alexametrics
28 C
Kudus
Saturday, July 23, 2022

Beragam Cara Atasi Wabah PMK di Grobogan, Ada yang Pakai Obat Herbal hingga ke Dukun

GROBOGAN – Seiring meluasnya PMK di Kabupaten Grobogan, peternak memiliki cara unik dan beragam dalam merespon. Sebagian menggunakan obat herbal yang diracik. Adapula yang langsung ke mantri hewan. Hingga minta ramuan ke dukun.

Belakangan warga Kabupaten Grobogan dihebohkan dengan kematian masal sapi milik warga Desa Jambangan, Geyer. Hingga kini, 37 sapi dinyatakan mati. Diduga besar karena penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab, dimulai dengan sakit yang bergejala mirip PMK. Terlebih mayoritas warga di desa tersebut, memelihara sapi.

Salah satu warga Desa Jambangan Sugeng yang ternaknya mati menjelaskan, saat sapinya bergejala, dia langsung merespon dengan memakai obat herbal. Dia mendengar dari cerita dari tetangga, beberapa sapi sembuh dengan obat-obat tersebut.


Dia membuat ramuan air gula. Air itu diminumkan pada sapi yang bergejala. Selain itu, juga dengan membasuhkan ramuan itu ke luka-luka di kaki. Sayang, meski sudah diberi ramuan itu, ternyata ternaknya tak membaik.

Dia kemudian membuat ramuan herbal lain. Kali ini, dengan racikan rempah-rempah. ”Saya mengikuti kata-kata orang. Saya coba. Disuruh nyemprotin ini itu. Juga suruh kasih minum racikan ini dan itu,” paparnya.

DOSIS PERTAMA: Mantri hewan menunjukkan suntukan berisi vaksin untuk menangani PMK. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Tak hanya itu, dia juga sempat pergi ke dukun untuk didoakan, agar sapinya sembuh. Diberi air yang sudah didoakan. Air itu lantas disuruh meminumkan ke sapi dan membasuh ke tubuh.

Baca Juga :  Terbentur Peraturan Menteri, Dinas Grobogan Gagal Dirikan TPA Sampah

Setelah empat hari. Ternyata tak membuahkan hasil. Sugeng lantas memanggil mantri hewan. Sapi miliknya yang bunting sembilan bulan itu, lantas disuntik. ”Itu disuntik pertama. Sebenarnya pada hari ke empat mau disuntikkan lagi,” katanya.

Sayang, saat berencana menyuntikkan sapinya di pagi hari, malam pada hari sekitar pukul 20.00 sebelumnya sapinya terlanjur mati. ”Waktu itu (sapi mati, Red) hujan. Saya Salat Isya, kemudian menengok sapi. Tahu-tahu kakinya gemetar. Roboh. Dan mati,” jelasnya.

Takut virus menyebar, sapi tersebut kemudian dikubur. Tetangganya gotong royong memikul sapi senilai Rp 21 juta itu. Dari rumah dibawa ke sungai. Lalu dikubur pinggir sungai. ”Saya pasrah saja. Minta bantuan tetangga buat mengurusi,” tuturnya.

Berbeda dengan Sugeng yang sapinya tak terselamatkan, meski sudah menempuh beragam cara. Warga lain, Suwardi bernafas lega setelah sapinya sembuh. Ia hanya memakai obat herbal. ”Saya pakai air gula merah. Kemudian racikan rempah-rempah,” jelasnya.

Lima hari setelah pemberian obat herbal itu, sapinya membaik. Lantas sembuh hingga kini. (tos/lin)






Reporter: Eko Santoso

GROBOGAN – Seiring meluasnya PMK di Kabupaten Grobogan, peternak memiliki cara unik dan beragam dalam merespon. Sebagian menggunakan obat herbal yang diracik. Adapula yang langsung ke mantri hewan. Hingga minta ramuan ke dukun.

Belakangan warga Kabupaten Grobogan dihebohkan dengan kematian masal sapi milik warga Desa Jambangan, Geyer. Hingga kini, 37 sapi dinyatakan mati. Diduga besar karena penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab, dimulai dengan sakit yang bergejala mirip PMK. Terlebih mayoritas warga di desa tersebut, memelihara sapi.

Salah satu warga Desa Jambangan Sugeng yang ternaknya mati menjelaskan, saat sapinya bergejala, dia langsung merespon dengan memakai obat herbal. Dia mendengar dari cerita dari tetangga, beberapa sapi sembuh dengan obat-obat tersebut.

Dia membuat ramuan air gula. Air itu diminumkan pada sapi yang bergejala. Selain itu, juga dengan membasuhkan ramuan itu ke luka-luka di kaki. Sayang, meski sudah diberi ramuan itu, ternyata ternaknya tak membaik.

Dia kemudian membuat ramuan herbal lain. Kali ini, dengan racikan rempah-rempah. ”Saya mengikuti kata-kata orang. Saya coba. Disuruh nyemprotin ini itu. Juga suruh kasih minum racikan ini dan itu,” paparnya.

DOSIS PERTAMA: Mantri hewan menunjukkan suntukan berisi vaksin untuk menangani PMK. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Tak hanya itu, dia juga sempat pergi ke dukun untuk didoakan, agar sapinya sembuh. Diberi air yang sudah didoakan. Air itu lantas disuruh meminumkan ke sapi dan membasuh ke tubuh.

Baca Juga :  Dua Puluh SD Penggerak di Grobogan Terapkan Kurikulum Merdeka

Setelah empat hari. Ternyata tak membuahkan hasil. Sugeng lantas memanggil mantri hewan. Sapi miliknya yang bunting sembilan bulan itu, lantas disuntik. ”Itu disuntik pertama. Sebenarnya pada hari ke empat mau disuntikkan lagi,” katanya.

Sayang, saat berencana menyuntikkan sapinya di pagi hari, malam pada hari sekitar pukul 20.00 sebelumnya sapinya terlanjur mati. ”Waktu itu (sapi mati, Red) hujan. Saya Salat Isya, kemudian menengok sapi. Tahu-tahu kakinya gemetar. Roboh. Dan mati,” jelasnya.

Takut virus menyebar, sapi tersebut kemudian dikubur. Tetangganya gotong royong memikul sapi senilai Rp 21 juta itu. Dari rumah dibawa ke sungai. Lalu dikubur pinggir sungai. ”Saya pasrah saja. Minta bantuan tetangga buat mengurusi,” tuturnya.

Berbeda dengan Sugeng yang sapinya tak terselamatkan, meski sudah menempuh beragam cara. Warga lain, Suwardi bernafas lega setelah sapinya sembuh. Ia hanya memakai obat herbal. ”Saya pakai air gula merah. Kemudian racikan rempah-rempah,” jelasnya.

Lima hari setelah pemberian obat herbal itu, sapinya membaik. Lantas sembuh hingga kini. (tos/lin)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/