alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Sikapi Kematian 31 Sapi di Grobogan, Balai Besar Gerak Cepat Ambil Sampel

GROBOGAN – Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta turun tangan mengambil sample dan spesimen untuk digunakan sebagai uji laboratorium. Yakni pada bagian darah dan liur. Ini menyikapi kematian 31 sapi di Desa Jambangan, Geyer, yang diduga akibat PMK.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan Riyanto menjelaskan, uji lab perlu dilakukan sebagai identifikasi lebih detail atas virus yang mewabah itu. Dengan begitu, bisa diantisipasi dan diobati dengan lebih baik.

”Jumat (1/7) kami tindaklanjuti dengan membawa tim balai besar veteriner Wates Jogjakarta yang kompeten terkait uji lab dan diagnosa. Untuk konfirmasi secara pasti terkait penyebab kematian 31 sapi di Desa Jambangan,” terangnya.


Pihaknya memprediksi ada sejumlah faktor yang menyebabkan adanya kematian masal sapi di Desa Jambangan. Di antaranya, mayoritas warga di desa itu, menambatkan sapi di dalam rumah saat malam hari. Tanpa ada sekat antara sapi satu dengan yang lain. Dengan begitu, bisa mudah menular jika ada penyakit.

Selain itu, karena ada pedagang sapi yang masih aktif. Termasuk, kebiasaan warga yang menjadikan tontonan jika ada sapi mati. Dengan begitu, meningkatkan potensi penularan. ”Terlebih warga yang kemarin ketika ada sapi sakit bukan laporan ke kami (petugas di Grobogan). Tapi ke mantri hewan yang bukan dari Grobogan. Kami imbau nanti agar laporan ke kami saja,” katanya.

Baca Juga :  Awal Tahun 2022, Pemkab Grobogan Siapkan Kantor Baru untuk Gedung Bappeda

Ia mengimbau agar warga ketika mendapati ternaknya sakit segera melapor ke dokter hewan Puskesmas Geyer drh Aisyah, sehingga segera bisa tertangani. ”Kalau warga menemukan ternaknya bergejala seperti luka-luka pada mulut, kaki pincang, atau tidak mau makan, segera melapor ke petugas kesehatan hewan yang kompeten. Jangan asal-asalan. Bila segera lapor pasti segera tertangani. Sebab, angka kematian akibat PMK rendah. Di bawah 3 persen,” paparnya.

Saat ini, pihak dinas menggenjot vaksiansi pada ternak sebagai bentuk pencegahan. Kuota 5.000 vaksin pun rampung disuntikkan. Pihaknya tinggal menunggu dropping vaksin berikutnya. ”Harapannya dapat banyak (vaksin), sehingga semua ternak bisa tervaksin,” imbuhnya.

Kapolsek Geyer Iptu Joko Susilo menerangkan, selain beberapa langkah itu, pihak dinas bersinergi dengan PMI, kepolisian, TNI, dan masyarakat melakukan penyemprotan serta pembagian ecoenzym. ”Pengobatan ini melibatkan Polsek geyer, koramil, dan trantib serta rekan-rekan PMI. Penyemprotan dilakukan di kandang-kandang ternak milik warga,” katanya.

Pihaknya berharap, dengan kegiatan itu menjadikan warga lebih disiplin menjaga hewan ternak yang masih sehat maupun dalam pengobatan. Juga menjaga sterilisasi kendang, sehingga penularan bisa terkendali. (tos/lin)






Reporter: Eko Santoso

GROBOGAN – Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta turun tangan mengambil sample dan spesimen untuk digunakan sebagai uji laboratorium. Yakni pada bagian darah dan liur. Ini menyikapi kematian 31 sapi di Desa Jambangan, Geyer, yang diduga akibat PMK.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan Riyanto menjelaskan, uji lab perlu dilakukan sebagai identifikasi lebih detail atas virus yang mewabah itu. Dengan begitu, bisa diantisipasi dan diobati dengan lebih baik.

”Jumat (1/7) kami tindaklanjuti dengan membawa tim balai besar veteriner Wates Jogjakarta yang kompeten terkait uji lab dan diagnosa. Untuk konfirmasi secara pasti terkait penyebab kematian 31 sapi di Desa Jambangan,” terangnya.

Pihaknya memprediksi ada sejumlah faktor yang menyebabkan adanya kematian masal sapi di Desa Jambangan. Di antaranya, mayoritas warga di desa itu, menambatkan sapi di dalam rumah saat malam hari. Tanpa ada sekat antara sapi satu dengan yang lain. Dengan begitu, bisa mudah menular jika ada penyakit.

Selain itu, karena ada pedagang sapi yang masih aktif. Termasuk, kebiasaan warga yang menjadikan tontonan jika ada sapi mati. Dengan begitu, meningkatkan potensi penularan. ”Terlebih warga yang kemarin ketika ada sapi sakit bukan laporan ke kami (petugas di Grobogan). Tapi ke mantri hewan yang bukan dari Grobogan. Kami imbau nanti agar laporan ke kami saja,” katanya.

Baca Juga :  Tekan Risiko Bencana, Pemkab Grobogan dan Stakeholder Tanam Pohon

Ia mengimbau agar warga ketika mendapati ternaknya sakit segera melapor ke dokter hewan Puskesmas Geyer drh Aisyah, sehingga segera bisa tertangani. ”Kalau warga menemukan ternaknya bergejala seperti luka-luka pada mulut, kaki pincang, atau tidak mau makan, segera melapor ke petugas kesehatan hewan yang kompeten. Jangan asal-asalan. Bila segera lapor pasti segera tertangani. Sebab, angka kematian akibat PMK rendah. Di bawah 3 persen,” paparnya.

Saat ini, pihak dinas menggenjot vaksiansi pada ternak sebagai bentuk pencegahan. Kuota 5.000 vaksin pun rampung disuntikkan. Pihaknya tinggal menunggu dropping vaksin berikutnya. ”Harapannya dapat banyak (vaksin), sehingga semua ternak bisa tervaksin,” imbuhnya.

Kapolsek Geyer Iptu Joko Susilo menerangkan, selain beberapa langkah itu, pihak dinas bersinergi dengan PMI, kepolisian, TNI, dan masyarakat melakukan penyemprotan serta pembagian ecoenzym. ”Pengobatan ini melibatkan Polsek geyer, koramil, dan trantib serta rekan-rekan PMI. Penyemprotan dilakukan di kandang-kandang ternak milik warga,” katanya.

Pihaknya berharap, dengan kegiatan itu menjadikan warga lebih disiplin menjaga hewan ternak yang masih sehat maupun dalam pengobatan. Juga menjaga sterilisasi kendang, sehingga penularan bisa terkendali. (tos/lin)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/