Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Air Waduk Kedungombo Mengalir Lagi, Ini Target Baru Petani Grobogan

I
Penulis: Intan Maylani❯

Advertisement

MENGALIR: Air di Waduk Kedung Ombo mulai dialirkan, Senin (14/9).
MENGALIR: Air di Waduk Kedung Ombo mulai dialirkan, Senin (14/9).

GROBOGAN– Setelah dilanda kekeringan panjang, aliran dari Waduk Kedung Ombo akhirnya kembali dibuka untuk mengairi lahan pertanian di Grobogan.

Pembukaan aliran waduk yang berada di perbatasan Grobogan, Sragen, dan Boyolali itu dilakukan Senin (14/9/2026) sore.

Advertisement

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Wakid Mutowal mengatakan, pasokan air dari Waduk Kedung Ombo menjadi salah satu sumber penting bagi pertanian di wilayahnya.

Sekitar 30 persen kebutuhan pengairan pertanian Grobogan berasal dari waduk tersebut.

“Dari Kedungombo sekitar 30 persen, kemudian dari aliran Sungai Tuntang 20 persen, sisanya tadah hujan,” ujar Wakid.

Advertisement

Menurutnya, secara keseluruhan terdapat sekitar 82 ribu hektare lahan baku sawah (LBS) di Grobogan.

Angka tersebut belum termasuk lahan pertanian yang berada di kawasan Perhutani.

Meski kekeringan berlangsung cukup panjang, sejauh ini kondisi tanaman padi dan jagung di Grobogan relatif aman.

Tidak ditemukan lahan yang mengalami puso atau gagal panen total.

“Puso nol untuk padi, jagung juga nol. Ada spot-spot tanaman jagung yang busuk, tapi itu untuk tanam ketiga. Biasanya sekali bisa panen dua kali, itu sudah tanam ketiga,” jelasnya.

Dibukanya kembali aliran Kedung Ombo pun menjadi momentum bagi Dinas Pertanian Grobogan untuk mendorong petani memaksimalkan masa tanam.

Terutama bagi lahan yang mendapat pasokan air cukup, petani didorong tidak terlalu lama membiarkan sawah menganggur setelah panen.

Wakid menargetkan, lahan dengan dukungan pengairan yang memadai bisa dimanfaatkan untuk mengejar tiga kali panen padi dalam setahun.

Dia menilai, jeda terlalu panjang antara panen dan penanaman kembali justru membuat potensi lahan terbuang. Padahal, dengan pengaturan pola tanam dan ketersediaan air yang cukup, lahan tersebut masih bisa dimanfaatkan.

“Kita dorong agar petani berani tanam lebih awal, jadi nanti bisa panen tiga kali. Itu tidak mudah, karena sudah turun-temurun seperti itu,” katanya.

Menurut Wakid, perubahan pola tanam memang membutuhkan keberanian petani sekaligus dukungan dari pemerintah di tingkat desa dan kecamatan.

Karena itu, pihaknya telah berkomunikasi dengan para kepala desa dan camat untuk ikut menggerakkan petani.

“Kami sudah bertemu kades-kades dan camat, harapannya agar ikut mendorong petani bisa tanam padi tiga kali,” tandasnya.

Dengan kembali mengalirnya air dari Kedungombo, peluang petani untuk memaksimalkan produktivitas lahan pun semakin terbuka.

Tak hanya menyelamatkan tanaman dari ancaman kekeringan, pasokan air juga diharapkan mampu memangkas masa jeda tanam dan menambah peluang panen. (int)

Advertisement

Artikel Terkait

Atasi Banjir, Drainase Terminal Wirosari di Grobogan Akhirnya Dibangun

Atasi Banjir, Drainase Terminal Wirosari di Grobogan Akhirnya Dibangun

GROBOGAN – Persoalan banjir yang kerap terjadi di Terminal Tipe C Wirosari, Kabupaten Grobogan, mulai mendapat penanganan. Dinas Perhubungan (Dishub) Grobogan mengalokasikan anggaran sekitar Rp 390 juta untuk pembangunan

Koramil Gabus Dropping Air Bersih untuk Warga Kekeringan

Koramil Gabus Dropping Air Bersih untuk Warga Kekeringan

TNI dan PMI Droping Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan

Pekan Depan, 18 Ribu Siswa SD Grobogan Bersiap Ikuti Try Out

Pekan Depan, 18 Ribu Siswa SD Grobogan Bersiap Ikuti Try Out

GROBOGAN – Sebanyak lebih dari 18 ribu siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, bersiap mengikuti try out Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada Selasa-Rabu (10-11/11/2026).  Pelaksanaan uji coba tersebu

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer