alexametrics
28.4 C
Kudus
Wednesday, September 28, 2022

Alasan Kejaksaan Belum Menahan Tersangka Kasus Pengadaan Tanah Bulog di Grobogan

GROBOGAN – PC tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan tanah Bulog di Desa Mayahan, Tawangharjo, Grobogan, hingga kini belum ditahan. Alasannya, yang bersangkutan dianggap kooperatif.

Padahal Kejaksaan Negeri Grobogan telah menetapkan dirinya sebagai tersangka.

PC sendiri sebelumnya sempat mengajukan praperadilan usai penetapan status tersangkanya pada April. Praperadilan di Pengadilan Negeri Purwodadi diajukan pada Mei lalu. Namun upaya notaris tersebut gagal.


Sebab pada 14 Juni lalu Pengadilan Negeri Purwodadi menolak praperadilan PC. Dan memastikan penetapan tersangka PC oleh Kejaksaan Negeri Grobogan sudah sesuai prosedur. Meski proses hukum berlanjut, hingga kini belum ada penahanan kepada yang bersangkutan.

Kasi Intel Kejari Grobogan Frengki Wibowo menyebut terkait belum dilakukannya penahanan kepada yang bersangkutan karena menurutnya PC masih kooperatif saat tim Kejari melakukan pemeriksaan lanjutan.

”Tim penyidik belum mekukan penahanan. Sikap kooperatif itu jadi pertimbangan kami,” jelasnya.

Frangki Wibowo menambahkan pihaknya memang masih memeriksa lanjutan kepada PC. Sehingga sikap kooperatif yang bersangkutan dianggap membantu proses penyidikan.

Sebelumnya, PC ditetapkan sebagai tersangka atas statusnya sebagai rekanan atau ikatan kerja dari Bulog dengan jabatanya sebagai notaris. Sebelum ada ikatan kontrak kerja, PC ternyata sudah aktif dalam kegiatan pengadaan tanah. Artinya PC dianggap turut dalam proses dan mekanisme pengadaan tanah di luar kapasitasnya sebagai notaris.

Baca Juga :  Langka, Warga Blora Terpaksa Ikut Antre Oksigen di Grobogan

Kejari Grobogan menyebut penetapan tersangka kedua atau PC atas kasus tersebut sebagai Kasus Bulog Jilid II. Penetapan PC sebagai tersangka kedua atas kasus tersebut sejak (18/4) tertuang dalam Surat Penetapan Tersangka Nomor: 02/M.3.41/Fd.1/04/2022. Namun berhubung yang bersangkutan notaris, mengharuskan pihak kejaksaan mengajukan izin kepada asosiasi notaris sebelum memanggil dan menahan yang bersangkutan.

Terlebih PC juga mengajukan praperadilan. Sehingga membuat pihak Kejaksaan Negeri Grobogan harus menunggu putusan di Pengadilan Negeri Purwodadi.

Penetapan PC menyusul diputusnya Kusdiyono sebagai tersangka pertama oleh Pengadilan Negeri Tipikor Semarang. Tersangka pertama tersebut mendapat vonis hukuman enam tahun penjara. Hukuman tersebut ditambah denda Rp 300 juta subsider enam bulan kurungan.

Vonis tambahan lainya terdakwa juga harus membayar uang pengganti sebesar Rp 4,9 miliar dengan mememperhitungkan uang titipan sebesar Rp 900 juta dan satu unit mobil merek Toyota Fortuner ditaksir bisa laku Rp 150 juta.

Selain menetapkan PC sebagai tersangka, tim Kejari Grobogan juga akan meminta keterangan lanjutan kepada saksi-saksi lain. Diperkirakan ada 25 orang yang bakal dipanggil. Yaitu dari pemilik tanah, tim dari desa, hingga notaris. (tos/zen)






Reporter: Eko Santoso

GROBOGAN – PC tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan tanah Bulog di Desa Mayahan, Tawangharjo, Grobogan, hingga kini belum ditahan. Alasannya, yang bersangkutan dianggap kooperatif.

Padahal Kejaksaan Negeri Grobogan telah menetapkan dirinya sebagai tersangka.

PC sendiri sebelumnya sempat mengajukan praperadilan usai penetapan status tersangkanya pada April. Praperadilan di Pengadilan Negeri Purwodadi diajukan pada Mei lalu. Namun upaya notaris tersebut gagal.

Sebab pada 14 Juni lalu Pengadilan Negeri Purwodadi menolak praperadilan PC. Dan memastikan penetapan tersangka PC oleh Kejaksaan Negeri Grobogan sudah sesuai prosedur. Meski proses hukum berlanjut, hingga kini belum ada penahanan kepada yang bersangkutan.

Kasi Intel Kejari Grobogan Frengki Wibowo menyebut terkait belum dilakukannya penahanan kepada yang bersangkutan karena menurutnya PC masih kooperatif saat tim Kejari melakukan pemeriksaan lanjutan.

”Tim penyidik belum mekukan penahanan. Sikap kooperatif itu jadi pertimbangan kami,” jelasnya.

Frangki Wibowo menambahkan pihaknya memang masih memeriksa lanjutan kepada PC. Sehingga sikap kooperatif yang bersangkutan dianggap membantu proses penyidikan.

Sebelumnya, PC ditetapkan sebagai tersangka atas statusnya sebagai rekanan atau ikatan kerja dari Bulog dengan jabatanya sebagai notaris. Sebelum ada ikatan kontrak kerja, PC ternyata sudah aktif dalam kegiatan pengadaan tanah. Artinya PC dianggap turut dalam proses dan mekanisme pengadaan tanah di luar kapasitasnya sebagai notaris.

Baca Juga :  Vaksinasi ODGJ di Grobogan Masih Rendah, Dinkes bakal Lakukan Ini

Kejari Grobogan menyebut penetapan tersangka kedua atau PC atas kasus tersebut sebagai Kasus Bulog Jilid II. Penetapan PC sebagai tersangka kedua atas kasus tersebut sejak (18/4) tertuang dalam Surat Penetapan Tersangka Nomor: 02/M.3.41/Fd.1/04/2022. Namun berhubung yang bersangkutan notaris, mengharuskan pihak kejaksaan mengajukan izin kepada asosiasi notaris sebelum memanggil dan menahan yang bersangkutan.

Terlebih PC juga mengajukan praperadilan. Sehingga membuat pihak Kejaksaan Negeri Grobogan harus menunggu putusan di Pengadilan Negeri Purwodadi.

Penetapan PC menyusul diputusnya Kusdiyono sebagai tersangka pertama oleh Pengadilan Negeri Tipikor Semarang. Tersangka pertama tersebut mendapat vonis hukuman enam tahun penjara. Hukuman tersebut ditambah denda Rp 300 juta subsider enam bulan kurungan.

Vonis tambahan lainya terdakwa juga harus membayar uang pengganti sebesar Rp 4,9 miliar dengan mememperhitungkan uang titipan sebesar Rp 900 juta dan satu unit mobil merek Toyota Fortuner ditaksir bisa laku Rp 150 juta.

Selain menetapkan PC sebagai tersangka, tim Kejari Grobogan juga akan meminta keterangan lanjutan kepada saksi-saksi lain. Diperkirakan ada 25 orang yang bakal dipanggil. Yaitu dari pemilik tanah, tim dari desa, hingga notaris. (tos/zen)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru