alexametrics
29.8 C
Kudus
Tuesday, May 17, 2022

Bledug Kuwu Masuk Percepatan Pembangunan Kawasan Kedungsepur

GROBOGAN – Bledug Kuwu menjadi salah satu ikon destinasi wisata di Kabupaten Grobogan. Wisata alam yang menyuguhkan letupan lumpur ini ternyata masuk di percepatan pembangunan kawasan Kedungsepur. Pembenahan mulai disiapkan.

Seiring bertambahnya tahun, semburan lumpur tak setinggi dan sebanyak dulu. Saat ini hanya ada tiga titik semburan. Bahkan, sisa satu yang masih cukup besar dan kerap menyembur. Tak dipungkiri, jika semakin hari semburan tersebut akan semakin mengecil dan menghilang. Maka, Pemkab Grobogan terus berupaya menjaga fenomena alam yang sudah lama ada ini.

Kabid Prasarana Wilayah dan Ekonomi Bappeda Grobogan Candra Yulian Pasha mengatakan, usulan revitalisasi sedang dilakukan ke pusat. Karena menjadi bagian dari program yang masuk dalam Perpres 79 Tahun 2019 tentang percepatan pembangunan kawasan Kedungsepur, Purwomanggung dan Bregasmalang.


”Sudah ada draf Feasibility Study (FS) dan master plan. Namun, masih kami minta untuk revisi karena kebutuhan anggaran dan tarif pengunjung terlalu besar. Masih disimulasikan perhitungannya,” jelasnya.

Candra menambahkan, dalam kurun waktu lima tahun, pengunjung di Bledug Kuwu semakin menurun. Dalam data tercatat, pada 2016 ada 44.693 pengunjung, 2017 ada 34.842, 2018 ada 31.632, 2019 ada 30.025 pengunjung dan 2020 turun drastis dengan 13.600 pengunjung.

Baca Juga :  Crazy Rich Grobogan yang Bangun Jalan Ini Dulunya Jualan Koran Demi Kuliah

”Berbagai permasalahan ditemukan di sana. Mulai dari fisik dan prasarana, seperti lingkungan gersang, kurang teduh. Sudah mencoba penghijauan di lokasi, tapi harus membawa media tanah dari luar agar tanaman bisa tumbuh di sana. Tanah yang asam, tidak bisa ditumbuhi pohon, kecuali diberi media tanah dari luar kawasan,” keluhnya.

Kemudian, fasilitas yang tersedia kurang mendukung kenyamanan. Kondisi bangunan miring dan rusak akibat tanah yang tidak stabil, atau akibat korosi udara garam. Selain itu juga area parkir terbatas dan belum ada pemisahan akses.

Candra memaparkan, akses menuju lokasi semburan juga sulit. Jalan menuju pusat semburan mudah bergeser/rusak karena menggunakan ponton. ”Penyediaan air bersih di sana terbatas,” imbuhnya.

Karena itu, pengusulan anggaran yang dibutuhkan cukup besar untuk pembenahan destinasi wisata tersebut. Besaran usulan anggarannya yakni Rp 50 miliar. Beberapa bangunan yang diusulkan antaranya jalur wisata, grasstrack, parkir kendaraan, brand name, main gate, amphitheater, kios, garasi, gedung pengelola dan gudang, musala, gazebo, gardu pandang, kolam lumpur hingga museum.






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Bledug Kuwu menjadi salah satu ikon destinasi wisata di Kabupaten Grobogan. Wisata alam yang menyuguhkan letupan lumpur ini ternyata masuk di percepatan pembangunan kawasan Kedungsepur. Pembenahan mulai disiapkan.

Seiring bertambahnya tahun, semburan lumpur tak setinggi dan sebanyak dulu. Saat ini hanya ada tiga titik semburan. Bahkan, sisa satu yang masih cukup besar dan kerap menyembur. Tak dipungkiri, jika semakin hari semburan tersebut akan semakin mengecil dan menghilang. Maka, Pemkab Grobogan terus berupaya menjaga fenomena alam yang sudah lama ada ini.

Kabid Prasarana Wilayah dan Ekonomi Bappeda Grobogan Candra Yulian Pasha mengatakan, usulan revitalisasi sedang dilakukan ke pusat. Karena menjadi bagian dari program yang masuk dalam Perpres 79 Tahun 2019 tentang percepatan pembangunan kawasan Kedungsepur, Purwomanggung dan Bregasmalang.

”Sudah ada draf Feasibility Study (FS) dan master plan. Namun, masih kami minta untuk revisi karena kebutuhan anggaran dan tarif pengunjung terlalu besar. Masih disimulasikan perhitungannya,” jelasnya.

Candra menambahkan, dalam kurun waktu lima tahun, pengunjung di Bledug Kuwu semakin menurun. Dalam data tercatat, pada 2016 ada 44.693 pengunjung, 2017 ada 34.842, 2018 ada 31.632, 2019 ada 30.025 pengunjung dan 2020 turun drastis dengan 13.600 pengunjung.

Baca Juga :  Tekan Kasus Covid-19, Babinsa di Grobogan Bantu Tracing Kontak Erat

”Berbagai permasalahan ditemukan di sana. Mulai dari fisik dan prasarana, seperti lingkungan gersang, kurang teduh. Sudah mencoba penghijauan di lokasi, tapi harus membawa media tanah dari luar agar tanaman bisa tumbuh di sana. Tanah yang asam, tidak bisa ditumbuhi pohon, kecuali diberi media tanah dari luar kawasan,” keluhnya.

Kemudian, fasilitas yang tersedia kurang mendukung kenyamanan. Kondisi bangunan miring dan rusak akibat tanah yang tidak stabil, atau akibat korosi udara garam. Selain itu juga area parkir terbatas dan belum ada pemisahan akses.

Candra memaparkan, akses menuju lokasi semburan juga sulit. Jalan menuju pusat semburan mudah bergeser/rusak karena menggunakan ponton. ”Penyediaan air bersih di sana terbatas,” imbuhnya.

Karena itu, pengusulan anggaran yang dibutuhkan cukup besar untuk pembenahan destinasi wisata tersebut. Besaran usulan anggarannya yakni Rp 50 miliar. Beberapa bangunan yang diusulkan antaranya jalur wisata, grasstrack, parkir kendaraan, brand name, main gate, amphitheater, kios, garasi, gedung pengelola dan gudang, musala, gazebo, gardu pandang, kolam lumpur hingga museum.






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/