alexametrics
29.5 C
Kudus
Wednesday, June 29, 2022

Survei Larva DBD, Dinkes Grobogan Temukan Vektor Malaria

GROBOGAN – Permasalahan Demam Berdarah Dengeu (DBD) menjadi permasalahan serius di Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan. Kini Grobogan masuk 10 besar tertinggi se-Jateng. Survei larva mulai dilakukan di beberapa titik, selain jenis aides aegypti juga ditemukan jenis anopheles vektor Malaria.

Kasi Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Grobogan Gunawan Cahyo Utomo mengatakan, survei larva dilakukan sejak tahun lalu dan tahun ini. Dimaksud untuk mengetahui virus DBD dan spesies nyamuk apa yang ada di Kabupaten Grobogan.

Pengambilan sampel larva dilakukan di beberapa titik yang banyak kasus DBD. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 202 sampel dari Desa Geyer dan Kropak Kecamatan Wirosari. ”Utamanya di Desa Kropak karena ada kasus beruntun 6 kasus yang dirawat di rumah sakit karena DBD. Maka kami mengambil sampel di sana,” jelasnya.


Pengambilan sampel dilakukan selama dua hari oleh kader. Diambil di dalam rumah, sepanjang waktu penangkapan dengan jumlah yang hampir sama setiap jamnya. ”Kami temukan nyamuk DBD tidak diwaktu-waktu tertentu. Sehingga teori keluarnya nyamuk DBD di waktu tertentu kini sudah dipatahkan,” imbuhnya.

Dalam survei larva itu, ditemukan spesia nymuk aides aegypti vektor DBD hingga chikungunya. Kemudian spesies Culex dengan vektor filariasis (cacing kaki gajah). Serta spesies anopheles vektor malaria.

Baca Juga :  Mekanisme PPDB Zonasi Khusus Dapat Jatah 10 Persen

”Di Desa Geyer ada 50 persen rumahnya positif jentik. Maka masyarakat harus rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Sedangkan vektor menularkan Malaria ini banyak ditemukan di Desa Kenteng Kecamatan Toroh, kami ambil sampel di 2020 lalu. Di sana padat jenis anopheles, artinya potensi terbesar Malaria. Masyarakat di sana kebanyakan berprofesi sebagai buruh bangunan yang kerja di daerah endemis malaria,” keluhnya.

Maka dari hasil pengambilan survei larva pada 2020-2021 akan ditindaklanjuti dengan pembentukan kelompok kerja operasional penanggulangan demam berdaerah (Pokjanal-DBD) di 30 puskesmas dan 19 kecamatan untuk pelaporan jentik di wilayah setempat.

”Pekerjaan rumah (PR) kami dalam menurunkan kasus DBD dan penemuan spesies Malaria ini. Meski kasus DBD menurun, per November ini ada 249 kasus dan meninggal dunia 6 kasus. Dibanding tahun lalu ada 511 kasus dan 7 kasus meninggal dunia. Namun, DBD ini perlu diperhatikan serius karena akan jadi ancaman anak-anak. Kematian rata-rata dialami anak usia 1 hingga 5-16 tahun,” keluhnya. (int/ali)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Permasalahan Demam Berdarah Dengeu (DBD) menjadi permasalahan serius di Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan. Kini Grobogan masuk 10 besar tertinggi se-Jateng. Survei larva mulai dilakukan di beberapa titik, selain jenis aides aegypti juga ditemukan jenis anopheles vektor Malaria.

Kasi Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Grobogan Gunawan Cahyo Utomo mengatakan, survei larva dilakukan sejak tahun lalu dan tahun ini. Dimaksud untuk mengetahui virus DBD dan spesies nyamuk apa yang ada di Kabupaten Grobogan.

Pengambilan sampel larva dilakukan di beberapa titik yang banyak kasus DBD. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 202 sampel dari Desa Geyer dan Kropak Kecamatan Wirosari. ”Utamanya di Desa Kropak karena ada kasus beruntun 6 kasus yang dirawat di rumah sakit karena DBD. Maka kami mengambil sampel di sana,” jelasnya.

Pengambilan sampel dilakukan selama dua hari oleh kader. Diambil di dalam rumah, sepanjang waktu penangkapan dengan jumlah yang hampir sama setiap jamnya. ”Kami temukan nyamuk DBD tidak diwaktu-waktu tertentu. Sehingga teori keluarnya nyamuk DBD di waktu tertentu kini sudah dipatahkan,” imbuhnya.

Dalam survei larva itu, ditemukan spesia nymuk aides aegypti vektor DBD hingga chikungunya. Kemudian spesies Culex dengan vektor filariasis (cacing kaki gajah). Serta spesies anopheles vektor malaria.

Baca Juga :  12 Hari Menghilang, Kakek di Grobogan Ditemukan Tewas di Sungai Tuntang

”Di Desa Geyer ada 50 persen rumahnya positif jentik. Maka masyarakat harus rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Sedangkan vektor menularkan Malaria ini banyak ditemukan di Desa Kenteng Kecamatan Toroh, kami ambil sampel di 2020 lalu. Di sana padat jenis anopheles, artinya potensi terbesar Malaria. Masyarakat di sana kebanyakan berprofesi sebagai buruh bangunan yang kerja di daerah endemis malaria,” keluhnya.

Maka dari hasil pengambilan survei larva pada 2020-2021 akan ditindaklanjuti dengan pembentukan kelompok kerja operasional penanggulangan demam berdaerah (Pokjanal-DBD) di 30 puskesmas dan 19 kecamatan untuk pelaporan jentik di wilayah setempat.

”Pekerjaan rumah (PR) kami dalam menurunkan kasus DBD dan penemuan spesies Malaria ini. Meski kasus DBD menurun, per November ini ada 249 kasus dan meninggal dunia 6 kasus. Dibanding tahun lalu ada 511 kasus dan 7 kasus meninggal dunia. Namun, DBD ini perlu diperhatikan serius karena akan jadi ancaman anak-anak. Kematian rata-rata dialami anak usia 1 hingga 5-16 tahun,” keluhnya. (int/ali)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/