alexametrics
24.6 C
Kudus
Tuesday, July 5, 2022

Kasihan, Nenek Tuna Netra di Grobogan Tinggal Sendirian di Tanggul Sungai

GROBOGAN – Berbagai macam bantuan mengalir ke Surati, 68, warga Desa/Kecamatan Gubug, nenek tuna netra yang hidup di atas rumah terbuat dari kayu ukuran 2×3 meter di atas tanggul. Dia hidup sendiri dengan kondisi rumah memprihatinkan.

Empat anaknya tinggal di luar kota. Ada yang di Jakarta, Purwodadi  dan Semarang. Mereka sudah berkeluarga dan masih tinggal di kontrakan. Bantuan yang mengalir ke Surati adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa perbulan Rp 200 ribu.

Kemudian bantuan sembako  25 kilogram, susu roti, susu kaleng, sarimi satu dus, telur, semacam roti yang lain 10 dus, sarden dari delapan dari Dinas Sosial. Ia juga mendapat bantuan kasur tempat tidur dari Polsek Gubug, bantuan uang tunai dari Dinas Sosial dan Kecamatan Gubug.


Kepala Desa Gubug Hadi mengatakan, selain memberikan bantuan Dinas Sosial juga menawarkan bantuan untuk tinggal di panti jompo atau di  Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Mental (BRSPDM) Margo Laras Pati. Namun, untuk ke sana harus ada kesepakatan dari keluarga atau anaknya.

”Kemarin kita ada  kesepakatan cari anaknya salah satunya untuk pulang dan membuat surat pernyataan solisi terbaik. Yaitu tanda tangan materai agar bertanggung jawab jika tidak diurus anaknya akan dibawa ke panti jompo. Jika dikemudian ada masalah kasusnya tidak disalahkan,” kata Hadi.

Hadi menjelaskan, bahwa Surati tidak buta tetapi memiliki penyakit katarak. Untuk penyembuhanya nanti akan diusahakan pengobatan lewat BPJS Kesehatan dan anggaran dari pemerintah daerah atau dinas sosial. ”Sebenarnya gak buta. Hanya punya penyakit katarak,” ujarnya.

Ia tidak mempunyai rumah, sebelumnya Surati sudah mempunyai rumah. Kemudian rumah tersebut mendapatkan bantuan RTLH dari desa untuk pada 2016-2017. Material rumah dari kayu. Namun, 2018 rumah itu dijual.

Baca Juga :  Pemkab Grobogan Tak Bisa Berharap Terima Pemasukan Retribusi Terminal

Selanjutnya pergi ke Semarang dan nikah lagi. Saat menikah lagi mendapatkan pertentangan dari anak-anaknya. Hingga hubungan keduanya renggang. Karena dia memilih tinggal bersama suaminya.

”Setelah setahun dia ditinggal suaminya dan balik lagi ke Gubug dan bangun rumah dari kayu di tanggul. Dari Desa sudah menawari membangun di tanah Desa tetapi dia tidak mau,” terang dia.

Kepala Dinas Sosial Grobogan Edi Santoso mengatakan, bantuan yang diberikan untuk membantu meringankan beban hidup Surati. Pihaknya juga menawari Surati untuk tinggal di Panti Rehabilitas Sosial di Kecamatan Purwodadi.

”Untuk bantuan tinggal di panti sosial ini, kami harus minta izin kepada anak-anaknya terlebih dulu. Dari keluarga masih meminta waktu,” kata Edi Santoso.

Menurutnya untuk tinggal dip anti, Surati harus mendapatkan tanda tangan empat anaknya. Jika tidak ada tanda tangan anaknya maka pemerintah daerah bisa dituntut. Selain itu, juga harus ada tanda tangan dari Desa dan Kecamatan.

”Dari anaknya ini ada yang membawanya. Tetapi karena takut membenani maka dia tidak mau,” ujarnya.

Sebelum memutuskan untuk tinggal di atas selokan tersebut, Surati pernah bekerja serabutan di Semarang. Dia naik ojek dari Gubug ke Semarang. Kemudian membuka jasa usaha sol sepatu. Tetapi karena sudah berusia dia berhenti.

