alexametrics
28.1 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Tak Bingung saat Musim Paceklik

Berkat Lumbung, Warga Nambuhan Grobogan Mandiri Pangan di Desa Sendiri

PUKUL 11.10, lelaki berusia 45 tahun itu pulang dari sawah. Mengayuh sepeda dengan pakaian lusuh dan topi anyaman bambu di kepala. Sementara, tangan kanannya membawa sabit. Ialah Darjo, warga RT 1/RW 2 Dusun Sowan, Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi.

Wajahnya tampak berseri. Di balik balutan keringat mengkilap. Ia tak terlihat lelah. Meski sudah lima jam di sawah. Ia baru saja menjaga tanaman padinya dari burung-burung. Menurutnya tanaman tersebut sekitar dua minggu lagi siap panen. Bulirnya sudah menguning. Tetapi belum merata.

Sembari menunggu siap panen, ia akan menghitung hari untuk wiwit, yakni ritual yang dilakukan sebelum panen dengan cara memotong beberapa padi sebagai simbol. Untuk menghitung, ia biasanya memakai biji jagung atau kerikil.


Dari hasil hitungannya akan ditemukan arah. Arah mata angin itu yang menjadi patokan kala memulai panen. Ini adalah persiapan panen atas hasil tanam ke dua (MT II).

Tujuh tahun lalu sebelum ikut menjadi anggota Lumbung Pangan Sri Sadono Desa Nambuhan, ketika masa tunggu panen (warga biasa menyebut masa paceklik) ia tak di rumah. Pergi merantau untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga. Sebab, hasil panen hampir selalu habis dijual. Menyisakan tiga sampai empat karung saja. Yang biasanya sudah habis setelah sebulan masa tanam. Sehingga, pada bulan berikutnya hingga panen, hasil panen habis.

“Terpaksa dijual untuk membalikkan modal tanam. Kalau padi hasil panen disimpan semua, nanti tak dapat uang. Tidak bisa mengembalikkan modal,” jelasnya.

Meski mendapatkan uang dari hasil rantau, hal itu kadang berdampak buruk. Sebab, biasanya padinya tak begitu terawat. Dampaknya hasil panen tak maksimal.
Tetapi, semenjak menjadi anggota lumbung pangan, ia tak lagi merantau saat masa paceklik. Karena meski belum panen, ia tetap bisa makan. Cukup meminjam gabah di lumbung. Yang bisa diganti kala musim panen nantinya.

“Musim ini saya pinjam dua kwintal gabah dari lumbung. Nanti diganti setelah panen,” jelasnya.

Dari gabah yang dipinjam itulah ia bersama keluarganya makan. Sehingga, tak perlu bersusah payah merantau. Saat-saat merantau itu kini diganti dengan rutinitas ke sawah. Sehingga bisa merawat tanamannya dengan lebih baik.

Berkat lumbung pangan itu pula, Darjo melewati masa krisis tatkala panenya empat tahun lalu sempat gagal. Karena terserang penyakit merah. Meski demikian, ia tetap bisa makan beras berkat meminjam gabah dari lumbung itu.

“Alhamdulillah pasca gagal itu, pada panen berikutnya membaik. Dan bisa mengganti,” jelasnya.

Kepala Dusun Sowan Desa Nambuhan Sundoyo menyebut semula warga enggan terlibat dalam sistem lumbung pangan itu. Namun pelan tapi pasti, warga yang menaruh dan terlibat dalam lumbung bertambah.

“Asal usul Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan bersumber dari perkembangan Kelompok Tani Makaryo Desa Nambuhan. Pada tanggal 21 April 2006 ada pertemuan kelompok Tani Makaryo dengan anggota sebanyak 65. Sejak saat itu lumbung mulai dicetuskan,” jelasnya.Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan sejak awal menurutnya didesain sebagai sumber atau wadah pangan untuk mengantisipasi kekurangan pangan pada masa paceklik MT I dan MT II serta kala gagal panen.

“Pada 2006 itu gagasan untuk mendirikan lumbung dengan kesepakatan per-anggota mengisi kas berupa gabah sebanyak 10 kg dan uang kas Rp. 10.000,” terangnya.

