Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Cerita Pengungsi Banjir di GKMI Tanjungkarang Kudus: Dapat Takjil dan Bebas Jalankan Tarawih

Sekarwati • Minggu, 17 Maret 2024 | 07:45 WIB
TABAH: Tugiyati, warga Desa Tanjungkarang yang mengungsi di GKMI Tanjungkarang, Jati, kemarin.
TABAH: Tugiyati, warga Desa Tanjungkarang yang mengungsi di GKMI Tanjungkarang, Jati, kemarin.

Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Tanjungkarang rutin jadi tempat pengungsian di musim banjir. Pengungsi itu sebagian besar dari kalangan muslim.

Pihak gereja membebaskan pengungsi jalankan ibadah sesuai keyakinan pengungsi.

SEKARWATI, Jati, Radar Kudus

Saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus menghampiri Tugiyati. Pengungsi banjir Desa Tanjungkarang di GKMI desa itu.

Celananya tampak basah kuyup. Dia kemudian membuka sebungkus plastik berisi pakaian. Pakaian dikeluarkan dari plastik dan ia tata di atas matras pengungsian.

"Aku tak salen sek mbak. Teles kabeh," ucapnya kemarin.

Baca Juga: PJ Bupati Kudus M. Hasan Chabibie Resmi Luncurkan Program Sedekah Sampah SKM Berseri, Ini Tujuannya

Perempuan berbaju merah itu mengaku, baru tiba di GKMI Tanjungkarang pukul 10.00 kemarin.

Dirinya datang bersama suami, dua anaknya, menantu, dan satu cucunya.

Kamis (14/3) di tempat tinggalnya sudah banjir. Hanya semata kaki. Dua hari kemudian, banjir masuk rumah.

”Kemudian air naik sangat cepat. Sampai lutut orang dewasa,” ceritanya.

Tahu banjir semakin besar. Dia dan keluarganya mengungsi. Barang berharga miliknya ditinggal begitu saja. Tidak banyak yang bisa diselamatkan.

"Saya cuman bawa baju saja. Motor dan kasur sudah terendam semua," imbuhnya.

Meski berada dalam musibah, Tugiyati dan keluarganya tetap tabah. Dia masih menjalani puasa Ramadan.

Saat berada di posko pengungsian GKMI Tanjungkarang, ia mengaku tidak terganggu.

”Di pengungsian ini keyakinan agama campur. Ada yang muslim dan nonmuslim. Saya tidak terganggu,” ujar ibu usia 47 itu.

Bagi Tugiyati, berada di gereja tidak mengganggu keyakinannya untuk terus beribadah.

"Saya nggak apa-apa puasa di sini (GKMI Tanjungkarang, Red). Lagian kalau tidak ngungsi, mau tidur dimana lagi," ujarnya.

Baca Juga: Bikin Bangga, Tiga Siswa Safin Pati Dipanggil Seleksi Timnas Indonesia, Siapa Saja Mereka?

Koordinator Posko GKMI Tanjungkarang Fendy Haryanto mengatakan, saat ini terdapat 70 jiwa yang mengungsi. Rata-rata pengungsi berasal dari warga banjir Desa Tanjungkarang.

Pengungsi yang tinggal di gereja diberikan beberapa bantuan. Diantaranya matras tidur, makan, minum, dan fasilitas air bersih.

Ia menyebut, untuk kapasitas pengungsi bisa menampung 120-130 jiwa.

"Kebutuhan yang masih dibutuhkan, seperti beras, sayur mayur, alat kebersihan, dan obat-obatan," katanya.

Baca Juga: Apes! Ketahuan Edarkan Obat Mercon, Dua Pemuda di Jepara Diringkus Polisi

Menurut Pendeta Muda GKMI Tanjungkarang Hendrajaya, terdapat 50 pengungsi yang menjalankan puasa Ramadan.

Untuk mencukupi kebutuhan buka puasa dan sahur, pihaknya membantu membuatkan menu takjil bersama para relawan.

Tidak hanya itu, pengungsi juga dibebaskan untuk melakukan ibadah salat fardhu maupun tarawih di gerejanya.

"Bersama dengan tim dan pengungsi, saling bantu mencukupi kebutuhan selama puasa," paparnya. (zen)

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#pengungsian #banjir #pengungsi #Kudus