alexametrics
27.2 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Pegunungan Kendeng Utara Grobogan Gersang, Banjir Bandang Mengintai

GROBOGAN – Bencana banjir bandang menjadi ancaman tersendiri bagi warga di sekitar Pegunungan Kendeng Utara, Grobogan. Untuk menghindari dampak bencana yang semakin parah, memacu stakeholder melakukan penghijauan (reboisasi).

Kini, Pegunungan Kendeng Utara bisa saja sewaktu-waktu memuntahkan bencana banjir bandang. Sedangkan jika musim kemarau, Kendeng tak lagi menyimpan cadangan air yang cukup untuk masyarakat.

Di sejumlah lokasi, hanya terlihat tanah kering dengan bebatuan karst tanpa ada tanaman besar. Bebatuan khas putih kecokelatan itu, tersebar di hampir di seluruh permukaan tanah. Kalau pun ada tanaman, mayoritas jagung.


Di Kabupaten Grobogan, kawasan Pegunungan Kendeng Utara meliputi Kecamatan Klambu, Brati, Grobogan, Tawangharjo, dan Wirosari. Lahan di sana meliputi kawasan lindung, produksi, dan HAS (pelindung setempat).

”Namun, hanya ada dua kawasan produksi dan HAS di Kabupaten Grobogan. Untuk HAS atau hutan alam sekunder merupakan kawasan pelindungan mata air, keragaman hayati, serta flora dan fauna meliputi BKPH Jatipohon (344,85 hektare), Linduk (481,10 hektare), Penganten (623,50 hektare), dan Pojok (60,00 hektare). Dengan total 1609,5 hektare HAS,” jelas KSS Perencanaan SDH Perum Perhutani KPH Purwodadi Aris Supriyanto.

Setiap tahun, penanaman pohon dilakukan Perhutani. Tahun ini, ada 4.184.814 pohon yang disebar di delapan bagian kesatuan pemangku hutan (BKPH) dan 32 resort pemangku hutan (RPH).

Di antaranya di BKPH Penganten dengan RPH Pakem, Trekesi, Prawoto, dan Plosokerep. Kemudian di BKPH Jatipohon meliputi RPH Ngrijo, Randu Kuning, Tegalsumur, Janglengan, Sengkerk dan Sinawah. BKPH Linduk yakni RPH Purwo, Welahan, Mrico, Carat, dan Ploso Senjayan. BKPH Pojok meliputi RPH Kemandohbatur, Karanggetas, Telogomanik, Sambirejo, Siwalan, Sendang Pakelan, dan Godan.

Selanjutnya, BKPH Tumpuk dengan RPH Tumpuk, Anggil-anggil, dan Teges. BKPH Karangasem yakni RPH Karangasem, Peting, Angkatan, dan Tambakselo. Serta, BKPH Bandung meliputi RPH Bandung, Tresemi, Sepreh, dan Pekuwon.

”Perlu komitmen bersama dari semua pihak. Termasuk masyarakat agar konservasi bisa berjalan optimal,” tegasnya.

Baca Juga :  Bahayakan Pengendara, Warga Grobogan Keluhkan Jalan Berlubang

Diungkapkan, jenis tanaman ditanam Perhutani, di antaranya jati, mahoni, randu, nangka, sengon, johar, kayu putih, hingga tanaman biomassa seperti kaliandra dan gamal.

Terpisah, Kabid Prasarana Wilayah dan Ekonomi Bappeda Grobogan Chandra Yulian Pasha menambahkan, minimnya anggaran membuat Pemkab Grobogan susah melakukan konservasi di kawasan hutan.

”Setiap tahun, anggaran yang kami dapat hanya sekitar Rp 100-200 juta. Dipakai untuk membeli bibit dan pupuk. Sedangkan tahun ini nihil. Dipakai untuk konservasi lahan, bekas tambang rakyat, dan sumber mata air,” jelasnya.

Namun, pemkab selama ini memilih konservasi ke lahan pertanian yang berpotensi kritis, seperti di lahan-lahan persawahan dan pekarangan. ”Lebih ke tanaman yang berbuah, seperti alpukat, matoa, nangka, dan jambu air. Tujuannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Serta memudahkan perawatan secara kontinyu,” ungkapnya.

Pemkab juga terkendala anggaran dalam pemberian bibit. Selama ini bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Pemali Juana. Langkahnya, masyarakat mengajukan proposal terlebih dulu baru akan diberi bibit.

”Pegunungan Kendeng Utara ini, juga masuk wilayah hutan produksi. Di bawah Perhutani serta ada beberapa wilayah yang digarap masyarakat. Dengan menanam tanam semusim. Sayangnya mereka rata-rata menanam jagung. Harusnya diseling dengan jati. Namun, karena jagung ketika di sampingnya dinaungi pohon yang lebih besar, maka berbuahnya tidak akan maksimal. Jadi, banyak yang malah mencabut hingga menyemprot (obat pembunuh tanaman) pohon jati tersebut. Ini menjadi kendala sendiri di lapangan,” keluhnya.

Salah satu petani, Rumiah, warga Dusun Manggal, Desa Taruman, Klambu, Grobogan, mengaku sudah lama mengontrak lahan pertanian dari Perhutani. Namun sekitar dua tahun ini, ia mengaku tak bisa panen, sehingga tak bisa setor ke Perhutani.