OLAH: Proses penggilingan gabah menjadi beras. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Pada perkembangannya, 2010, Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan mendapat bantuan bangunan fisik berupa gudang dari dana alokasi khusus (DAK) Bidang Pertanian Kementrian Pertanian tahun anggaran 2010. Bersamaan dengan bantuan itu, anggota Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan mengeluarkan kas sebesar Rp. 12.500.000,00 untuk membeli tanah seluas 8,5×40 m. Tanah yang dibeli itu sebagai lokasi berdirinya bangunan lumbung.

“Pada 2012 kelompok kami mendapat bantuan bansos sebesar Rp. 20.000.000. Dana itu digunakan untuk pengisian lumbung. Dan pada waktu itu kelompok kami bertambah menjadi 108 orang,” paparnya.

Makin berkembangnya Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan membuat masyarakat yang terlibat bertambah, seiring kebermanfaatan yang dirasakan. Pada 2017 anggota kelompok menjadi 176 orang. Sementara kini, 2022, menjadi 208.

“Saat ini stok Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan mencapai 20 ton. Yang terdiri cadangan 5 ton. Dan yang dipinjam anggota 15 ton. Serta untuk SHU tahunan 5 ton,” katanya.

Sundoyo menambahkan, jika kini aset lumbung pangan Sri Sadono Desa Nambuhan juga terus bertambah. Itu terdiri dari gedung lumbung satu unit yang berasal dari swadaya kelompok dengan nominal Rp 150 juta. Kemudian penggiling gabah satu unit yang berasal dari bantuan pemerintah senilai Rp 125 juta. Dan gabah sebesar 20 ton berasal dari investasi swadaya. Atau senilai Rp 100 juta. Sehingga bila dikalkulasi menjadi Rp 375 juta.

Baca Juga :  Masih Ada 147.657 Rumah Tak Layak Huni di Grobogan

Menurutnya, semenjak ada lumbung tersebut masyarakat tak lagi kekurangan pangan. Sebab kala panenya habis, warga tinggal meminjam. Begitupula kala ada warga yang gagal panen.

Kelebihan lainnya, warga diberi kelonggaran waktu pengembalian. Bisa sekali setelah masa tanam, setahun, dua tahun, dan seterusnya. Tergantung kemampuan warga untuk mengembalikan.

“Tujuannya kan agar warga tidak kekurangan pangan. Jadi ya fleksibel pengembaliannya. Tidak memaksa,” imbuhnya.

Keuntungan lain, masyarakat yang ikut menjadi anggota bisa mendapat sisa hasil usaha (SHU) layaknya koperasi. SHU itu diperoleh dari usaha yang dikelola bersama. Yakni penggilingan gabah menjadi beras. Sementara untuk warga lainnya, terutama yang kurang mampu mendapat zakat.

“Kami di sini juga mengumpulkan zakat pertanian. Di lumbung ini ada pengelola namanya unit pengumpul zakat (UPZ) pertanian. Sudah berjalan setahun setengah ini. Hasil pengumpulan dibagikan ke warga kurang mampu di akhir tahun. Warga yang miskin dapat 10 kilogram beras. Kalau anggota dapat lima kilogram,” paparnya.

Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan Kaswadi menyebut Lumbung Pangan Sri Sadono Desa Nambuhan itu menjadi salah satu percontohan dari sepuluh lumbung yang dijadikan pilot project sebagai Lumbung Pangan Reborn.
“Total sebenarnya ada 116 lumbung pangan di Grobogan. Sepuluh desa kami jadikan percontohan sebagai lumbung pangan reborn,” paparnya.

Sepuluh Desa itu meliputi Desa Kemiri, Kecamatan Gubug; Desa Pulongrambe, Kecamatan Tawangharjo; Desa Mojorebo, Kecamatan Wirosari; Desa Sarirejo, Kecamatan Ngaringan; Desa Sengonwetan, Kecamatan Keradenan; Desa Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon; Desa Suru, Kecamatan Geyer; Desa Genengngadal, Kecamatan Toroh; Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh; dan Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi.

“Dalam lumbung pangan reborn ini ada inovasi dan modifikasi dari fungsi lumbung pangan pada umumnya. Jika dulu hanya menyimpan hasil panen. Kini ada penambahan tiga fungsi. Kami tingkatkan,” tambahnya.

Pertama, yakni meningkatkan lumbung pangan sebagai unit pengumpul zakat (UPZ) pertanian. Dengan sistem lumbung pangan reborn itu, petani juga dapat menyalurkan zakat pertanian.

“Di situ ada yang mengelola. Yakni pengelola UPZ. Yang kemudian nantinya dikelola dan bisa disalurkan ke masyarakat yang membutuhkan,” tambahnya.

