alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Jembatan Bersejarah Peninggalan Belanda di Grobogan Roboh, Ini Penyebabnya

GROBOGAN – Jembatan bersejarah peninggalan Belanda di daerah perbatasan yang menghubungkan Desa Dapurno, Wirosari dan Desa Tanjungsari, Keradenan roboh. Hampir semua bagian jembatan runtuh ke Sungai Lusi. Robohnya jembatan diperkirakan terjadi pada Kamis (21/7) sekitar pukul 02.00.

Baca Juga : Heboh! Pria di Grobogan Pamer Kemaluan di Pinggir Jalan, Incar Pengendara Perempuan

Perangkat desa Dapurno Puji Santoso menyebut, robohnya jembatan itu terjadi mengingat pondasi atau tiyang penyangga bagian selatan geser hingga patah. Hal itu disebabkan derasnya hujan beberapa hari lalu yang menyebabkan debit air Sungai Lusi meningkat sehingga mengikis bangunan pondasi di sisi selatan.


“Terlebih lagi, struktur bangunan jembatan yang tak lagi kokoh karena dimakan usia. Kemarin sebelum roboh ada yang lewat pakai sepeda dan merasa sudah goyang-goyang. Sehingga tak jadi melintas,” paparnya.

Baca Juga :  Bermasalah, Penggunaan Absensi Berbasis Aplikasi Ditunda Dua Pekan

Menurutnya, semula jembatan itu menjadi akses utama bagi wara desanya yang ingin ke Desa Tanjungsari, Keradenan. Atau bagi mereka yang mau pergi ke sawah. Sebab banyak warga desa Dapurno memiliki lahan di bagian Selatan jembatan. Daripada memutar, mereka melewati jembatan itu menjadi pilihan. “Dulu bisa dipakai lewat motor juga. Sehingga memang menjadi akses utama,” terangnya.

Puji menambahkan, jembatan memang itu memiliki kedekatan historis dengan warga sekitar. Mengingat, dahulu pernah menjadi lalu lalang warga sekitar ketika beraktivitas. “Warga menyebut jembatan itu sebagai jembatan teyeng. Karena sudah pada berkarat,” jelasnya.  (tos/khim)






Reporter: Eko Santoso

GROBOGAN – Jembatan bersejarah peninggalan Belanda di daerah perbatasan yang menghubungkan Desa Dapurno, Wirosari dan Desa Tanjungsari, Keradenan roboh. Hampir semua bagian jembatan runtuh ke Sungai Lusi. Robohnya jembatan diperkirakan terjadi pada Kamis (21/7) sekitar pukul 02.00.

Baca Juga : Heboh! Pria di Grobogan Pamer Kemaluan di Pinggir Jalan, Incar Pengendara Perempuan

Perangkat desa Dapurno Puji Santoso menyebut, robohnya jembatan itu terjadi mengingat pondasi atau tiyang penyangga bagian selatan geser hingga patah. Hal itu disebabkan derasnya hujan beberapa hari lalu yang menyebabkan debit air Sungai Lusi meningkat sehingga mengikis bangunan pondasi di sisi selatan.

“Terlebih lagi, struktur bangunan jembatan yang tak lagi kokoh karena dimakan usia. Kemarin sebelum roboh ada yang lewat pakai sepeda dan merasa sudah goyang-goyang. Sehingga tak jadi melintas,” paparnya.

Baca Juga :  Tragis! Wanita di Grobogan Tertabrak dan Terseret Truk di SPBU, Begini Kronologinya

Menurutnya, semula jembatan itu menjadi akses utama bagi wara desanya yang ingin ke Desa Tanjungsari, Keradenan. Atau bagi mereka yang mau pergi ke sawah. Sebab banyak warga desa Dapurno memiliki lahan di bagian Selatan jembatan. Daripada memutar, mereka melewati jembatan itu menjadi pilihan. “Dulu bisa dipakai lewat motor juga. Sehingga memang menjadi akses utama,” terangnya.

Puji menambahkan, jembatan memang itu memiliki kedekatan historis dengan warga sekitar. Mengingat, dahulu pernah menjadi lalu lalang warga sekitar ketika beraktivitas. “Warga menyebut jembatan itu sebagai jembatan teyeng. Karena sudah pada berkarat,” jelasnya.  (tos/khim)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/