alexametrics
24.4 C
Kudus
Wednesday, May 18, 2022

Sidak PTM, Dapat Curhat Orang Tua Frustrasi Dampingi Belajar Anak

GROBOGAN – Komisi D DPRD Grobogan mendapatkan curhatan dari orang tua siswa tentang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) saat kunjungan kerja di SMPN 1 Gabus dan SMPN 1 Wirosari kemarin. Para orang tua mengadukan belum diperbolehkanya PTM secara total.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Grobogan Bukhori mengatakan, hasil dari sidak di SMPN 1 Gabus dan SMPN 1 Kradenan tentang PTM semua sekolah sudah bisa mengikuti sesuai dengan protokol kesehatan. Mulai dari tempat cuci tangan, duduk berjarak dan cek suhu pada siswa, guru dan karyawan yang masuk area sekolah.

”Kami mendapatkan laporan keluhan dari orang tua siswa. Sekarang baru 50 persen yang masuk bergantian. Siswa sudah bosan dan ingin bisa diadakan 100 persen siswa masuk semua atau kuota siswa ditambah,” kata Bukhori politisi Demokrat ini.


Dikatakan, saat PTM ini baru 30 persen. Harapannya siswa bisa masuk 50 persen atau masuk 100 persen dengan prokes yang ketat. Sehingga pembelajaran siswa tidak maksimal. Selain itu, waktu pembelajaran selama PTM hanya 120 menit atau dua jam.

Baca Juga :  Tok! Kejari Grobogan Tetapkan Paulus Kristian Jadi Tersangka Kasus Bulog

”Saya lihat tidak ada kendala di lapangan. Semua guru sudah divaksin dan siswa yang ingin divaksin masih terkendala dengan jumlah vaksin yang belum tersedia,” terang dia.

Hal sama juga diungkapkan anggota Komisi D DPRD Grobogan Mansata Indah Maratona. Dia mengatakan, pembelajaran PTM memang mendesak dilakukan. Sebab, siswa sudah satu tahun setengah belajar secara online yang tidak bisa maksimal. Siswa menjadi jenuh.

Terlebih orang tua yang mendampingi jadi frustasi karena dituntut mengajari anaknya. ”Jika PTM tidak bisa dilakukan secepatnya kepada seluruh siswa. Maka siswa akan tertinggal pembelajaranya dan orang tua jadi frustasi karena harus mendampingi siswanya belajar,” ujarnya.

Maka adanya penurunan level dua pada PPKM di Kabupaten Grobogan. Diharapkan pembelajaran PTM segera bisa direalisasikan semua agar pendidikan di sekolah bisa maksimal. Apalagi warga masyarakat sudah mulai bosan dengan pembelajaran secara daring.

”Pemda harus bertindak cepat agar pembelajaran PTM bisa dibuka lagi semua agar pendidikan bisa kembali normal lagi,” tandasnya. (him)






Reporter: Sirojul Munir

GROBOGAN – Komisi D DPRD Grobogan mendapatkan curhatan dari orang tua siswa tentang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) saat kunjungan kerja di SMPN 1 Gabus dan SMPN 1 Wirosari kemarin. Para orang tua mengadukan belum diperbolehkanya PTM secara total.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Grobogan Bukhori mengatakan, hasil dari sidak di SMPN 1 Gabus dan SMPN 1 Kradenan tentang PTM semua sekolah sudah bisa mengikuti sesuai dengan protokol kesehatan. Mulai dari tempat cuci tangan, duduk berjarak dan cek suhu pada siswa, guru dan karyawan yang masuk area sekolah.

”Kami mendapatkan laporan keluhan dari orang tua siswa. Sekarang baru 50 persen yang masuk bergantian. Siswa sudah bosan dan ingin bisa diadakan 100 persen siswa masuk semua atau kuota siswa ditambah,” kata Bukhori politisi Demokrat ini.

Dikatakan, saat PTM ini baru 30 persen. Harapannya siswa bisa masuk 50 persen atau masuk 100 persen dengan prokes yang ketat. Sehingga pembelajaran siswa tidak maksimal. Selain itu, waktu pembelajaran selama PTM hanya 120 menit atau dua jam.

Baca Juga :  Dampak Joget Tanpa Pakai Masker, Komisi A segera Panggil Kades Dokoro

”Saya lihat tidak ada kendala di lapangan. Semua guru sudah divaksin dan siswa yang ingin divaksin masih terkendala dengan jumlah vaksin yang belum tersedia,” terang dia.

Hal sama juga diungkapkan anggota Komisi D DPRD Grobogan Mansata Indah Maratona. Dia mengatakan, pembelajaran PTM memang mendesak dilakukan. Sebab, siswa sudah satu tahun setengah belajar secara online yang tidak bisa maksimal. Siswa menjadi jenuh.

Terlebih orang tua yang mendampingi jadi frustasi karena dituntut mengajari anaknya. ”Jika PTM tidak bisa dilakukan secepatnya kepada seluruh siswa. Maka siswa akan tertinggal pembelajaranya dan orang tua jadi frustasi karena harus mendampingi siswanya belajar,” ujarnya.

Maka adanya penurunan level dua pada PPKM di Kabupaten Grobogan. Diharapkan pembelajaran PTM segera bisa direalisasikan semua agar pendidikan di sekolah bisa maksimal. Apalagi warga masyarakat sudah mulai bosan dengan pembelajaran secara daring.

”Pemda harus bertindak cepat agar pembelajaran PTM bisa dibuka lagi semua agar pendidikan bisa kembali normal lagi,” tandasnya. (him)






Reporter: Sirojul Munir

Most Read

Artikel Terbaru

/