25.3 C
Kudus
Monday, November 28, 2022

Meski Sudah Dilarang, Pemasungan Penderita Gangguan Jiwa Masih Ditemukan di Grobogan

GROBOGAN – Meski sudah dilarang, petugas masih menemukan pemasungan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di sejumlah daerah di Grobogan. Kini tercatat ada 25 kasus pasung.

Kepala Dinkes Grobogan Slamet Widodo melalui Kasi Penyakit Tidak Menular (PTM) Subandi mengatakan, masalah pemasungan ini sangat serius karena ODGJ mengalami dua kecacatan sekaligus yakni raga dan jiwa.

“Seharusnya tidak perlu dipasung, baik dengan kayu maupun rantai. Itu membuat tubuhnya mengalami kecacatan. Apalagi yang sudah bertahun-tahun dipasung. setiap petugas Puskesmas melapor ke kami, lalu kami menindaklanjuti untuk mengambil. Saat pengambilan kami selalu mendapat kendala, lantaran pihak keluarga melarang kami membawanya dengan berbagai alasan. Padahal kami meyayangkan pemasungan itu. Mereka yang semula bisa jalan, bisa jadi lumpuh selamanya karena terpasung,” keluhnya.


Dia mengatakan, ODGJ harus diperlakukan seperti martabatnya. Sehingga tidak manusiawi jika dibiarkan begitu saja terikat dan tidak bisa kemana-mana. Korban pasung rata-rata keluarga yang memiliki ekonomi rendah. Mereka tak punya banyak waktu untuk memeriksakan ke rumah sakit jiwa (RSJ), hingga malu mengenalkan keluarga yang ODGJ tersebut ke masyarakat. Bahkan banyak yang sudah tak memiliki keluarga, sehingga tetangga membuatkan satu ruangan mirip kandang dan dipasung.

Baca Juga :  Jedag Jedug sampai Malam, Warga Minta Kafe Karaoke di Grobogan Ini Ditutup

Dia mengatakan, korban pasung di Grobogan juga masih banyak yang belum mendapat penanganan, lantaran kurangnya kesadaran dari masyarakat. “Masyarakat banyak yang belum paham. Jika korban masih memiliki keluarga, korban bisa diusulkan bantuan di BPJS untuk pengobatan. Hingga penyembuhan selama sebulan di ruang kejiwaan RSUD dr Soedjati Purwodadi. Ini cukup membantu memulihkan psikologis mereka. Namun, ruang khusus ODGJ di sini hanya ada satu. Sehingga kapasitas sangat minim,” ungkapnya.

Tidak adanya tempat penampungan khusus ODGJ atau eks psikotis milik Pemkab Grobogan membuat petugas kualahan. Bahkan, harus mengirim ke luar daerah. Namun, tak jarang keluarga meminta agar tetap di rumah. Meski pun dengan solusi dipasung.

“Ada selter sosial milik Dinsos, namun hanya bersifat penampungan sementara. Sehingga tidak bisa di situ terus,” ungkapnya. (int/mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Meski sudah dilarang, petugas masih menemukan pemasungan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di sejumlah daerah di Grobogan. Kini tercatat ada 25 kasus pasung.

Kepala Dinkes Grobogan Slamet Widodo melalui Kasi Penyakit Tidak Menular (PTM) Subandi mengatakan, masalah pemasungan ini sangat serius karena ODGJ mengalami dua kecacatan sekaligus yakni raga dan jiwa.

“Seharusnya tidak perlu dipasung, baik dengan kayu maupun rantai. Itu membuat tubuhnya mengalami kecacatan. Apalagi yang sudah bertahun-tahun dipasung. setiap petugas Puskesmas melapor ke kami, lalu kami menindaklanjuti untuk mengambil. Saat pengambilan kami selalu mendapat kendala, lantaran pihak keluarga melarang kami membawanya dengan berbagai alasan. Padahal kami meyayangkan pemasungan itu. Mereka yang semula bisa jalan, bisa jadi lumpuh selamanya karena terpasung,” keluhnya.

Dia mengatakan, ODGJ harus diperlakukan seperti martabatnya. Sehingga tidak manusiawi jika dibiarkan begitu saja terikat dan tidak bisa kemana-mana. Korban pasung rata-rata keluarga yang memiliki ekonomi rendah. Mereka tak punya banyak waktu untuk memeriksakan ke rumah sakit jiwa (RSJ), hingga malu mengenalkan keluarga yang ODGJ tersebut ke masyarakat. Bahkan banyak yang sudah tak memiliki keluarga, sehingga tetangga membuatkan satu ruangan mirip kandang dan dipasung.

Baca Juga :  Tak Lolos Verifikasi Administrasi, Empat Parpol di Grobogan Gugur

Dia mengatakan, korban pasung di Grobogan juga masih banyak yang belum mendapat penanganan, lantaran kurangnya kesadaran dari masyarakat. “Masyarakat banyak yang belum paham. Jika korban masih memiliki keluarga, korban bisa diusulkan bantuan di BPJS untuk pengobatan. Hingga penyembuhan selama sebulan di ruang kejiwaan RSUD dr Soedjati Purwodadi. Ini cukup membantu memulihkan psikologis mereka. Namun, ruang khusus ODGJ di sini hanya ada satu. Sehingga kapasitas sangat minim,” ungkapnya.

Tidak adanya tempat penampungan khusus ODGJ atau eks psikotis milik Pemkab Grobogan membuat petugas kualahan. Bahkan, harus mengirim ke luar daerah. Namun, tak jarang keluarga meminta agar tetap di rumah. Meski pun dengan solusi dipasung.

“Ada selter sosial milik Dinsos, namun hanya bersifat penampungan sementara. Sehingga tidak bisa di situ terus,” ungkapnya. (int/mal)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/