alexametrics
32.2 C
Kudus
Tuesday, August 9, 2022

Disdikbud Pati Sebut PTM Jadi Syarat Sekolah Ikuti Asesmen Nasional

PATI – Pembelajaran tatap muka (PTM) menjadi syarat sekolah untuk mengikuti asesmen nasional (AN). Sedangkan sekolahan yang menggelar PTM tak menyeluruh. Untuk SD beserta SMP 22 sekolah dan SMA ada lima sekolahan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari data referensi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Pati terdapat SD sederajat 891, SMP 234, SMA 91, SMk 47 sekolah.

”Dari pusat syaratnya harus sudah PTM. Dari Kemendikbud untuk kabupaten level 1,2 segera membuka. Namun, karena kami hati-hati jadi tidak langsung dibuka. Tapi bertahap,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pati Winarto.


AN ini untuk mengukur kelembagaan. Juga melihat kualitas pendidikan tiap lembaga. Jadi tiap sekolah mengikuti. ”Kriteria hasil belum tahu. Soalnya, AN ini baru kali. Sebelumnya belum pernah,” katanya.

Untuk pesertanya maksimal 35 orang. Itu mencakup murid, guru, dan kepala sekolah. ”Jika pesertanya lebih dari 35 orang. Nanti pusat yang mengacak. Untuk pelaksanaannya Oktober,” paparnya.

Dia menambahkan, sering masyarakat ini semacam penafsirannya bahwa asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) itu seolah-olah peganti ujian nasional berbasis computer (UNBK). Padahal semestinya tidak.

Baca Juga :  Kebijakan PTM Full pada Masa Pandemi

”Kalau UNBK yang dulu disebut UN itukan lebih pada penilaian personal per murid. Makanya setelah ada UN atau UNBK muncul nilai yang sifatnya personal. Tapi ANBK ini berbeda. Lebih ke sekolah yang dinilai. Makanya yang di uji tidak hanya murid. Tetapi kepala sekolah dan guru ikut terlibat,” jelasnya.

Selain itu, yang diuji materinya pun tidak seperti UNBK. ini hanya asesmen kompetensi minimum (AKM). kemudian surve karakter dan lingkungan sekolah. ”Hasilnya dipakai untuk memetakan sekolah. Misalnya, kelasnya kurang, ada kerusakan apa tidak,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, adanya ANBK ini pemerintah pusat lebih tahu rincian sekolah. Mana sekolah yang membutuhkan perhatian.

”Gambarannya, sekolah ini mau dibantu apa. Supaya bisa tepat sasaran. Misal mau dibantu komputer tapi komputernya sudah banyak. Dibantu guru tapi gurunya sudah banyak. Inilah ANBK diharapkan bisa menyelesaikan persoalan-persoalan seperti itu. Dan menjawab masalah-masalah yang ada di sekolah,” pungkasnya. (him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Pembelajaran tatap muka (PTM) menjadi syarat sekolah untuk mengikuti asesmen nasional (AN). Sedangkan sekolahan yang menggelar PTM tak menyeluruh. Untuk SD beserta SMP 22 sekolah dan SMA ada lima sekolahan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari data referensi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Pati terdapat SD sederajat 891, SMP 234, SMA 91, SMk 47 sekolah.

”Dari pusat syaratnya harus sudah PTM. Dari Kemendikbud untuk kabupaten level 1,2 segera membuka. Namun, karena kami hati-hati jadi tidak langsung dibuka. Tapi bertahap,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pati Winarto.

AN ini untuk mengukur kelembagaan. Juga melihat kualitas pendidikan tiap lembaga. Jadi tiap sekolah mengikuti. ”Kriteria hasil belum tahu. Soalnya, AN ini baru kali. Sebelumnya belum pernah,” katanya.

Untuk pesertanya maksimal 35 orang. Itu mencakup murid, guru, dan kepala sekolah. ”Jika pesertanya lebih dari 35 orang. Nanti pusat yang mengacak. Untuk pelaksanaannya Oktober,” paparnya.

Dia menambahkan, sering masyarakat ini semacam penafsirannya bahwa asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) itu seolah-olah peganti ujian nasional berbasis computer (UNBK). Padahal semestinya tidak.

Baca Juga :  Hasil Lab Keluar, Kematian Sapi Massal di Grobogan Dipastikan Akibat PMK

”Kalau UNBK yang dulu disebut UN itukan lebih pada penilaian personal per murid. Makanya setelah ada UN atau UNBK muncul nilai yang sifatnya personal. Tapi ANBK ini berbeda. Lebih ke sekolah yang dinilai. Makanya yang di uji tidak hanya murid. Tetapi kepala sekolah dan guru ikut terlibat,” jelasnya.

Selain itu, yang diuji materinya pun tidak seperti UNBK. ini hanya asesmen kompetensi minimum (AKM). kemudian surve karakter dan lingkungan sekolah. ”Hasilnya dipakai untuk memetakan sekolah. Misalnya, kelasnya kurang, ada kerusakan apa tidak,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, adanya ANBK ini pemerintah pusat lebih tahu rincian sekolah. Mana sekolah yang membutuhkan perhatian.

”Gambarannya, sekolah ini mau dibantu apa. Supaya bisa tepat sasaran. Misal mau dibantu komputer tapi komputernya sudah banyak. Dibantu guru tapi gurunya sudah banyak. Inilah ANBK diharapkan bisa menyelesaikan persoalan-persoalan seperti itu. Dan menjawab masalah-masalah yang ada di sekolah,” pungkasnya. (him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/