alexametrics
27.5 C
Kudus
Tuesday, July 5, 2022

14 Calon Sekolah Adiwiyata Dinilai, Apa Saja Kriterianya?

GROBOGAN – Sebanyak 14 sekolah di Kabupaten Grobogan menguatkan program-program terbaiknya untuk meraih adiwiyata tingkat kabupaten. Tim penilaian sekolah adiwiyata mulai memberikan penilaian sejak 15 hingga 20 Desember.

Penilaian itu dilakukan ditujuh sekolah dasar (SD), enam SMP, dan 1 MTs yang dilaksanakan selama empat hari yang dimulai pada 15, 16, 17 dan 20 Desember. Ada 24 poin indikator menjadi penunjang penilaian.

Salah satu tim penilai, Kasi Peningkatan Kapasitas DLH Grobogan Ika Puspitasari mengatakan, ada beberapa komponen dalam penilaian. Di antaranya mengenai kebersihan ruang kelas. Kemudian maksimalnya fungsi sanitasi. Drainase dalam sekolah bersih dan berfungsi, kondisi kebersihan lingkungan sekitar sekolah.


Selain itu, pengelolaan sampah TPS 3R, terpilah hingga pembuatan kompos. Kemudian, ada penghijauan, pemeliharaan pembibitan pohon, dan tempat cuci tangan. Adanya imbauan penghematan penggunaan air, dilanjut adanya lubang biopori dan sumur resapan.

“Poin yang juga ada seperti pemanfaatan air hujan, limbah air cuci tangan, dan air wudu. Imbauan penghematan energi, pemanfaatan cahaya alami, penggunaan peralatan hemat listrik, mengatur suhu AC 24-25 derajat celcius, medsos aktif hingga pemasangan majalah dinding atau poster yang mengunakan PRLH,” jelasnya.

Saat penilaian, tim mengecek satu persatu secara fisik kemudian mengevaluasi. Setelah itu, hasilnya akan dirapatkan bersama untuk membahas kelayakan mendapatkan penghargaan adiwiyata. “Yang lolos baru diminta mengumpulkan berkas. Ada waktu sekitar satu tahun,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bupati Sri Sumarni Ajak Pelaku UMKM Bisa Ikut Asuransi Usaha

Menurutnya selama penilaian ini masih banyak yang harus dievalusi sekolah. Terlebih mengenai pemanfaatan lahan sekolah untuk penghijauan, hingga pengurangan sampah plastik yang ada di kantin hingga penyajian makanan sekolah.

“Masih cukup banyak yang harus dievaluasi, rata-rata belum memiliki pengolahan sampah 3R, harusnya sampah selesai di sekolah. Kemudian tanaman hidroponik hingga pemanfaatan air wudhu juga belum ada,” jelasnya.

Selain itu, penggunaan biopori air resapan juga masih minim diterapkan. Kemudian masih banyak papan mau pun kertas dan sterofom yang di tempel di dinding. Seharusnya dibingkai baru digantung sehingga tidak merusak dinding.

Kepala SDN 1 Grobogan Basori menambahkan, kekompakan guru dan murid dirasa penting untuk bisa menjadikan sekolah tersebut layak mendapatkan penghargaan adiwiyata.

“Memang masih kurang, namun tahun ini saya sudah mengajak anak-anak untuk merawat tanaman. Memanfaatkan lahan untuk hidroponik. Serta tahun depan kemungkinan mulai memasang biopori di halaman sekolah, karena di sini kerap banjir,” imbuhnya. (int/mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Sebanyak 14 sekolah di Kabupaten Grobogan menguatkan program-program terbaiknya untuk meraih adiwiyata tingkat kabupaten. Tim penilaian sekolah adiwiyata mulai memberikan penilaian sejak 15 hingga 20 Desember.

Penilaian itu dilakukan ditujuh sekolah dasar (SD), enam SMP, dan 1 MTs yang dilaksanakan selama empat hari yang dimulai pada 15, 16, 17 dan 20 Desember. Ada 24 poin indikator menjadi penunjang penilaian.

Salah satu tim penilai, Kasi Peningkatan Kapasitas DLH Grobogan Ika Puspitasari mengatakan, ada beberapa komponen dalam penilaian. Di antaranya mengenai kebersihan ruang kelas. Kemudian maksimalnya fungsi sanitasi. Drainase dalam sekolah bersih dan berfungsi, kondisi kebersihan lingkungan sekitar sekolah.

Selain itu, pengelolaan sampah TPS 3R, terpilah hingga pembuatan kompos. Kemudian, ada penghijauan, pemeliharaan pembibitan pohon, dan tempat cuci tangan. Adanya imbauan penghematan penggunaan air, dilanjut adanya lubang biopori dan sumur resapan.

“Poin yang juga ada seperti pemanfaatan air hujan, limbah air cuci tangan, dan air wudu. Imbauan penghematan energi, pemanfaatan cahaya alami, penggunaan peralatan hemat listrik, mengatur suhu AC 24-25 derajat celcius, medsos aktif hingga pemasangan majalah dinding atau poster yang mengunakan PRLH,” jelasnya.

Saat penilaian, tim mengecek satu persatu secara fisik kemudian mengevaluasi. Setelah itu, hasilnya akan dirapatkan bersama untuk membahas kelayakan mendapatkan penghargaan adiwiyata. “Yang lolos baru diminta mengumpulkan berkas. Ada waktu sekitar satu tahun,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bupati Sri Sumarni Ajak Pelaku UMKM Bisa Ikut Asuransi Usaha

Menurutnya selama penilaian ini masih banyak yang harus dievalusi sekolah. Terlebih mengenai pemanfaatan lahan sekolah untuk penghijauan, hingga pengurangan sampah plastik yang ada di kantin hingga penyajian makanan sekolah.

“Masih cukup banyak yang harus dievaluasi, rata-rata belum memiliki pengolahan sampah 3R, harusnya sampah selesai di sekolah. Kemudian tanaman hidroponik hingga pemanfaatan air wudhu juga belum ada,” jelasnya.

Selain itu, penggunaan biopori air resapan juga masih minim diterapkan. Kemudian masih banyak papan mau pun kertas dan sterofom yang di tempel di dinding. Seharusnya dibingkai baru digantung sehingga tidak merusak dinding.

Kepala SDN 1 Grobogan Basori menambahkan, kekompakan guru dan murid dirasa penting untuk bisa menjadikan sekolah tersebut layak mendapatkan penghargaan adiwiyata.

“Memang masih kurang, namun tahun ini saya sudah mengajak anak-anak untuk merawat tanaman. Memanfaatkan lahan untuk hidroponik. Serta tahun depan kemungkinan mulai memasang biopori di halaman sekolah, karena di sini kerap banjir,” imbuhnya. (int/mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/