alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Jembatan Bersejarah Peninggalan Belanda di Grobogan Tiba-tiba Roboh

GROBOGAN – Jembatan bersejarah peninggalan Belanda di perbatasan Desa Dapurno, Wirosari, dengan Desa Tanjungsari, Keradenanan, roboh. Hampir semua bagian jembatan runtuh ke sungai Lusi. Robohnya jembatan diperkirakan terjadi kemarin sekitar pukul 02.00.

Saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini ke lokasi, tersisa bagian jembatan di sebelah utara hanya sepanjang sekitar 10 meter. Sementara 40 meter lain runtuh ke sungai. Terlihat kerangka jembatan yang berkarat. Siang kemarin sekitar pukul 12.00, terdapat anak-anak yang melihat dan bermain-main. Mereka berencana mengambil besi-besi. Namun tak jadi.

Perangkat desa Dapurno Puji Santoso menyebut, robohnya jembatan itu karena pada pondasi atau tiyang penyangga bagian selatan geser. Terjadi patahan. Hal itu diakibatkan derasnya hujan beberapa hari lalu yang menyebabkan debit air sungai Lusi meningkat, sehingga mengikis bangunan pondasi di sisi selatan.


”Terlebih lagi, struktur bangunan jembatan yang tak lagi kokoh, karena dimakan usia. Kemarin sebelum roboh ada yang lewat pakai sepeda dan merasa sudah goyang-goyang, sehingga tak jadi melintas,” paparnya.

Menurutnya, semula jembatan itu menjadi akses utama bagi wara desanya yang ingin ke Desa Tanjungsari, Keradenanan. Atau bagi mereka yang mau pergi ke sawah. Sebab, banyak warga Desa Dapurno memiliki lahan di bagian selatan jembatan. Daripada memutar, mereka melewati jembatan itu menjadi pilihan. ”Dulu bisa dipakai lewat motor juga. Jadi, memang menjadi akses utama,” terangnya.

Baca Juga :  Ini Dugaan Penyebab Dua Rumah di Rembang Kerobohan Tembok 3 Meter
TAK TAKUT: Sejumlah warga dduduk di Jembatang Teyeng di atas sungai Lusi yang roboh kemarin. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Karena sempat menjadi akses penting, warga pun secara sukarela membenahi kerusakan. Secara swadaya mengganti kayu-kayu landasan jembatan yang lapuk.

Menurutnya, jembatan dengan panjang sekitar 50 meter dan lebar 2 meter itu, dibangun pada masa kolonial Belanda. Membentang di atas sungai Lusi yang arusnya cukup deras. ”Warga menyebut jembatan itu sebagai jembatan teyeng. Karena sudah pada berkarat,” jelasnya.

Namun sejak dua tahun terakhir, setelah adanya pembangunan jembatan gantung di sebelah timur dari jembatan itu, warga memilih menggunakan jembatan gantung. Jembatan gantung sendiri, dibangun dengan bantuan dana provinsi. Sebagai alternatif, karena kondisi jembatan teyeng yang makin memprihatinkan.

Selain memiliki nilai historis penting, Jembatan Teyeng dikenal masyarakat luas. Sebab, banyaknya anak muda yang bermain ke jembatan untuk swafoto atau pembuatan foto prewedding. (tos/lin)






Reporter: Eko Santoso

GROBOGAN – Jembatan bersejarah peninggalan Belanda di perbatasan Desa Dapurno, Wirosari, dengan Desa Tanjungsari, Keradenanan, roboh. Hampir semua bagian jembatan runtuh ke sungai Lusi. Robohnya jembatan diperkirakan terjadi kemarin sekitar pukul 02.00.

Saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini ke lokasi, tersisa bagian jembatan di sebelah utara hanya sepanjang sekitar 10 meter. Sementara 40 meter lain runtuh ke sungai. Terlihat kerangka jembatan yang berkarat. Siang kemarin sekitar pukul 12.00, terdapat anak-anak yang melihat dan bermain-main. Mereka berencana mengambil besi-besi. Namun tak jadi.

Perangkat desa Dapurno Puji Santoso menyebut, robohnya jembatan itu karena pada pondasi atau tiyang penyangga bagian selatan geser. Terjadi patahan. Hal itu diakibatkan derasnya hujan beberapa hari lalu yang menyebabkan debit air sungai Lusi meningkat, sehingga mengikis bangunan pondasi di sisi selatan.

”Terlebih lagi, struktur bangunan jembatan yang tak lagi kokoh, karena dimakan usia. Kemarin sebelum roboh ada yang lewat pakai sepeda dan merasa sudah goyang-goyang, sehingga tak jadi melintas,” paparnya.

Menurutnya, semula jembatan itu menjadi akses utama bagi wara desanya yang ingin ke Desa Tanjungsari, Keradenanan. Atau bagi mereka yang mau pergi ke sawah. Sebab, banyak warga Desa Dapurno memiliki lahan di bagian selatan jembatan. Daripada memutar, mereka melewati jembatan itu menjadi pilihan. ”Dulu bisa dipakai lewat motor juga. Jadi, memang menjadi akses utama,” terangnya.

Baca Juga :  Bupati Grobogan Beri Tali Kasih Atlet Peraih Medali PON Papua
TAK TAKUT: Sejumlah warga dduduk di Jembatang Teyeng di atas sungai Lusi yang roboh kemarin. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Karena sempat menjadi akses penting, warga pun secara sukarela membenahi kerusakan. Secara swadaya mengganti kayu-kayu landasan jembatan yang lapuk.

Menurutnya, jembatan dengan panjang sekitar 50 meter dan lebar 2 meter itu, dibangun pada masa kolonial Belanda. Membentang di atas sungai Lusi yang arusnya cukup deras. ”Warga menyebut jembatan itu sebagai jembatan teyeng. Karena sudah pada berkarat,” jelasnya.

Namun sejak dua tahun terakhir, setelah adanya pembangunan jembatan gantung di sebelah timur dari jembatan itu, warga memilih menggunakan jembatan gantung. Jembatan gantung sendiri, dibangun dengan bantuan dana provinsi. Sebagai alternatif, karena kondisi jembatan teyeng yang makin memprihatinkan.

Selain memiliki nilai historis penting, Jembatan Teyeng dikenal masyarakat luas. Sebab, banyaknya anak muda yang bermain ke jembatan untuk swafoto atau pembuatan foto prewedding. (tos/lin)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/