”Sementara itu, Camat Gubug Bambang mengatakan, bantuan yang diberikan kepada Surati ada berbagai macam. Mulai sembako, bantuan langsung tunai dan relokasi. (him)






Reporter: Sirojul Munir

GROBOGAN – Berbagai macam bantuan mengalir ke Surati, 68, warga Desa/Kecamatan Gubug, nenek tuna netra yang hidup di atas rumah terbuat dari kayu ukuran 2×3 meter di atas tanggul. Dia hidup sendiri dengan kondisi rumah memprihatinkan.

Empat anaknya tinggal di luar kota. Ada yang di Jakarta, Purwodadi  dan Semarang. Mereka sudah berkeluarga dan masih tinggal di kontrakan. Bantuan yang mengalir ke Surati adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa perbulan Rp 200 ribu.

Kemudian bantuan sembako  25 kilogram, susu roti, susu kaleng, sarimi satu dus, telur, semacam roti yang lain 10 dus, sarden dari delapan dari Dinas Sosial. Ia juga mendapat bantuan kasur tempat tidur dari Polsek Gubug, bantuan uang tunai dari Dinas Sosial dan Kecamatan Gubug.

Kepala Desa Gubug Hadi mengatakan, selain memberikan bantuan Dinas Sosial juga menawarkan bantuan untuk tinggal di panti jompo atau di  Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Mental (BRSPDM) Margo Laras Pati. Namun, untuk ke sana harus ada kesepakatan dari keluarga atau anaknya.

”Kemarin kita ada  kesepakatan cari anaknya salah satunya untuk pulang dan membuat surat pernyataan solisi terbaik. Yaitu tanda tangan materai agar bertanggung jawab jika tidak diurus anaknya akan dibawa ke panti jompo. Jika dikemudian ada masalah kasusnya tidak disalahkan,” kata Hadi.

Hadi menjelaskan, bahwa Surati tidak buta tetapi memiliki penyakit katarak. Untuk penyembuhanya nanti akan diusahakan pengobatan lewat BPJS Kesehatan dan anggaran dari pemerintah daerah atau dinas sosial. ”Sebenarnya gak buta. Hanya punya penyakit katarak,” ujarnya.

Ia tidak mempunyai rumah, sebelumnya Surati sudah mempunyai rumah. Kemudian rumah tersebut mendapatkan bantuan RTLH dari desa untuk pada 2016-2017. Material rumah dari kayu. Namun, 2018 rumah itu dijual.

Baca Juga :  Pati Izinkan Swalayan Dibuka, hanya Jual Sembako dan Obat

Selanjutnya pergi ke Semarang dan nikah lagi. Saat menikah lagi mendapatkan pertentangan dari anak-anaknya. Hingga hubungan keduanya renggang. Karena dia memilih tinggal bersama suaminya.

”Setelah setahun dia ditinggal suaminya dan balik lagi ke Gubug dan bangun rumah dari kayu di tanggul. Dari Desa sudah menawari membangun di tanah Desa tetapi dia tidak mau,” terang dia.

Kepala Dinas Sosial Grobogan Edi Santoso mengatakan, bantuan yang diberikan untuk membantu meringankan beban hidup Surati. Pihaknya juga menawari Surati untuk tinggal di Panti Rehabilitas Sosial di Kecamatan Purwodadi.

”Untuk bantuan tinggal di panti sosial ini, kami harus minta izin kepada anak-anaknya terlebih dulu. Dari keluarga masih meminta waktu,” kata Edi Santoso.

Menurutnya untuk tinggal dip anti, Surati harus mendapatkan tanda tangan empat anaknya. Jika tidak ada tanda tangan anaknya maka pemerintah daerah bisa dituntut. Selain itu, juga harus ada tanda tangan dari Desa dan Kecamatan.

”Dari anaknya ini ada yang membawanya. Tetapi karena takut membenani maka dia tidak mau,” ujarnya.

Sebelum memutuskan untuk tinggal di atas selokan tersebut, Surati pernah bekerja serabutan di Semarang. Dia naik ojek dari Gubug ke Semarang. Kemudian membuka jasa usaha sol sepatu. Tetapi karena sudah berusia dia berhenti.

”Sementara itu, Camat Gubug Bambang mengatakan, bantuan yang diberikan kepada Surati ada berbagai macam. Mulai sembako, bantuan langsung tunai dan relokasi. (him)






Reporter: Sirojul Munir

Most Read

Artikel Terbaru

/