alexametrics
23.7 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Tekan Kasus Keracunan, TPM di Grobogan Dilatih Hygiene Sanitasi

PURWODADI, Radar Kudus- Puluhan tempat pengelolaan makanan (TPM) terdiri dari rumah makan, restoran, jasa boga, katering, penjaja dan katin mendapatkan pelatihan hygiene sanitasi makanan. Adanya itu untuk meningkatkan kesehatan masyakat dan menekan angka keracunan setiap tahunnya.

Menurut Kasi Survailen, Imunisasi dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan Pujiyono, ada puluhan kasus keracunan setiap tahunnya. Didominasi kluster hajatan. Per 2019 ada empat kasus dengan 25 penderita. Empat penderita keracunan di Kecamatan Ngaringan dan 21 penderita di Desa Mayahan Kecamatan Tawangharjo.

Kemudian 2020 ada empat kasus dengan 68 penderita, terjadi di Kecamatan Godong dengan lima penderita. Disusul Pulokulon dengan 10 penderita, Gubug dengan tujuh penderita, Purwodadi dengan 5 penderita dan Desa Getasrejo Kecamatan Grobogan dengan 41 penderita. Serta tahun ini ada satu kasus dengan 45 penderita yang terjadi di Desa Tambakselo Kecamatan Wirosari.

(INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)


”Dalam menekan hal serupa agar tak terulang lagi setiap tahunnya. Para pemilik makanan, pedagang makanan (Red, TPM) ini kami berikan pembinaan dan pengawasan. Dengan harapan pengolahan makanan tetap bersih dan sehat. Namun, hal ini butuh upaya preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tersebut,” tegas Kasi Kesehatan Lingkungan Dinkes Grobogan Jati Yuswaningsih.

Baca Juga :  Kades di Grobogan Dirikan Museum untuk Tampung Ratusan Temuan Kuno

Permasalahan yang sering dihadapi antara lain air yang tidak memenuhi syarat, Kemudian makanan yang disajikan masih ditemukan bakteri, tempat sampah yang tidak tertutup serta menggunakan plastik hitam dalam membungkus makanan.

”Mereka juga masih belum memakai APD memasak seperti topi, celemek, sarung tangan, tutup rambut dan masker. Mereka mengaku masih sering menemukan rambut pada makanan. Hal ini sebisa mungkin mulai dihilangi,” paparnya.

Maka dengan penerapan hygiene sanitasi dalam pengelolaan makanan ini diharapkan mengilangkan terjadinya keracunan makanan yang rata-rata disebabkan bakteri, jamur, hingga logam berat.

”Serta diharapkan dapat meningkatkan omset penjualan dari produk-produk yang dimiliki dengan memberikan makanan yang hygiene sanitasi dan tambahan pangan yang aman dikonsumsi,” paparnya.






Reporter: Intan Maylani Sabrina

PURWODADI, Radar Kudus- Puluhan tempat pengelolaan makanan (TPM) terdiri dari rumah makan, restoran, jasa boga, katering, penjaja dan katin mendapatkan pelatihan hygiene sanitasi makanan. Adanya itu untuk meningkatkan kesehatan masyakat dan menekan angka keracunan setiap tahunnya.

Menurut Kasi Survailen, Imunisasi dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan Pujiyono, ada puluhan kasus keracunan setiap tahunnya. Didominasi kluster hajatan. Per 2019 ada empat kasus dengan 25 penderita. Empat penderita keracunan di Kecamatan Ngaringan dan 21 penderita di Desa Mayahan Kecamatan Tawangharjo.

Kemudian 2020 ada empat kasus dengan 68 penderita, terjadi di Kecamatan Godong dengan lima penderita. Disusul Pulokulon dengan 10 penderita, Gubug dengan tujuh penderita, Purwodadi dengan 5 penderita dan Desa Getasrejo Kecamatan Grobogan dengan 41 penderita. Serta tahun ini ada satu kasus dengan 45 penderita yang terjadi di Desa Tambakselo Kecamatan Wirosari.

(INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

”Dalam menekan hal serupa agar tak terulang lagi setiap tahunnya. Para pemilik makanan, pedagang makanan (Red, TPM) ini kami berikan pembinaan dan pengawasan. Dengan harapan pengolahan makanan tetap bersih dan sehat. Namun, hal ini butuh upaya preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tersebut,” tegas Kasi Kesehatan Lingkungan Dinkes Grobogan Jati Yuswaningsih.

Baca Juga :  Jamaah Perempuan NU Grobogan Dukung Gus Muhaiminin Maju Capres RI

Permasalahan yang sering dihadapi antara lain air yang tidak memenuhi syarat, Kemudian makanan yang disajikan masih ditemukan bakteri, tempat sampah yang tidak tertutup serta menggunakan plastik hitam dalam membungkus makanan.

”Mereka juga masih belum memakai APD memasak seperti topi, celemek, sarung tangan, tutup rambut dan masker. Mereka mengaku masih sering menemukan rambut pada makanan. Hal ini sebisa mungkin mulai dihilangi,” paparnya.

Maka dengan penerapan hygiene sanitasi dalam pengelolaan makanan ini diharapkan mengilangkan terjadinya keracunan makanan yang rata-rata disebabkan bakteri, jamur, hingga logam berat.

”Serta diharapkan dapat meningkatkan omset penjualan dari produk-produk yang dimiliki dengan memberikan makanan yang hygiene sanitasi dan tambahan pangan yang aman dikonsumsi,” paparnya.






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/