alexametrics
24 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Dinkes Grobogan Ungkap Kasus Stunting di Empat Kecamatan Masih Tinggi

GROBOGAN – Permasalahan stunting (gagal tumbuh) di Kabupaten Grobogan masih menjadi pekerjaan rumah. Sebab masih ada kasus stunting di empat kecamatan.

Kepala Dinkes Grobogan Slamet Widodo melalui Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Agus Setijorini mengatakan, data yang diakui hanya di aplikasi pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM). Namun, hingga kini baru terentri sekitar 40 persen.

“Angka itu belum diakui karena belum ada 80 persen terentri. Saat ini petugas masih terus berjuang untuk entri data tersebut. Harapannya ditarget pada 2024, angka stunting bisa ditekan hingga 14 persen,” jelasnya.


Namun, adanya pandemi yang melanda ini dikhawatirkan meningkatkan angka stunting. Meski angka resmi prevalensi stunting hingga kini masih belum ada. Akan tetapi, menurutnya, dari meningkatkannya angka pengangguran dan angka kemiskinan selama pandemi. Maka kemungkinan angka stunting bisa ikut meningkat.

“Banyaknya pengangguran dan kemiskinan naik, dimemungkinkan konsumsi pada kelompok ibu hamil, pada anak-anak dan bayi akan terjadi penurunan. Nah, tentunya ada risiko kejadian berat badan bayi rendah. Itu tanda-tanda pertumbuhan secara fisik organnya rendah. Itu penyebab stunting,” tegasnya.

Hingga kini masih ada 15 desa di lima kecamatan yang menjadi desa locus stunting di antaranya di Kecamatan Gabus yakni di Desa Sulursari, Keyongan, Suwatu, Tahunan, Tlogotirto, dan Palem. Kemudian Kecamatan Godong di Desa Wanuntunggal, Bugel, Bringin, dan Jatilor. Di Kecamatan Pulokulon meliputi Desa Sidorejo. Di Kecamatan Geyer di Desa Sobo, Rambat dan Juworo. Serta Kecamatan Tanggungharjo di Desa Padang.

Baca Juga :  Semarakan HUT TNI, Kodim Grobogan Ziarah ke Makam Pahlawan

Menurutnya, kasus ini menjadi masalah kronis. Penyebab kurangnya gizi dalam waktu yang cukup lama sehingga mempengaruhi ke pertumbuhan anak. Faktor pola asuh yang kurang baik, hingga kurangnya nutrisi pada saat kehamilan. Jarak kehamilan yang pendek, hipertensi hingga akses sanitasi dan air bersih ini juga mempengaruhi pertumbuhan anak.

Saat ini Dinkes berupaya menurunkan stunting dengan mengencarkan 9 pesan pokok 1000 hari pertama kehidupan, pemberian sirup zink sebanyak 549 buah ke bayi baru lahir di 30 Puskesmas dengan indikasi panjang badan kurang dari 48 cm (laki-laki) dan kurang dari 47cm (perempuan) sampai umur 1 pekan.

“Kemudian pemberian obat cacing pada bumil trisemester 2 serta pemberian vitamin A pada balita bulan Februari dan Agustus. Ada pemberian tablet tambah darah pada remaja putri sebanyak 22.668 orang. Hingga sosialisasi penggunaan garam beryodium hingga pemberian makanan tambahan (PMT),” jelasnya. (mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Permasalahan stunting (gagal tumbuh) di Kabupaten Grobogan masih menjadi pekerjaan rumah. Sebab masih ada kasus stunting di empat kecamatan.

Kepala Dinkes Grobogan Slamet Widodo melalui Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Agus Setijorini mengatakan, data yang diakui hanya di aplikasi pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM). Namun, hingga kini baru terentri sekitar 40 persen.

“Angka itu belum diakui karena belum ada 80 persen terentri. Saat ini petugas masih terus berjuang untuk entri data tersebut. Harapannya ditarget pada 2024, angka stunting bisa ditekan hingga 14 persen,” jelasnya.

Namun, adanya pandemi yang melanda ini dikhawatirkan meningkatkan angka stunting. Meski angka resmi prevalensi stunting hingga kini masih belum ada. Akan tetapi, menurutnya, dari meningkatkannya angka pengangguran dan angka kemiskinan selama pandemi. Maka kemungkinan angka stunting bisa ikut meningkat.

“Banyaknya pengangguran dan kemiskinan naik, dimemungkinkan konsumsi pada kelompok ibu hamil, pada anak-anak dan bayi akan terjadi penurunan. Nah, tentunya ada risiko kejadian berat badan bayi rendah. Itu tanda-tanda pertumbuhan secara fisik organnya rendah. Itu penyebab stunting,” tegasnya.

Hingga kini masih ada 15 desa di lima kecamatan yang menjadi desa locus stunting di antaranya di Kecamatan Gabus yakni di Desa Sulursari, Keyongan, Suwatu, Tahunan, Tlogotirto, dan Palem. Kemudian Kecamatan Godong di Desa Wanuntunggal, Bugel, Bringin, dan Jatilor. Di Kecamatan Pulokulon meliputi Desa Sidorejo. Di Kecamatan Geyer di Desa Sobo, Rambat dan Juworo. Serta Kecamatan Tanggungharjo di Desa Padang.

Baca Juga :  Duh! Bumil Divaksin, Selang Dua Hari Janin Meninggal

Menurutnya, kasus ini menjadi masalah kronis. Penyebab kurangnya gizi dalam waktu yang cukup lama sehingga mempengaruhi ke pertumbuhan anak. Faktor pola asuh yang kurang baik, hingga kurangnya nutrisi pada saat kehamilan. Jarak kehamilan yang pendek, hipertensi hingga akses sanitasi dan air bersih ini juga mempengaruhi pertumbuhan anak.

Saat ini Dinkes berupaya menurunkan stunting dengan mengencarkan 9 pesan pokok 1000 hari pertama kehidupan, pemberian sirup zink sebanyak 549 buah ke bayi baru lahir di 30 Puskesmas dengan indikasi panjang badan kurang dari 48 cm (laki-laki) dan kurang dari 47cm (perempuan) sampai umur 1 pekan.

“Kemudian pemberian obat cacing pada bumil trisemester 2 serta pemberian vitamin A pada balita bulan Februari dan Agustus. Ada pemberian tablet tambah darah pada remaja putri sebanyak 22.668 orang. Hingga sosialisasi penggunaan garam beryodium hingga pemberian makanan tambahan (PMT),” jelasnya. (mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/