alexametrics
25.6 C
Kudus
Monday, June 27, 2022

Bidik Adipura, DLH Grobogan Mulai Percantik Kota dan Kelola Bank Sampah

GROBOGAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan menargetkan bisa meraih kembali piala Adipura. Lantaran sudah sembilan tahun tak diraih. Untuk itu DLH fokus pembenahan, mulai dari mempercantik kota, memanfaatkan TPA dan mengelola bank sampah.

Selama ini, Kabupaten Grobogan berhasil meraih piala Adipura sebanyak empat kali. Yakni, pada 2019, 2010, 2012 dan 2013. Kemudian terakhir pelaksanaan itu digelar pada 2016, namun tak membuahkan hasil.

Berbagai upaya kini kembali dilakukan untuk bisa meraih kembali penghargaan itu.


“Penghargaan Adipura kali terakhir kami dapat pada 2013. Syarat sebelumnya, Adipura cuma dilihat kondisi eksisting di daerah. Apakah daerah itu bersih atau tidak, memiliki TPA yang terawat atau tidak. Tetapi sekarang, melalui Jakstrada jadi pegangan utama untuk menilai daerah. Jakstrada ini berkelanjutan sampai 2025 nanti,” katanya.

Bobot paling besar dalam kebijakan dan strategi daerah pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga (Jakstrada) TPA yakni 11 poin. “Karena sejak 2017 kami sudah memiliki TPA di Ngembak, Kecamatan Purwodadi, tinggal memanfaatkannya,” imbuhnya.

Saat ini pemanfaatan TPA sudah dilakukan semaksimal mungkin melalui pengelolaan maggot, IPAL, IPLT dan kompos. Kemudian dalam syarat penilaian Jakstrada, 70 persen harus dipakai untuk penanganan sampah dan 30 persen untuk pengurangan sampah.

Baca Juga :  TPA Landoh Rembang Masih Jadi Momok untuk Dapatkan Adipura

Selain itu pengelolaan sampah di TPS 3R hingga mengoptimalkan bank sampah yang akan terus diperluas hingga ke desa-desa. “Bank sampah mampu mengurangi sampah sekitar 10 persen. Selama setahun ini kami sudah memiliki sekitar 80-an bank sampah yang menyebar di setiap kecamatan hingga desa. Dengan harapan akan meluas hingga ke 280 desa/kelurahan,” paparnya.

Upaya lain yang dilakukan DLH antaranya mulai merubah wajah kota dan taman pembatas kota. Saat ini DLH membagi tim untuk melakukan pengecekan ke sejumlah tempat tersebut.

“Kemudian pengolahan sampah, kami meminta pengelola TPS 3R untuk mencatat secara rinci sampah yang masuk setiap harinya, volume sampah, catatan sampah yang diolah (kompos, daur ulang), residu, hingga sampah yang tidak dapat diolah. Kemudian sampah yang sudah diolah akan didistribusikan ke mana.

Meski rumit, namun harus mulai diterapkan melakukan pencatatan sampah masuk. Dimulai dari sumber sampah yakni di setiap perkantoran, pasar hingga berbagai tempat pengolahan sampah tersebut.

“Kami akan terus mengoptimalkan dan memenuhi segala kekurangan ini, sehingga kami bisa mendapatkan hasil maksimal di Adipura. Namun tak mudah, tentunya harus dilakukan secara bertahap. Karena butuh sinergitas seluruh kolega dan masyarakat,” ujarnya. (int/mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan menargetkan bisa meraih kembali piala Adipura. Lantaran sudah sembilan tahun tak diraih. Untuk itu DLH fokus pembenahan, mulai dari mempercantik kota, memanfaatkan TPA dan mengelola bank sampah.

Selama ini, Kabupaten Grobogan berhasil meraih piala Adipura sebanyak empat kali. Yakni, pada 2019, 2010, 2012 dan 2013. Kemudian terakhir pelaksanaan itu digelar pada 2016, namun tak membuahkan hasil.

Berbagai upaya kini kembali dilakukan untuk bisa meraih kembali penghargaan itu.

“Penghargaan Adipura kali terakhir kami dapat pada 2013. Syarat sebelumnya, Adipura cuma dilihat kondisi eksisting di daerah. Apakah daerah itu bersih atau tidak, memiliki TPA yang terawat atau tidak. Tetapi sekarang, melalui Jakstrada jadi pegangan utama untuk menilai daerah. Jakstrada ini berkelanjutan sampai 2025 nanti,” katanya.

Bobot paling besar dalam kebijakan dan strategi daerah pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga (Jakstrada) TPA yakni 11 poin. “Karena sejak 2017 kami sudah memiliki TPA di Ngembak, Kecamatan Purwodadi, tinggal memanfaatkannya,” imbuhnya.

Saat ini pemanfaatan TPA sudah dilakukan semaksimal mungkin melalui pengelolaan maggot, IPAL, IPLT dan kompos. Kemudian dalam syarat penilaian Jakstrada, 70 persen harus dipakai untuk penanganan sampah dan 30 persen untuk pengurangan sampah.

Baca Juga :  Pemkab Grobogan Tambah Kampung Keluarga Berkualitas

Selain itu pengelolaan sampah di TPS 3R hingga mengoptimalkan bank sampah yang akan terus diperluas hingga ke desa-desa. “Bank sampah mampu mengurangi sampah sekitar 10 persen. Selama setahun ini kami sudah memiliki sekitar 80-an bank sampah yang menyebar di setiap kecamatan hingga desa. Dengan harapan akan meluas hingga ke 280 desa/kelurahan,” paparnya.

Upaya lain yang dilakukan DLH antaranya mulai merubah wajah kota dan taman pembatas kota. Saat ini DLH membagi tim untuk melakukan pengecekan ke sejumlah tempat tersebut.

“Kemudian pengolahan sampah, kami meminta pengelola TPS 3R untuk mencatat secara rinci sampah yang masuk setiap harinya, volume sampah, catatan sampah yang diolah (kompos, daur ulang), residu, hingga sampah yang tidak dapat diolah. Kemudian sampah yang sudah diolah akan didistribusikan ke mana.

Meski rumit, namun harus mulai diterapkan melakukan pencatatan sampah masuk. Dimulai dari sumber sampah yakni di setiap perkantoran, pasar hingga berbagai tempat pengolahan sampah tersebut.

“Kami akan terus mengoptimalkan dan memenuhi segala kekurangan ini, sehingga kami bisa mendapatkan hasil maksimal di Adipura. Namun tak mudah, tentunya harus dilakukan secara bertahap. Karena butuh sinergitas seluruh kolega dan masyarakat,” ujarnya. (int/mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/