alexametrics
22.8 C
Kudus
Sunday, July 24, 2022

DLH Grobogan Tiga Kali Gagal Membiakkan BSF untuk Urai Sampah, Apa Sebab?

GROBOGAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan kembali gagal untuk ketiga kalinya dalam mengembangbiakkan black slodier fly (BSF) atau lalat hitam untuk mengurai sampah. Pengembangbiakan itu dilakukan di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Ngembak Kecamatan Purwodadi.

Kasi Penanganan Sampah DLH Grobogan Noer Rochman mengatakan, pengembangbiakan lalat hitam tersebut kali ketiga gagal sejak 2018 lalu. Padahal lalat hitam dianggap ampuh membantu penguraian sampah organik hingga 30 persen.

“Beberapa waktu lalu sempat berhasil, berkembang biak dengan menetaskan telur-telur. Namun, kemarin malah maggotnya banyak dimakan tikus,” keluhnya.


Kegagalan tersebut, membuat DLH berupaya memelihara lagi di tahun depan. “Untuk lokasi, sarana dan prasarana masih ada. Tinggal nyari maggotnya lagi saja, sama nanti adakan pelatihan ke petugas yang memelihara di sana,” ungkapnya.

Menurutnya, lalat hitam ini dikembangbiakkan di nursery. Setelah lalat bertelur, telur-telur tersebut dipisahkan dan ditempatkan di tempat yang berbeda untuk proses penetasan. Setelah menetas dan berusia lima hari diletakkan pada sampah organik. Setelah 10 hari, maka maggot sudah dapat dipanen dan ditebarkan ke tumpukan sampah untuk mengurai sampah.

Baca Juga :  Ribuan Warga Tumplek Blek Ramaikan CFD Perdana di Grobogan Usai Disetop 2 Tahun

Dia mengatakan, pengembangbiakan lalat hitam itu untuk menghasilkan maggot atau belatung. Belatung dari lalat hitam inilah nanti yang akan bekerja untuk mengurai sampah, sehingga volume sampah akan berkurang dan mengurangi bau sampah.

“Kemudian diharapkan bisa membantu pengurangan sampah sekitar 30 persen. Semoga kali ini berhasil, jika berhasil melakukan pengembangan dan mampu mengurai sampah. Maka akan dikembangkan untuk pakan ternak yang ada di sekitar lokasi TPA hingga dibuat olahan tepung magot,” harapnya. (mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan kembali gagal untuk ketiga kalinya dalam mengembangbiakkan black slodier fly (BSF) atau lalat hitam untuk mengurai sampah. Pengembangbiakan itu dilakukan di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Ngembak Kecamatan Purwodadi.

Kasi Penanganan Sampah DLH Grobogan Noer Rochman mengatakan, pengembangbiakan lalat hitam tersebut kali ketiga gagal sejak 2018 lalu. Padahal lalat hitam dianggap ampuh membantu penguraian sampah organik hingga 30 persen.

“Beberapa waktu lalu sempat berhasil, berkembang biak dengan menetaskan telur-telur. Namun, kemarin malah maggotnya banyak dimakan tikus,” keluhnya.

Kegagalan tersebut, membuat DLH berupaya memelihara lagi di tahun depan. “Untuk lokasi, sarana dan prasarana masih ada. Tinggal nyari maggotnya lagi saja, sama nanti adakan pelatihan ke petugas yang memelihara di sana,” ungkapnya.

Menurutnya, lalat hitam ini dikembangbiakkan di nursery. Setelah lalat bertelur, telur-telur tersebut dipisahkan dan ditempatkan di tempat yang berbeda untuk proses penetasan. Setelah menetas dan berusia lima hari diletakkan pada sampah organik. Setelah 10 hari, maka maggot sudah dapat dipanen dan ditebarkan ke tumpukan sampah untuk mengurai sampah.

Baca Juga :  Ketagihan, Tahun Depan Buat Lagi

Dia mengatakan, pengembangbiakan lalat hitam itu untuk menghasilkan maggot atau belatung. Belatung dari lalat hitam inilah nanti yang akan bekerja untuk mengurai sampah, sehingga volume sampah akan berkurang dan mengurangi bau sampah.

“Kemudian diharapkan bisa membantu pengurangan sampah sekitar 30 persen. Semoga kali ini berhasil, jika berhasil melakukan pengembangan dan mampu mengurai sampah. Maka akan dikembangkan untuk pakan ternak yang ada di sekitar lokasi TPA hingga dibuat olahan tepung magot,” harapnya. (mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/