Kedua, yakni penambahan fungsi usaha. Lumbung pangan dapat memproses hasil panen menjadi beras dan bahan setengah jadi lainnya, untuk kemudian diteruskan dalam skema bisnis. Misalnya bekerjasama dengan Bumdes, pemerintah hingga swasta dalam pengadaan barang.

“Berikutnya yakni sistem resi gudang. Petani dapat menitipkan hasil panen di situ. Kemudian mendapatkan resi. Dan itu bisa dijadikan jaminan agunan di bank,” terangnya.
Dengan model demikian petani bisa menunda penjualan kala panen. Sebab acapkali harga hasil pertanian anjlok ketika panen. Dan dapat menjual hasil panennya saat harga tinggi.

SIAP JUAL: Proses pengemasan beras hasil giling ke dalam kemasan lima kilo yang akan dipasarkan. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Sistem resi gudang pada lumbung pangan reborn di tingkat desa terintegrasi dengan sistem resi gudang (SRG) yang sebelumnya sudah berjalan dan dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang terpusat di Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari dan sempat mendapatkan penghargaan sebagai TOP 45 dalam kompetisi inovasi pelayanan publik (KIPP).

“Di desa sifatnya mengumpulkan yang terdekat. Kalau di lumbung desa tak muat nantinya bisa dikumpulkan ke SRG,” paparnya.

Sekda Grobogan Moh. Soemarsono menyebut, lumbung pangan reborn Kabupaten Grobogan yang digarap Dinas Ketahanan Pangan tersebut kini masuk dalam 99 besar nasional TOP inovasi pelayanan publik yang diumumkan pada 13 Juni lalu. Kompetisi itu diselenggarakan Kementerian Pendayaguunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).

Pihaknya bersama jajaran dan OPD terkait kini tengah bersiap agar inovasi itu kembali masuk pada TOP 45. Sebagaimana yang pernah diraih Kabupaten Grobogan pada 2020 lalu. Lewat inovasi sistem resi gudang (SRG). “Kami rapatkan, sebab pada tanggal 4 Juli nanti maju lagi lomba ke tahap berikutnya. Kami siapkan lagi lumbung pangan reborn yang sudah masuk 99 besar ini,” jelasnya. (tos)






Reporter: Eko Santoso

PUKUL 11.10, lelaki berusia 45 tahun itu pulang dari sawah. Mengayuh sepeda dengan pakaian lusuh dan topi anyaman bambu di kepala. Sementara, tangan kanannya membawa sabit. Ialah Darjo, warga RT 1/RW 2 Dusun Sowan, Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi.

Wajahnya tampak berseri. Di balik balutan keringat mengkilap. Ia tak terlihat lelah. Meski sudah lima jam di sawah. Ia baru saja menjaga tanaman padinya dari burung-burung. Menurutnya tanaman tersebut sekitar dua minggu lagi siap panen. Bulirnya sudah menguning. Tetapi belum merata.

Sembari menunggu siap panen, ia akan menghitung hari untuk wiwit, yakni ritual yang dilakukan sebelum panen dengan cara memotong beberapa padi sebagai simbol. Untuk menghitung, ia biasanya memakai biji jagung atau kerikil.

Dari hasil hitungannya akan ditemukan arah. Arah mata angin itu yang menjadi patokan kala memulai panen. Ini adalah persiapan panen atas hasil tanam ke dua (MT II).

Tujuh tahun lalu sebelum ikut menjadi anggota Lumbung Pangan Sri Sadono Desa Nambuhan, ketika masa tunggu panen (warga biasa menyebut masa paceklik) ia tak di rumah. Pergi merantau untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga. Sebab, hasil panen hampir selalu habis dijual. Menyisakan tiga sampai empat karung saja. Yang biasanya sudah habis setelah sebulan masa tanam. Sehingga, pada bulan berikutnya hingga panen, hasil panen habis.

“Terpaksa dijual untuk membalikkan modal tanam. Kalau padi hasil panen disimpan semua, nanti tak dapat uang. Tidak bisa mengembalikkan modal,” jelasnya.

Meski mendapatkan uang dari hasil rantau, hal itu kadang berdampak buruk. Sebab, biasanya padinya tak begitu terawat. Dampaknya hasil panen tak maksimal.
Tetapi, semenjak menjadi anggota lumbung pangan, ia tak lagi merantau saat masa paceklik. Karena meski belum panen, ia tetap bisa makan. Cukup meminjam gabah di lumbung. Yang bisa diganti kala musim panen nantinya.

