alexametrics
29.9 C
Kudus
Sunday, May 29, 2022

Datangkan Insinerator Baru, DLH Grobogan Bisa Olah Sampah Infeksius

PURWODADI – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan kini memiliki alat insinerator sendiri. Kini alat itu ditempatkan di TPA Ngembak, Kecamatan Purwodadi. Kemarin, DLH uji coba. Rencananya insinerator itu untuk mengolah sampah infeksius.

Kasi Penanganan Sampah DLH Grobogan Noer Rochman mengatakan, limbah infeksius atau B3 rumah tangga bertambah selama pandemi. Meski jumlah yang terkumpul tidak terlalu banyak, namun cukup merepotkan DLH dalam memusnahkannya, karena harus menggunakan alat khusus.

“Saat itu kami sempat membuat insinerator sendiri dengan suhu pembakaran hampir 800 derajat. Namun, inovasi itu dikritik pusat. DLH tetap diminta membeli alat insinerator yang layak. Akhirnya alat tersebut kami usulkan di APBD tahun ini senilai Rp 125 juta. Setelah datang langsung kami uji coba pakai,” ungkapnya.


Saat uji coba yang berlangsung kemarin, petugas awalnya mengisi bak air hingga penuh bersama dengan menyalakan blower dan sprayer. Kemudian mengisi bahan bakar (oli limbah), memasukkan sampah ke dalam insinerator (diutamakan sampah yang kering dulu), lalu, menyalakan tungku.

Baca Juga :  Dua Lokasi Destinasi Wisata di Grobogan Digelontor Rp 50 Juta

Petugas juga mengalirkan bahan bakar, sesuai keperluan. Setelah terjadi tekanan uap dan api terdorong dalam ruang bakar hingga sampah terbakar, selajutnya sampah dimasukkan secara bertahap. Kemudian diakhiri dengan menutup aliran bahan bakar, tunggu sampai api padam, pompa dan blower bisa dimatikan. Hingga akhirnya air limbah scruber bisa dikuras berkala sesuai keadaan.

Dalam uji coba tersebut, sebanyak 350 kg sampah infeksius dimasukkan dalam sekali putaran. Ke depan pihaknya juga diwajibkan uji lab hasil asap yang dikeluarkan dari alat tersebut.

PURWODADI – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan kini memiliki alat insinerator sendiri. Kini alat itu ditempatkan di TPA Ngembak, Kecamatan Purwodadi. Kemarin, DLH uji coba. Rencananya insinerator itu untuk mengolah sampah infeksius.

Kasi Penanganan Sampah DLH Grobogan Noer Rochman mengatakan, limbah infeksius atau B3 rumah tangga bertambah selama pandemi. Meski jumlah yang terkumpul tidak terlalu banyak, namun cukup merepotkan DLH dalam memusnahkannya, karena harus menggunakan alat khusus.

“Saat itu kami sempat membuat insinerator sendiri dengan suhu pembakaran hampir 800 derajat. Namun, inovasi itu dikritik pusat. DLH tetap diminta membeli alat insinerator yang layak. Akhirnya alat tersebut kami usulkan di APBD tahun ini senilai Rp 125 juta. Setelah datang langsung kami uji coba pakai,” ungkapnya.

Saat uji coba yang berlangsung kemarin, petugas awalnya mengisi bak air hingga penuh bersama dengan menyalakan blower dan sprayer. Kemudian mengisi bahan bakar (oli limbah), memasukkan sampah ke dalam insinerator (diutamakan sampah yang kering dulu), lalu, menyalakan tungku.

Baca Juga :  Atlet Atletik Asal Grobogan Berhasil Gondol Emas di PON XX Papua

Petugas juga mengalirkan bahan bakar, sesuai keperluan. Setelah terjadi tekanan uap dan api terdorong dalam ruang bakar hingga sampah terbakar, selajutnya sampah dimasukkan secara bertahap. Kemudian diakhiri dengan menutup aliran bahan bakar, tunggu sampai api padam, pompa dan blower bisa dimatikan. Hingga akhirnya air limbah scruber bisa dikuras berkala sesuai keadaan.

Dalam uji coba tersebut, sebanyak 350 kg sampah infeksius dimasukkan dalam sekali putaran. Ke depan pihaknya juga diwajibkan uji lab hasil asap yang dikeluarkan dari alat tersebut.

Most Read

Artikel Terbaru

/