Pemkab Rembang sedang mengajukan arsip Batik Tulis Lasem menjadi Memori Kolektif Bangsa (MKB).
Saat ini, berkasberkas tersebut tersimpan di Museum Nyah Lasem.
VACHRI RINALDY L, Rembang, Radar Kudus
Para pengurus Museum Nyah Lasem di Desa Karangturi, Lasem, Rembang, sudah bersiap menyambut tim dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Berbagai jajanan sudah disiapkan di atas tampah. Mulai dumbeg, singkong, hingga legen.
Tamu dari Jakarta itu, memang diagendakan datang ke Museum Nyah Lasem untuk meninjau langsung arsip-arsip yang berkaitan dengan batik tulis Lasem.
Ya, beberapa waktu lalu, berkas-berkas lawas itu, telah diajukan menjadi memori kolektif bangsa.
Arsip-arsip yang disimpan di Museum Nyah Lasem ini, memiliki sejarah tentang jaringan dagang batik Lasem yang mencakup Sumatera, wilayah Indonesia bagian timur, hingga Singapura.
Nyah Lasem sendiri merupakan museum komunitas. Para pengurusnya yang nguri-uri dan merawat berbagai koleksi.
Mulai dari pecahan-pecahan keramik, gerabah, hingga arsip-arsip tadi.
Agni Malagina, peneliti budaya Tionghoa yang terlibat dalam pengajuan Memori Kolektif Bangsa (MKB) bercerita.
Proses pengumpulan arsip-arsip tersebut, sudah dilakukan sejak 2017 silam.
Ia bersama tim Nyah Lasem mulai mencari dan bertanya ke berbagai sumber. Beberapa arsip juga didapat dengan membeli.
Berkas-berkas itu, seperti puzzle yang tercecer, sehingga perlu menghubungkan antara satu dan lainnya.
”Yang aneh, arsip itu muncul, padahal kami hanya ngebatin. Saya sering ngebatin. Misal, ada nggak ya buktinya jaringan dagang ini. Ujug-ujug muncul. Siapa saja ya tokohnya, kapan nanti tiba-tiba muncul," katanya.
Bagi Agni, koleksi arsip yang akan diajukan sebagai MKB merupakan belum pernah diungkap sebelumnya.
Baca Juga: Konser Denny Caknan di Purwodadi Grobogan Batal Digelar, Penonton Kecewa Minta Uang Dikembalikan
Di antaranya, menggambarkan jaringan bisnis batik Lasem yang masif pada pertengahan abad 20.
Selain arsip jaringan dagang batik, juga ada dokumen tahun 1947 yang mengisahkan perempuan Lasem dari kalangan keluarga produsen batik.
Perempuan tersebut diceritakan membentuk dapur umum yang menyediakan nasi bungkus untuk tentara Indonesia kala itu.
Saat visitasi tim ANRI kemarin, arsip-arsip tersebut ditata berjajar. Diperkirakan jumlahnya ada sekitar 190 dokumen. Rata-rata memggunakam tulisan tangan.
Plt Kepala ANRI Imam Gunarto menilai arsip-arsip yang diajukan memiliki potensi tinggi menjadi MKB. Dia bilang ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi. Mulai orisinalitas hingga isi dari arsip tersebut.
”Asetnya harus asli. Isinya harus melingkupi kepentingan nasional," katanya.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Rembang Ahmad Solchan menyampaikan, keberadaan arsip-arsip ini, menjadi catatan penting untuk Batik Lasem yang berkontribusi di kancah perbatikan nasional.
”Sayang jika tidak ada catatan sejarah. Catatan ini akan tercatat dalam sejarah perbatikan di Lasem, Rembang, dan Indononesia," imbuhnya. (*/lin)
Editor : Noor Syafaatul Udhma