”Gagal terus setiap mau panen. Karena banyak hama tikus. Sudah hampir dua tahun ini,” keluhnya. (lin)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Bencana banjir bandang menjadi ancaman tersendiri bagi warga di sekitar Pegunungan Kendeng Utara, Grobogan. Untuk menghindari dampak bencana yang semakin parah, memacu stakeholder melakukan penghijauan (reboisasi).

Kini, Pegunungan Kendeng Utara bisa saja sewaktu-waktu memuntahkan bencana banjir bandang. Sedangkan jika musim kemarau, Kendeng tak lagi menyimpan cadangan air yang cukup untuk masyarakat.

Di sejumlah lokasi, hanya terlihat tanah kering dengan bebatuan karst tanpa ada tanaman besar. Bebatuan khas putih kecokelatan itu, tersebar di hampir di seluruh permukaan tanah. Kalau pun ada tanaman, mayoritas jagung.

Di Kabupaten Grobogan, kawasan Pegunungan Kendeng Utara meliputi Kecamatan Klambu, Brati, Grobogan, Tawangharjo, dan Wirosari. Lahan di sana meliputi kawasan lindung, produksi, dan HAS (pelindung setempat).

”Namun, hanya ada dua kawasan produksi dan HAS di Kabupaten Grobogan. Untuk HAS atau hutan alam sekunder merupakan kawasan pelindungan mata air, keragaman hayati, serta flora dan fauna meliputi BKPH Jatipohon (344,85 hektare), Linduk (481,10 hektare), Penganten (623,50 hektare), dan Pojok (60,00 hektare). Dengan total 1609,5 hektare HAS,” jelas KSS Perencanaan SDH Perum Perhutani KPH Purwodadi Aris Supriyanto.

Setiap tahun, penanaman pohon dilakukan Perhutani. Tahun ini, ada 4.184.814 pohon yang disebar di delapan bagian kesatuan pemangku hutan (BKPH) dan 32 resort pemangku hutan (RPH).

Di antaranya di BKPH Penganten dengan RPH Pakem, Trekesi, Prawoto, dan Plosokerep. Kemudian di BKPH Jatipohon meliputi RPH Ngrijo, Randu Kuning, Tegalsumur, Janglengan, Sengkerk dan Sinawah. BKPH Linduk yakni RPH Purwo, Welahan, Mrico, Carat, dan Ploso Senjayan. BKPH Pojok meliputi RPH Kemandohbatur, Karanggetas, Telogomanik, Sambirejo, Siwalan, Sendang Pakelan, dan Godan.

Selanjutnya, BKPH Tumpuk dengan RPH Tumpuk, Anggil-anggil, dan Teges. BKPH Karangasem yakni RPH Karangasem, Peting, Angkatan, dan Tambakselo. Serta, BKPH Bandung meliputi RPH Bandung, Tresemi, Sepreh, dan Pekuwon.

”Perlu komitmen bersama dari semua pihak. Termasuk masyarakat agar konservasi bisa berjalan optimal,” tegasnya.

Baca Juga :  Relawan PMI Grobogan Kirim Logistik ke Korban Erupsi Semeru di Lumajang

Diungkapkan, jenis tanaman ditanam Perhutani, di antaranya jati, mahoni, randu, nangka, sengon, johar, kayu putih, hingga tanaman biomassa seperti kaliandra dan gamal.

Terpisah, Kabid Prasarana Wilayah dan Ekonomi Bappeda Grobogan Chandra Yulian Pasha menambahkan, minimnya anggaran membuat Pemkab Grobogan susah melakukan konservasi di kawasan hutan.

”Setiap tahun, anggaran yang kami dapat hanya sekitar Rp 100-200 juta. Dipakai untuk membeli bibit dan pupuk. Sedangkan tahun ini nihil. Dipakai untuk konservasi lahan, bekas tambang rakyat, dan sumber mata air,” jelasnya.

Namun, pemkab selama ini memilih konservasi ke lahan pertanian yang berpotensi kritis, seperti di lahan-lahan persawahan dan pekarangan. ”Lebih ke tanaman yang berbuah, seperti alpukat, matoa, nangka, dan jambu air. Tujuannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Serta memudahkan perawatan secara kontinyu,” ungkapnya.

Pemkab juga terkendala anggaran dalam pemberian bibit. Selama ini bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Pemali Juana. Langkahnya, masyarakat mengajukan proposal terlebih dulu baru akan diberi bibit.

”Pegunungan Kendeng Utara ini, juga masuk wilayah hutan produksi. Di bawah Perhutani serta ada beberapa wilayah yang digarap masyarakat. Dengan menanam tanam semusim. Sayangnya mereka rata-rata menanam jagung. Harusnya diseling dengan jati. Namun, karena jagung ketika di sampingnya dinaungi pohon yang lebih besar, maka berbuahnya tidak akan maksimal. Jadi, banyak yang malah mencabut hingga menyemprot (obat pembunuh tanaman) pohon jati tersebut. Ini menjadi kendala sendiri di lapangan,” keluhnya.

Salah satu petani, Rumiah, warga Dusun Manggal, Desa Taruman, Klambu, Grobogan, mengaku sudah lama mengontrak lahan pertanian dari Perhutani. Namun sekitar dua tahun ini, ia mengaku tak bisa panen, sehingga tak bisa setor ke Perhutani.

”Gagal terus setiap mau panen. Karena banyak hama tikus. Sudah hampir dua tahun ini,” keluhnya. (lin)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/