alexametrics
22.4 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Kerja Sama Tumpangsari Dihianati Warga

GROBOGAN – Bagian utara Kabupaten Grobogan terpapar pegunungan Kendeng Utara. Meliputi kawasan lindung, produksi, dan hutan alam sekunder (HAS). Reboisasi terus dilakukan setiap tahun, lantaran bagian bawah gunung terus terancam banjir.

Pegunungan Kendeng Utara merupakan bentangan bukit berupa batuan kapur atau karst sekitar 243,70 hektare. Di bawah pengelolaan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi seluas 19.636,5 hektare.

Upaya reboisasi terus dilakukan KPH Purwodadi. Namun, tak semudah membalikkan telapak tangan. Perhutani bekerja sama dengan petani dalam penanaman tumpangsari di lahan Perhutani.


Berbagai kendala dihadapi, seperti kurangnya kesadaran masyarakat. Pengalihan fungsi lahan menjadi ladang tanaman semusim hingga diperparah penambangan batu gamping di sejumlah titik di sisi luar pegunungan.

KSS Pembinaan Sumber Daya Hutan KPH Perhutani Purwodadi Sumaryo mengatakan, Perhutani punya kontrak dengan masyarakat sekitar dua tahun untuk penanaman tumpangsari. Ada perilaku masyarakat yang justru malah merugikan. Dengan melakukan penyemprotan pada tanaman-tanaman milik Perhutani. Sehingga tanaman jati milik Perhutani mati.

Ini karena masyarakat dinilai kurang peduli terhadap kelestarian hutan. Rata-rata mereka memilih tanaman jagung yang bisa dipanen dua kali dalam setahun. ”Kalau panennya jati bisa sampai 20 tahun. Kalau palawija seperti jagung kan bisa setahun sampai dua kali. Jadi, akhirnya memang di sini mayoritas nanam jagung,” keluhnya.

Baca Juga :  Gelar Razia, Petugas Amankan 173 Kilogram Daging Gelonggongan di Grobogan

Perjanjian penanaman itu, dilakukan selama sekitar dua tahun. Perjanjian dilakukan di masa tebang dan dimulainya reboisasi. Sedangkan sambil menunggu penanaman yang biasanya dilakukan pada akhir tahun, petani melakukan kontrak perjanjian dengan Perhutani dan diperbolehkan menanam di hutan.

Sambil menunggu tanaman pokok petani itu, dalam tata waktu pelaksanaan tanam dipasang patok batas dan lubang tanam. Namun, petani lebih memilih menanam jagung selama kontrak tersebut.

Dengan penanaman palawija terutama jagung tersebut, fungsi ekologi hutan jauh berkurang. Menjadikan pengikat air di tanah saat hujan minim. Karena tak ada pohon besar. Penanaman itu hanya dilakukan selama masa perjanjian. Lepas dari itu, petani tidak boleh melakukan kegiatan apapun di hutan.

Dijelaskan, selama perjanjian Perhutani dan petani ada sistem bagi hasil. Perhutani mendapatkan sharing 10 persen yang digunakan untuk pembayaran pajak BNPB hingga PBB. Selama tiga tahun terakhir, hasil penggarapan itu didapatkan Rp 395 juta dengan 6588,6 ton jagung pada 2019. Kemudian pada 2020 ada 4766,921 ton jagung dengan hasil Rp 286 juta. Sedangkan hingg pertengan tahun ini, baru 487,4 ton dengan pendapatan Rp 29,2 juta.

Rata-rata warga setempat menggarap di satu lokasi seperempat hektare. Namun, rata-rata mereka menggarap sampai tiga lokasi yang berbeda. (lin)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Bagian utara Kabupaten Grobogan terpapar pegunungan Kendeng Utara. Meliputi kawasan lindung, produksi, dan hutan alam sekunder (HAS). Reboisasi terus dilakukan setiap tahun, lantaran bagian bawah gunung terus terancam banjir.

Pegunungan Kendeng Utara merupakan bentangan bukit berupa batuan kapur atau karst sekitar 243,70 hektare. Di bawah pengelolaan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi seluas 19.636,5 hektare.

Upaya reboisasi terus dilakukan KPH Purwodadi. Namun, tak semudah membalikkan telapak tangan. Perhutani bekerja sama dengan petani dalam penanaman tumpangsari di lahan Perhutani.

Berbagai kendala dihadapi, seperti kurangnya kesadaran masyarakat. Pengalihan fungsi lahan menjadi ladang tanaman semusim hingga diperparah penambangan batu gamping di sejumlah titik di sisi luar pegunungan.

KSS Pembinaan Sumber Daya Hutan KPH Perhutani Purwodadi Sumaryo mengatakan, Perhutani punya kontrak dengan masyarakat sekitar dua tahun untuk penanaman tumpangsari. Ada perilaku masyarakat yang justru malah merugikan. Dengan melakukan penyemprotan pada tanaman-tanaman milik Perhutani. Sehingga tanaman jati milik Perhutani mati.

Ini karena masyarakat dinilai kurang peduli terhadap kelestarian hutan. Rata-rata mereka memilih tanaman jagung yang bisa dipanen dua kali dalam setahun. ”Kalau panennya jati bisa sampai 20 tahun. Kalau palawija seperti jagung kan bisa setahun sampai dua kali. Jadi, akhirnya memang di sini mayoritas nanam jagung,” keluhnya.

Baca Juga :  Transjateng Rute Penggaron-Godong Gagal Mengaspal Pekan Ini, Ada Apa?

Perjanjian penanaman itu, dilakukan selama sekitar dua tahun. Perjanjian dilakukan di masa tebang dan dimulainya reboisasi. Sedangkan sambil menunggu penanaman yang biasanya dilakukan pada akhir tahun, petani melakukan kontrak perjanjian dengan Perhutani dan diperbolehkan menanam di hutan.

Sambil menunggu tanaman pokok petani itu, dalam tata waktu pelaksanaan tanam dipasang patok batas dan lubang tanam. Namun, petani lebih memilih menanam jagung selama kontrak tersebut.

Dengan penanaman palawija terutama jagung tersebut, fungsi ekologi hutan jauh berkurang. Menjadikan pengikat air di tanah saat hujan minim. Karena tak ada pohon besar. Penanaman itu hanya dilakukan selama masa perjanjian. Lepas dari itu, petani tidak boleh melakukan kegiatan apapun di hutan.

Dijelaskan, selama perjanjian Perhutani dan petani ada sistem bagi hasil. Perhutani mendapatkan sharing 10 persen yang digunakan untuk pembayaran pajak BNPB hingga PBB. Selama tiga tahun terakhir, hasil penggarapan itu didapatkan Rp 395 juta dengan 6588,6 ton jagung pada 2019. Kemudian pada 2020 ada 4766,921 ton jagung dengan hasil Rp 286 juta. Sedangkan hingg pertengan tahun ini, baru 487,4 ton dengan pendapatan Rp 29,2 juta.

Rata-rata warga setempat menggarap di satu lokasi seperempat hektare. Namun, rata-rata mereka menggarap sampai tiga lokasi yang berbeda. (lin)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/