antaranya, Suwardi, Sutrisno, dan Heri. ”Bukan langsung melapor ke dokter hewan Puskesmas Geyer,” imbuhnya. (tos/lin)


Most Read

Artikel Terbaru

/