“Musim ini saya pinjam dua kwintal gabah dari lumbung. Nanti diganti setelah panen,” jelasnya.

Dari gabah yang dipinjam itulah ia bersama keluarganya makan. Sehingga, tak perlu bersusah payah merantau. Saat-saat merantau itu kini diganti dengan rutinitas ke sawah. Sehingga bisa merawat tanamannya dengan lebih baik.

Berkat lumbung pangan itu pula, Darjo melewati masa krisis tatkala panenya empat tahun lalu sempat gagal. Karena terserang penyakit merah. Meski demikian, ia tetap bisa makan beras berkat meminjam gabah dari lumbung itu.

“Alhamdulillah pasca gagal itu, pada panen berikutnya membaik. Dan bisa mengganti,” jelasnya.

Kepala Dusun Sowan Desa Nambuhan Sundoyo menyebut semula warga enggan terlibat dalam sistem lumbung pangan itu. Namun pelan tapi pasti, warga yang menaruh dan terlibat dalam lumbung bertambah.

“Asal usul Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan bersumber dari perkembangan Kelompok Tani Makaryo Desa Nambuhan. Pada tanggal 21 April 2006 ada pertemuan kelompok Tani Makaryo dengan anggota sebanyak 65. Sejak saat itu lumbung mulai dicetuskan,” jelasnya.Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan sejak awal menurutnya didesain sebagai sumber atau wadah pangan untuk mengantisipasi kekurangan pangan pada masa paceklik MT I dan MT II serta kala gagal panen.

“Pada 2006 itu gagasan untuk mendirikan lumbung dengan kesepakatan per-anggota mengisi kas berupa gabah sebanyak 10 kg dan uang kas Rp. 10.000,” terangnya.

OLAH: Proses penggilingan gabah menjadi beras. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Pada perkembangannya, 2010, Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan mendapat bantuan bangunan fisik berupa gudang dari dana alokasi khusus (DAK) Bidang Pertanian Kementrian Pertanian tahun anggaran 2010. Bersamaan dengan bantuan itu, anggota Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan mengeluarkan kas sebesar Rp. 12.500.000,00 untuk membeli tanah seluas 8,5×40 m. Tanah yang dibeli itu sebagai lokasi berdirinya bangunan lumbung.

“Pada 2012 kelompok kami mendapat bantuan bansos sebesar Rp. 20.000.000. Dana itu digunakan untuk pengisian lumbung. Dan pada waktu itu kelompok kami bertambah menjadi 108 orang,” paparnya.

Makin berkembangnya Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan membuat masyarakat yang terlibat bertambah, seiring kebermanfaatan yang dirasakan. Pada 2017 anggota kelompok menjadi 176 orang. Sementara kini, 2022, menjadi 208.

“Saat ini stok Lumbung Sri Sadono Desa Nambuhan mencapai 20 ton. Yang terdiri cadangan 5 ton. Dan yang dipinjam anggota 15 ton. Serta untuk SHU tahunan 5 ton,” katanya.

Sundoyo menambahkan, jika kini aset lumbung pangan Sri Sadono Desa Nambuhan juga terus bertambah. Itu terdiri dari gedung lumbung satu unit yang berasal dari swadaya kelompok dengan nominal Rp 150 juta. Kemudian penggiling gabah satu unit yang berasal dari bantuan pemerintah senilai Rp 125 juta. Dan gabah sebesar 20 ton berasal dari investasi swadaya. Atau senilai Rp 100 juta. Sehingga bila dikalkulasi menjadi Rp 375 juta.

Baca Juga :  Tracing Belum Maksimal, PPKM Grobogan Masih Level 2

Menurutnya, semenjak ada lumbung tersebut masyarakat tak lagi kekurangan pangan. Sebab kala panenya habis, warga tinggal meminjam. Begitupula kala ada warga yang gagal panen.

Kelebihan lainnya, warga diberi kelonggaran waktu pengembalian. Bisa sekali setelah masa tanam, setahun, dua tahun, dan seterusnya. Tergantung kemampuan warga untuk mengembalikan.

“Tujuannya kan agar warga tidak kekurangan pangan. Jadi ya fleksibel pengembaliannya. Tidak memaksa,” imbuhnya.

