Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Seluruh Pemainnya Wajib Warga Desa Soneyan

Ali Mustofa • Jumat, 4 November 2022 | 22:08 WIB
PENTAS WAYANG: Anak-anak Desa Soneyan memainkan wayang tari topeng. ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
PENTAS WAYANG: Anak-anak Desa Soneyan memainkan wayang tari topeng. ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
Seniman wayang tari topeng warga Desa Soneyan, Margoyoso, Pati, Payatun mendapatkan penghargaan dari Unesco. Sebab, dia menjaga kesenian turun-temurun sejak ratusan tahun lalu itu.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Pati, Radar Kudus

KETUKAN alat musik gamelan mengalawi pentas seni wayang tari topeng itu. Kisaran 10 warga Pati memainkan alat tradisional tersebut. Tuk tak gung ning nung… Begitulah yang terdengar wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini.

Tempo musik makin lambat ketika dalang menyuarakan suaranya. Mengawali kisah cerita lakon Jawa yang akan dimainkan para lakon.

Dalam bahasa Jawa, dalang menyebutkan nama-nama lakon dan alur cerita yang akan dibawakan. Ada Batoro Bromo, Dewi Sri, Semar, Gareng, Petruk, dan Joko Tani. Itulah di antaranya sepenggal tokoh yang akan dimainkan dalam bentuk tarian itu.

Alunan suara gamelan semakin mengeras suaranya. Para pemain wayang tari kulit pun naik panggung. Dua pemain terlihat mengenakan topeng berwarna putih dan merah. ”Ingkang meniko tari personto. Wonten setunggal maleh, tari nembe (yang ini tari personto. Ada satu lagi, tari nembe),” ucap sang dalang.

Pentas wayang itu, biasanya diperankan saat sedekah bumi dan syukuran panen. Ya, pertunjukan wayang topeng memang biasanya digunakan untuk ritual bersih desa pada Sabtu Kliwon bulan Besar (penanggalan Jawa).

Dalam pertunjukan pertunjukan wayang topeng, bertema Lakon Sren (Dewi Sri) Among Tani yang biasanya menunjukkan cerita mengenai kehidupan masyarakat agraris. Lakon ini usianya sudah ratusan tahun.

Photo
Photo
JUNJUNG LOKALITAS: Kades Soneyan Margi Siswanto menunjukkan sertifikat dari UNESCO untuk wayang tari topeng. (MARGI SISWANTO FOR RADAR KUDUS)

Pertunjukan wayang topeng di Dukuh Kedungpanjang itu, bentuk seni pertunjukan drama tari dengan pemainnya mengenakan topeng. Pertunjukan ini, ada sejak 1896 silam. Cerita yang digunakan di dalam pertunjukan wayang topeng ialah ”among tani”.

”Wayang tari topeng ini warisan leluhur. Sudah ada sejak ratusan tahun lalu,” terang Payatun, keturunan ke-4 almarhum dalang Atmo Surat.

Sejak kecil Paryatun sudah melihat wayang itu. Saat itu, diperagakan kakek buyutnya (Dalang Atmo Surat). Bahkan sampai detik ini masih ada. ”Mbah buyut saya Dalang Atmo Surat itu, meninggal pada umur 125 tahun. Beliau satu-satunya dalang yang bisa memainkan wayang itu (wayang tari topeng, Red),” katanya.

Topeng yang digunakan juga turun-temurun. Jadi, bukan topeng baru. Semua pemain wayang topeng harus menggigit topeng tersebut, agar tidak jatuh. ”Wayang topeng Kedungpanjang, Desa Soneyan, itu dari seni karawitannya tidak bisa seperti wayang-wayang yang lain. Topengnya itu lain dari yang lain juga. Kalau wayang topeng lain itu kan dikalungkan saat memakai. Kalau wayang topeng Kedungpanjang ini digigit,” jelasnya.

Wayang tari topeng ini, ternyata mendapat penghargaan dari UNESCO pada 2021 lalu. Sebab, wayang ini menjadi salah satu warisan budaya tak benda (WBTB). ”Desember tahun lalu saya dipanggil ke Jakarta untuk menghadiri peresmian WBTB Wayang Tari Topeng di Jakarta. Penghargaan itu diberikan saat HUT ke-699 Pati,” jelasnya.

Berawal dari adat, permainan wayang yang religius dan sakral ini, menjadi sebuah budaya yang kemudian dimasukan ke daftar warisan tak benda.

Para pemain maupun pengrawitnya semuanya merupakan warga setempat. Tingkat lokalitas itu, sudah bertahan selama bertahun-tahun sejak nenek moyang mereka. ”Pengrawitnya (penabuh gamelan) itu, iramanya ada khas tersendiri. Belum tentu orang luar desa sini bisa memainkan,” tandasnya.

Dia mengaku, sebelum mendapat sertifikat WBTB dari UNESO, dia juga kerap ditemui peneliti hingga sejarawan lokal maupun luar negeri untuk menggali wayang ini. ”Kalau ndak salah ada peneliti dari Amerika Serikat juga. Tanya-tanya soal wayang tari topeng ini,” katanya.

Terpisah, Kepala Desa Soneyan Margi Siswanto menuturkan, gamelan yang digunakan tak sama dengan yang lain. Sebab, jumlahnya ada tujuh buah. ”Selain warga lokal Desa Soneyan tak bisa memainkan. Dulu coba pentas di Jakarta saja tak bisa. Suaranya jadi tak orisinil,” kata kades yang juga suami dari Paryatun ini. (*/lin) Editor : Ali Mustofa
#wayang tari topeng #penghargaan unesco #pati #pentas wayang #alunan suara gamelan #pertunjukan drama tari