Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lebih Dekat dengan Muda-mudi Gabus Pati yang Peduli Budaya, Aktifkan Lagi Tradisi yang Hampir Hilang

Andre Faidhil Falah • Rabu, 15 Mei 2024 | 21:41 WIB
HAMPIR PUNAH: Macan loreng bergeliat di pertunjukan rutinan di Desa/Kecamatan Gabus, Pati, baru-baru ini.
HAMPIR PUNAH: Macan loreng bergeliat di pertunjukan rutinan di Desa/Kecamatan Gabus, Pati, baru-baru ini.

Pemuda dan tokoh masyarakat di Kecamatan Gabus, Pati, kompak nguri-uri tradisi.

Mereka mengaktifkan lagi kesenian barongan yang sudah ada sejak tahun 60-an dan kini hampir punah.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Pati, Radar Kudus

Baca Juga: Harus Dihindari! Inilah Lima Tipe Teman Unfaedah yang Bisa Merusak Kesehatan Mental

Macan putih bergaris hitam itu, berjalan dengan garang mengelilingi Desa/Kecamatan Gabus, Pati.

Macan loreng itu, tengak-tengok melirik penonton. Seakan mau menerka mangsa.

Dua pemuda terlihat membawa cambuk mengawal macan loreng itu.

Pemuda itu terkesan mengamankan macan loreng agar nurut. Namun, itu bukan harimau sungguhan.

Melainkan barongan khas Desa/Kecamatan Gabus.

Barongan sendiri sebenarnya kesenian tradisional asli Indonesia. Asalnya dari Jawa Tengah. Namun, banyak berkembang di Jawa dan Bali.

Salah satunya dari Kabupaten Pati. Bahkan, kesenian tersebut sudah ada sejak era 60-an di Bumi Mina Tani.

”Sebenarnya kesenian ini di Desa Gabus sejak tahun 60-an. Para leluhur, kakek-nenek kita sudah memainkan,” ucap Widi Widada, pembina kesenian Macan Loreng.

Namun, seiring berkembangnya zaman, kesenian tersebut mulai dilupakan. Karena kurang populer di generasi milenial saat ini.

”Semakin ke sini kurang populer. Karena peminatnya berkurang. Ini kami coba aktifkan lagi,” paparnya.

Namun dia mengaku, kalangan muda-mudi yang mencoba melestarikan kesenian rakyat ini, kurang bisa berkembang sendiri.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati diharapkan turut andil dalam hal melestarikan kesenian tersebut.

”Misalnya kolaborasi. Kesenian daerah ini, harapannya bisa lebih eksis. Ketika ada event secara tak langsung ekonomi setempat juga naik. Jadi, dampak positifnya banyak,” paparnya.

Kesenian barongan yang diberi nama Si Macan Loreng itu, juga pernah tampil di berbagai event.

Pada 10 Agustus 2023, barongan ini tampil di acara peresmian Taman Pancasila Gabus.

Kemudian pada 23 September 2023 berkolaborasi dengan MB Es-Silahy.

Bahkan, ikut serta dalam kompetisi Asian Music Games (AMG) 2023 yang diselenggarakan di Jember, Jawa Timur.

”Saat itu kami diminta oleh Kabupaten Pati untuk mengawal di depan (MB Es-Silahy) dalam ajang Asian Music Games 2023,” terang Widi Widada.

Kesenian tersebut tujuannya memberikan wadah bagi anak muda, agar kaum milenial punya kegiatan positif.

”Jadi anak muda bisa berkreasi dan memajukan kesenian asli daerah. Harapannya, barongan ini bisa dilestarikan dan semakin dikenal,” paparnya.

Tak hanya itu, juga berharap membuka mata dunia. Bahwa, kesenian tradisional ini dikenal di dunia.

”Seperti saat tampil di AMG 2023 di Jember. Setidaknya bisa sedikit membuka mata dunia," ujarnya.

"Bahwa Indonesia juga punya kesenian tradisional asli semacam barongsai, seni barongan,” tandasnya. (*/lin)

Editor : Ali Mustofa
#macan putih #pati #barongan #pemkab #Budaya #kesenian