alexametrics
32.7 C
Kudus
Tuesday, August 2, 2022

Per Tahun, 40 Orang di Grobogan Meninggal karena HIV/AIDS

GROBOGAN – Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan menyebutkan, kasus keseluruhan HIV/AIDS sejak 2002 ada 1.441 kasus dengan 360 kasus meninggal dunia. Artinya, setiap tahun rata-rata ada 40 orang yang meninggal di Grobogan karena penyakit tersebut.

Kasi Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Gunawan Cahyo Utomo mengatakan, hingga bulan ini tercatat ada 58 ODHA. Dari total kasus sejak 2002 ada 1.441 kasus, dengan 90 kasus diderita anak-anak. Kasus HIV/AIDS ini menyebar merata di 19 kecamatan.

Faktor penularannya, kata dia, dominan dari hubungan seksual heteroseksual. Menurut grafik, kecamatan yang dominan pengidap ODHA di antaranya di Kecamatan Purwodadi, disusul Toroh dan Wirosari. “Meski begitu dalam tiga tahun terakhir ini grafik kasus menurun meski tidak signifikan,” ujarnya.


Sedangkan kasus ODHA mengenai berbagai jenis pekerjaan paling tinggi pada pedagang atau swasta. Kemudian ibu rumah tangga, PSK, buruh hingga anak-anak.

Meski begitu, upaya untuk menutup ruang gerak peredaran terus dilakukan. Bahkan, ODHA juga membentuk komunitas untuk saling mendukung dan mengetahui permasalahan, seperti ODHA baru yang belum mengetahui cara mendapatkan obat ARV.

Baca Juga :  Hari Pertama Diresmikan, Server Absensi Berbasis Aplikasi Down

“ODHA yang ditemukan langsung diminta melakukan tes. Jika positif maka langsung diwajibkan minum ARV. Hal itu dilakukan untuk menekan pengembangan virus. Kendalanya memang ODHA banyak yang takut memeriksakan diri dan melapor terkena penyakit berbahaya tersebut,” tegasnya.

Selain pengobatan, Dinkes Grobogan juga memiliki 18 titik pelatihan perawatan, dukungan, dan pengobatan (PDP) atau care support treatment (CST) yang menyebar di puskesmas dan rumah sakit.

Sebanyak 18 PDP tersebut yakni di RSUD R Soedjati Purwodadi dan 17 puskesmas wilayah Ngaringan, Gabus I, Gubug, Klambu, Godong, Geyer I, Toroh I, Penawangan I, Grobogan, Brati, Wirosari, Purwodadi, I, Pulokulon I, Tanggungharjo, Kradenan I, Tawangharjo, dan Kedungjati.

“Sejumlah faskes tersebut menjadi rujukan bagi ODHA. Di sana ada pelayanan mulai dari pemeriksaan/tes HIV dan memberikan pengobatan dengan ARV terapi. Pengobatan ODHA dilakukan seumur hidup, karena obat hanya dapat menekan perkembangan virus, tidak dapat menyembuhkan. Kemudian konseling KST di 30 Puskesmas dan tujuh RS,” tegasnya. (mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan menyebutkan, kasus keseluruhan HIV/AIDS sejak 2002 ada 1.441 kasus dengan 360 kasus meninggal dunia. Artinya, setiap tahun rata-rata ada 40 orang yang meninggal di Grobogan karena penyakit tersebut.

Kasi Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Gunawan Cahyo Utomo mengatakan, hingga bulan ini tercatat ada 58 ODHA. Dari total kasus sejak 2002 ada 1.441 kasus, dengan 90 kasus diderita anak-anak. Kasus HIV/AIDS ini menyebar merata di 19 kecamatan.

Faktor penularannya, kata dia, dominan dari hubungan seksual heteroseksual. Menurut grafik, kecamatan yang dominan pengidap ODHA di antaranya di Kecamatan Purwodadi, disusul Toroh dan Wirosari. “Meski begitu dalam tiga tahun terakhir ini grafik kasus menurun meski tidak signifikan,” ujarnya.

Sedangkan kasus ODHA mengenai berbagai jenis pekerjaan paling tinggi pada pedagang atau swasta. Kemudian ibu rumah tangga, PSK, buruh hingga anak-anak.

Meski begitu, upaya untuk menutup ruang gerak peredaran terus dilakukan. Bahkan, ODHA juga membentuk komunitas untuk saling mendukung dan mengetahui permasalahan, seperti ODHA baru yang belum mengetahui cara mendapatkan obat ARV.

Baca Juga :  Miris! Diusir karena Positif Covid-19, Istri Meninggal di Atas Becak

“ODHA yang ditemukan langsung diminta melakukan tes. Jika positif maka langsung diwajibkan minum ARV. Hal itu dilakukan untuk menekan pengembangan virus. Kendalanya memang ODHA banyak yang takut memeriksakan diri dan melapor terkena penyakit berbahaya tersebut,” tegasnya.

Selain pengobatan, Dinkes Grobogan juga memiliki 18 titik pelatihan perawatan, dukungan, dan pengobatan (PDP) atau care support treatment (CST) yang menyebar di puskesmas dan rumah sakit.

Sebanyak 18 PDP tersebut yakni di RSUD R Soedjati Purwodadi dan 17 puskesmas wilayah Ngaringan, Gabus I, Gubug, Klambu, Godong, Geyer I, Toroh I, Penawangan I, Grobogan, Brati, Wirosari, Purwodadi, I, Pulokulon I, Tanggungharjo, Kradenan I, Tawangharjo, dan Kedungjati.

“Sejumlah faskes tersebut menjadi rujukan bagi ODHA. Di sana ada pelayanan mulai dari pemeriksaan/tes HIV dan memberikan pengobatan dengan ARV terapi. Pengobatan ODHA dilakukan seumur hidup, karena obat hanya dapat menekan perkembangan virus, tidak dapat menyembuhkan. Kemudian konseling KST di 30 Puskesmas dan tujuh RS,” tegasnya. (mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/