Keuntungan lain, masyarakat yang ikut menjadi anggota bisa mendapat sisa hasil usaha (SHU) layaknya koperasi. SHU itu diperoleh dari usaha yang dikelola bersama. Yakni penggilingan gabah menjadi beras. Sementara untuk warga lainnya, terutama yang kurang mampu mendapat zakat.

“Kami di sini juga mengumpulkan zakat pertanian. Di lumbung ini ada pengelola namanya unit pengumpul zakat (UPZ) pertanian. Sudah berjalan setahun setengah ini. Hasil pengumpulan dibagikan ke warga kurang mampu di akhir tahun. Warga yang miskin dapat 10 kilogram beras. Kalau anggota dapat lima kilogram,” paparnya.

Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan Kaswadi menyebut Lumbung Pangan Sri Sadono Desa Nambuhan itu menjadi salah satu percontohan dari sepuluh lumbung yang dijadikan pilot project sebagai Lumbung Pangan Reborn.
“Total sebenarnya ada 116 lumbung pangan di Grobogan. Sepuluh desa kami jadikan percontohan sebagai lumbung pangan reborn,” paparnya.

Sepuluh Desa itu meliputi Desa Kemiri, Kecamatan Gubug; Desa Pulongrambe, Kecamatan Tawangharjo; Desa Mojorebo, Kecamatan Wirosari; Desa Sarirejo, Kecamatan Ngaringan; Desa Sengonwetan, Kecamatan Keradenan; Desa Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon; Desa Suru, Kecamatan Geyer; Desa Genengngadal, Kecamatan Toroh; Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh; dan Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi.

“Dalam lumbung pangan reborn ini ada inovasi dan modifikasi dari fungsi lumbung pangan pada umumnya. Jika dulu hanya menyimpan hasil panen. Kini ada penambahan tiga fungsi. Kami tingkatkan,” tambahnya.

Pertama, yakni meningkatkan lumbung pangan sebagai unit pengumpul zakat (UPZ) pertanian. Dengan sistem lumbung pangan reborn itu, petani juga dapat menyalurkan zakat pertanian.

“Di situ ada yang mengelola. Yakni pengelola UPZ. Yang kemudian nantinya dikelola dan bisa disalurkan ke masyarakat yang membutuhkan,” tambahnya.

Kedua, yakni penambahan fungsi usaha. Lumbung pangan dapat memproses hasil panen menjadi beras dan bahan setengah jadi lainnya, untuk kemudian diteruskan dalam skema bisnis. Misalnya bekerjasama dengan Bumdes, pemerintah hingga swasta dalam pengadaan barang.

“Berikutnya yakni sistem resi gudang. Petani dapat menitipkan hasil panen di situ. Kemudian mendapatkan resi. Dan itu bisa dijadikan jaminan agunan di bank,” terangnya.
Dengan model demikian petani bisa menunda penjualan kala panen. Sebab acapkali harga hasil pertanian anjlok ketika panen. Dan dapat menjual hasil panennya saat harga tinggi.

SIAP JUAL: Proses pengemasan beras hasil giling ke dalam kemasan lima kilo yang akan dipasarkan. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Sistem resi gudang pada lumbung pangan reborn di tingkat desa terintegrasi dengan sistem resi gudang (SRG) yang sebelumnya sudah berjalan dan dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang terpusat di Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari dan sempat mendapatkan penghargaan sebagai TOP 45 dalam kompetisi inovasi pelayanan publik (KIPP).

“Di desa sifatnya mengumpulkan yang terdekat. Kalau di lumbung desa tak muat nantinya bisa dikumpulkan ke SRG,” paparnya.

Sekda Grobogan Moh. Soemarsono menyebut, lumbung pangan reborn Kabupaten Grobogan yang digarap Dinas Ketahanan Pangan tersebut kini masuk dalam 99 besar nasional TOP inovasi pelayanan publik yang diumumkan pada 13 Juni lalu. Kompetisi itu diselenggarakan Kementerian Pendayaguunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).

Pihaknya bersama jajaran dan OPD terkait kini tengah bersiap agar inovasi itu kembali masuk pada TOP 45. Sebagaimana yang pernah diraih Kabupaten Grobogan pada 2020 lalu. Lewat inovasi sistem resi gudang (SRG). “Kami rapatkan, sebab pada tanggal 4 Juli nanti maju lagi lomba ke tahap berikutnya. Kami siapkan lagi lumbung pangan reborn yang sudah masuk 99 besar ini,” jelasnya. (tos)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/