alexametrics
31.6 C
Kudus
Tuesday, May 17, 2022

Enggan Tempati Los, 200 Pedagang Pasar Pagi Purwodadi Pilih Emperan

PURWODADI – Dari 1.059 pedagang, sekitar 200 pedagang Pasar Pagi di Jalan Gajah Mada masih berjualan di emper pasar. Disperindag Grobogan berupaya mengkoordinir sejumlah pedagang tersebut.

Kepala Disperindag Grobogan Pradana Setyawan melalui Kabid Pasar Daerah Arif Effendi Z mengatakan, sejak relokasi pada 2017 banyak pedagang yang enggan menempati los. Mereka memilih berjualan di emper pasar.

Hingga tahun ini, polemik tersebut masih terjadi. Sejumlah pedagang memilih berjualan di luar ketimbang menempati los yang berada di dalam.


“Kami terus mendata pedagang yang masih di luar. Ada 200 pedagang yang terdata. Tahun ini kami optimalkan mereka berjualan di dalam. Karena masih banyak yang belum di tempati. Di luar malah memakan badan jalan dan membuat lalu lalang pembeli sulit,” keluhnya.

Maka penataan Pasar Pagi akan dilakukan kembali.Harapannya pedagang terakomodir dengan baik.  “Mereka selama ini membuka lapak sendiri di sepanjang badan jalan. Jadi pasar tampak semrawut. Dalam waktu dekat kami akan benahi lagi agar semua bisa masuk di dalam,” tegasnya.

Baca Juga :  Kejari Periksa Tersangka Korupsi Keuangan Desa Jatipecaron Pekan Ini

Kepala UPTD Pasar Purwdodadi dan Grobogan Eko Ari mengatakan, pihaknya terus melakukan pendekatan persuasif kepada pedagang agar masuk ke dalam. “Alasan mereka berdagang di luar, karena di dalam sepi. Padahal kalau mereka kompak masuk, pembeli juga akan masuk,” ungkapnya.

Pihaknya juga sudah mengajak tukang parkir untuk memadatkan lokasi parkir kendaraan. Dengan begitu tidak ada peluang pedagang untuk berjualan di luar, terutama di depan pintu masuk pasar.

Salah satu pedagang, Sri Wahyuni, 48, mengaku lebih nyaman berjualan di luar pasar. “Di luar lebih laku karena pembeli biasanya tidak mau repot ke dalam,” ungkapnya.






Reporter: Intan Maylani Sabrina

PURWODADI – Dari 1.059 pedagang, sekitar 200 pedagang Pasar Pagi di Jalan Gajah Mada masih berjualan di emper pasar. Disperindag Grobogan berupaya mengkoordinir sejumlah pedagang tersebut.

Kepala Disperindag Grobogan Pradana Setyawan melalui Kabid Pasar Daerah Arif Effendi Z mengatakan, sejak relokasi pada 2017 banyak pedagang yang enggan menempati los. Mereka memilih berjualan di emper pasar.

Hingga tahun ini, polemik tersebut masih terjadi. Sejumlah pedagang memilih berjualan di luar ketimbang menempati los yang berada di dalam.

“Kami terus mendata pedagang yang masih di luar. Ada 200 pedagang yang terdata. Tahun ini kami optimalkan mereka berjualan di dalam. Karena masih banyak yang belum di tempati. Di luar malah memakan badan jalan dan membuat lalu lalang pembeli sulit,” keluhnya.

Maka penataan Pasar Pagi akan dilakukan kembali.Harapannya pedagang terakomodir dengan baik.  “Mereka selama ini membuka lapak sendiri di sepanjang badan jalan. Jadi pasar tampak semrawut. Dalam waktu dekat kami akan benahi lagi agar semua bisa masuk di dalam,” tegasnya.

Baca Juga :  Tracing Belum Maksimal, PPKM Grobogan Masih Level 2

Kepala UPTD Pasar Purwdodadi dan Grobogan Eko Ari mengatakan, pihaknya terus melakukan pendekatan persuasif kepada pedagang agar masuk ke dalam. “Alasan mereka berdagang di luar, karena di dalam sepi. Padahal kalau mereka kompak masuk, pembeli juga akan masuk,” ungkapnya.

Pihaknya juga sudah mengajak tukang parkir untuk memadatkan lokasi parkir kendaraan. Dengan begitu tidak ada peluang pedagang untuk berjualan di luar, terutama di depan pintu masuk pasar.

Salah satu pedagang, Sri Wahyuni, 48, mengaku lebih nyaman berjualan di luar pasar. “Di luar lebih laku karena pembeli biasanya tidak mau repot ke dalam,” ungkapnya.






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/