alexametrics
26.5 C
Kudus
Thursday, June 23, 2022

Cegah Harga Hasil Panen Turun, Pemkab Grobogan Potong Alur Tengkulak dengan Sistem Gudang

GROBOGAN – Pemerintah Kabupaten Grobogan konsisten jalankan sistem resi gudang (SRG) untuk terus memutus alur tengkulak. Hal ini untuk membantu petani mengatasi persoalan-persoalan laten pasca panen. Seperti harga turun, hasil panen yang kerap habis, dan terbatasnya modal usaha untuk periode tanam berikutnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus di lokasi SRG yang berada di Desa Dapurno, Wirosari terlihat para pegawai gudang bekerja. Ada tiga orang yang sibuk meratakan gabah di atas plesteran yang berada di depan gudang. Mereka memakai kaki untuk proses tersebut. Membalik gabah yang di bawah agar terkena sinar panas matahari secara merata.

Pada gudang sebelah Timur terdapat dua orang yang mengontrol alat selep yang berfungsi mengolah gabah menjadi beras. Memisahkan dari kulit luarnya. Sementara pada bagian tengah gudang menajdi tempat penyimpanan gabah-gabah dari petani.


Pada gudang sebelah barat menjadi tempat pengolahan dan pengemasan. Beras-beras hasil selep dipilah oleh tiga ibuk-ibuk. Sebelum dikemas pada plastik.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Pradana Setiawan mengatakan Kabupaten Grobogan merupakan lumbung pangan provinsi Jawa Tengah dengan produksi rata-rata 700.00 ton/tahun. Dan menjadi daerah produksi padi tertinggi di Jateng.

“Meski produksi besar, namun dengan persoalan laten tersebut maka petani sangat dirugikan. Untuk itu kementerian Perdagangan memberikan bantuan gudang untuk SRG pada 2010. Tetapi karena stagnan, pada 2017 kami memodifikasi,” jelasnya.

Baca Juga :  Bocor, Atap Terminal Purwodadi Tak Kunjung Diperbaiki

Modifikasi itu melingkupi tiga hal. Yakni ranah sosial, bisnis dan edukasi. Yang intinya memudahkan petani dalam sistem pelayanan dan memberikan kebermanfaatan lebih. Petani bisa dengan mudah menyimpan gabah di gudang, bahkan disediakan fasilitas jemput bola. Setelah petani menyimpan di gudang, mereka memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan dengan jaminan resi.

“Dengan menyimpan di SRG petani sebagai penentu harga. Mereka dapat mengatur kapan menjual hasil panen. Sehingga meminimalisasi penjualan ke tengkulak. Di sisi lain SRG Grobogan menjadi cadangan pangan daerah. Dan menjaga kestabilan harga,” terangnya.

Sejak adanya modifikasi 2017, SRG terus diminati masyarakat yang mulai tersadarkan. Sejak periode 2018-2020 partisipasi masyarakat meningkat besar. Yakni mencapai 740 petani dibandingkan tujuh tahun sebelumnya. Begitupula dengan kuantitas gabah yang disimpan. Meningkat 1.395 ton dibanding

Sejauh ini SRG juga melakukan edukasi terhadap ratusan petani, poktan, gapoktan dan koperasi dengan motto sistem untuk memperjuangkan harga komoditas petani (Surga Petani). SRG di Grobogan bahkan telah mengedukasi tujuh kabupaten lain seperti Kebumen, Pemalang, Pekalongan, Demak, Jepara, Kudus, dan Blora. (tos/him)






Reporter: Eko Santoso

GROBOGAN – Pemerintah Kabupaten Grobogan konsisten jalankan sistem resi gudang (SRG) untuk terus memutus alur tengkulak. Hal ini untuk membantu petani mengatasi persoalan-persoalan laten pasca panen. Seperti harga turun, hasil panen yang kerap habis, dan terbatasnya modal usaha untuk periode tanam berikutnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus di lokasi SRG yang berada di Desa Dapurno, Wirosari terlihat para pegawai gudang bekerja. Ada tiga orang yang sibuk meratakan gabah di atas plesteran yang berada di depan gudang. Mereka memakai kaki untuk proses tersebut. Membalik gabah yang di bawah agar terkena sinar panas matahari secara merata.

Pada gudang sebelah Timur terdapat dua orang yang mengontrol alat selep yang berfungsi mengolah gabah menjadi beras. Memisahkan dari kulit luarnya. Sementara pada bagian tengah gudang menajdi tempat penyimpanan gabah-gabah dari petani.

Pada gudang sebelah barat menjadi tempat pengolahan dan pengemasan. Beras-beras hasil selep dipilah oleh tiga ibuk-ibuk. Sebelum dikemas pada plastik.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Pradana Setiawan mengatakan Kabupaten Grobogan merupakan lumbung pangan provinsi Jawa Tengah dengan produksi rata-rata 700.00 ton/tahun. Dan menjadi daerah produksi padi tertinggi di Jateng.

“Meski produksi besar, namun dengan persoalan laten tersebut maka petani sangat dirugikan. Untuk itu kementerian Perdagangan memberikan bantuan gudang untuk SRG pada 2010. Tetapi karena stagnan, pada 2017 kami memodifikasi,” jelasnya.

Baca Juga :  Terlilit Utang, Pria di Grobogan Nekat Coba Bunuh Diri di Hotel

Modifikasi itu melingkupi tiga hal. Yakni ranah sosial, bisnis dan edukasi. Yang intinya memudahkan petani dalam sistem pelayanan dan memberikan kebermanfaatan lebih. Petani bisa dengan mudah menyimpan gabah di gudang, bahkan disediakan fasilitas jemput bola. Setelah petani menyimpan di gudang, mereka memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan dengan jaminan resi.

“Dengan menyimpan di SRG petani sebagai penentu harga. Mereka dapat mengatur kapan menjual hasil panen. Sehingga meminimalisasi penjualan ke tengkulak. Di sisi lain SRG Grobogan menjadi cadangan pangan daerah. Dan menjaga kestabilan harga,” terangnya.

Sejak adanya modifikasi 2017, SRG terus diminati masyarakat yang mulai tersadarkan. Sejak periode 2018-2020 partisipasi masyarakat meningkat besar. Yakni mencapai 740 petani dibandingkan tujuh tahun sebelumnya. Begitupula dengan kuantitas gabah yang disimpan. Meningkat 1.395 ton dibanding

Sejauh ini SRG juga melakukan edukasi terhadap ratusan petani, poktan, gapoktan dan koperasi dengan motto sistem untuk memperjuangkan harga komoditas petani (Surga Petani). SRG di Grobogan bahkan telah mengedukasi tujuh kabupaten lain seperti Kebumen, Pemalang, Pekalongan, Demak, Jepara, Kudus, dan Blora. (tos/him)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/