Wakil Bupati Blora Sri Setyorini bisa menjadi panutan sebagai pemimpin daerah perempuan saat Hari Kartini.
Dia juga pernah bergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kartini di Blora pada era Bupati Blora Soemarno Tjokro Saputro pada 1979-1989.
ARIF FAKHRIAN KHALIM, Blora, Radar Kudus
Sri Setyorini lahir pada 29 Mei 1959 dengan 12 bersaudara, enam perempuan dan enam laki-laki.
Kini, anak ke tujuh dari keluarga besar itu, menjabat sebagai wakil bupati Blora. Mendampingi Bupati Arief Rohman.
Sosok kakak dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Indonesia Agus Andrianto ini, juga dikenal sebagai perempuan hebat
Dibesarkan oleh sosok ayah yang pensiun sebagai camat Banjarejo, Blora, dia mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi orang-orang hebat.
Sri Setyorini menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Jetis 1 Blora pada 1968-1974. Lalu melanjutkan di SMPN 1 Blora pada 1974-1976.
Kemudian tamat SMAN 1 Blora pada 1980. Setelah itu, perjalanan pendidikannya harus berhenti, karena mengalah biaya pendidikan untuk adik-adiknya.
”Saya harus memikirkan adik-adik laki-laki saya kalau harus sekolah. Intinya saya harus bekerja karena lima adik laki-laki saya yang harus sekolah,” ucapnya.
Ia mengakui, sebagai kakak yang baik, harus mengalah dan berpikir untuk mencari uang agar membantu orang tua.
Ia kemudian ikut bekerja dengan pengusaha yang bergerak di bidang konstruksi pada 1980 atau setelah lulus SMA.
”Selama 29 tahun saya mengabdi bersama Pak Hermadi. Kemudian saya dilepas untuk mendirikan usaha sendiri. Dari situ saya mulai bergelut dengan kuli bangunan dan diajak untuk bergabung dengan Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi) Blora,” ujarnya.
Ia pun bergelut di organisasi konstruksi kabupaten dan Provinsi Jawa Tengah. Saat ini, dia menjabat sebagai bendahara Umum Gapensi Jawa Tengah.
Dalam perjalanan kiprahnya di dunia konstruksi, ia diajak dokter di Blora untuk merintis rumah sakit swasta, Rumah Sakit Permata.
Dia pun kini dipercaya sebagai komisaris utama di rumah sakit yang saat ini berusia 13 tahun itu.
Dia berkisah, kiprahnya sebagai peremuan, juga pernah dipercaya menjadi Satgas Kartini Blora oleh Bupati Blora Soemarno Tjokro Saputro yang menjabat pada 1979-1989 silam.
Di situ dia bergelut di Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI).
”Dari situ saya kemudian dekat dengan pemimpin-pemimpin birokrat, seperti Pak Kardi selama 10 tahun, Pak Widodo selama delapan tahun, dan Pak Yudi Sancoyo selama dua tahun,” jelasnya.
Ia yang sering bergelut di dunia organisasi dan senior di bidang pembangunan Blora, kemudian dilirik oleh Bupati Petahana Arief Rohman saat Pilkada 2024 lalu untuk menjadi calon wakil bupati Blora.
”Kedua anak saya awalnya tak setuju (menjadi wakil bupati). Dibilang mau cari apa lagi. Kebetulan kedua anak saya sudah mapan dengan baik. Satu menjadi dokter dan istri dari kapolres Mojokerto. Satu lagi menjadi sekretaris PT Rumah Sakit Permata Media Husada,” tuturnya.
Perempuan yang akrab disapa Budhe Rini itu mengaku, sering dikunjungi Arief Rohman.
Sebenarnya, di luar keinginan dan cita-citanya, tidak pernah terbesit untuk menjadi wakil bupati Blora.
”Mas Arief sering ke rumah dan merasa cocok berkomunikasi dengan saya. Secara profesi saya tidak pernah berpolitik. Teman-teman saya saja banyak kuli bangunan,” kenangnya.
Namun, dia pun akhirnya luluh setelah ada tokoh agama yang mendorongnya.
”Sampai ada tokoh senior saya dari Blora yang juga seorang kiai sempat dawuh ke saya: Muni gelem to, mengko tak bantu (Bilang mau saja, nanti saya bantu),” ceritanya.
Dari hal itu, ia memantapkan hati untuk mendampingi Arief Rohman pada Pilkada 2024 lalu.
”Apalagi adik saya meminta untuk juga untuk ngabdi buat Blora. Di situ yang membuat saya yakin untuk maju mendampingi Mas Arief,” katanya.
Namun menurutnya, ada satu prinsip yang selalu ia pegang dari dunia usaha yang bisa diterapkan dalam pemerintahan, yakni kerja keras, disiplin, serta komitmen untuk mencapai tujuan bersama.
”Dalam usaha, kita harus memahami kebutuhan pelanggan. Dalam pemerintahan, kita harus memahami kebutuhan masyarakat. Keduanya sama-sama membutuhkan manajemen, kerja sama tim yang solid, inovasi, serta pelayanan prima,” jelasnya.
Di hadapan para aparatur sipil negara (ASN) saat memimpin apel perdana pada 26 Februari lalu, Sri Setyorini menegaskan niatnya untuk belajar, mendengar, dan berkolaborasi, guna membangun Kota Sate menjadi lebih baik.
Sambutan itu, menandai awal kepemimpinannya sebagai wakil bupati Blora.
Sekaligus menunjukkan kesiapannya untuk bekerja sama dengan para abdi negara dalam melayani masyarakat. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa