alexametrics
27 C
Kudus
Sunday, May 15, 2022

Suparlan, Perajin Angklung asal Kudus yang Sudah Berkarya 54 Tahun

Tetap Bikin Angklung untuk Kelestarian Budaya

Suparlan dikenal dengan perajin angklung. Kini ia kebanjiran order dari sekolah-sekolah di Kudus dan sekitarnya, bahkan hingga Lampung. Sebelumnya ia cuma membuat alat musik tongtek.

ARIKA KHOIRIYA, Radar Kudus

ALUNAN tembang jawa menyambut Jawa Pos Radar Kudus ketika bertandang ke rumah Suparlan, 69. Saat muncul di balik pintu, dia sedang mengenakan penutup kepala, blangkon. Dia tampak seperti orang Jawa tulen. Gayanya  sangat senada dengan nyanyian lawas yang diputar di dalam ruang tamunya kemarin.


Dia tak segan mengarahkan wartawan Koran ini menuju pada sebuah tempat membuat alat musik tradisional, yaitu angklung. Terlihat, potongan bambu sedang digarapnya. Beberapa set angklung ada yang sudah tertata rapi di ruang yang dindingnya terpacak gambar wayang kulit.

“Awalnya sebenarnya saya ini adalah perajin tongtek. Yakni alat musik tradisional yang sering digunakan anak-anak untuk membangunkan orang sahur, anda pasti tahu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Warga RT 6 RW 2, Desa Gondosari, Gebog, Kudus, itu menceritakan, pada masa 1980-1990 an, di Kudus itu sering ada kegiatan lomba keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di bidang keamanan ronda malam. Dan salah satu bentuk lombanya adalah pertunjukan musik tongtek.

ARIKA KHOIRIYA/RADAR KUDUS

Lantas dari kesempatan lomba itu pula, tongtek asal Gebog sering menjuarai kompetisi Kamtibmas. Suparlan mengaku, tongtek Gebog pernah menjuarai tingkat kabupaten, karesidenan Pati, hingga provinsi.

“Karena kesenian musik yang ditampilkan pada saat itu, tidak hanya tongtek saja. Tetapi ditambah dengan suara kentongan, gambang, bass, serta angklung,” katanya. Dia juga memodifikasi tongtek dengan bahan bambu, .

Dari latar belakang itu, saat tongtek Gebog banyak dikenal masyarakat Kudus, Suparlan mulai kebanjiran pesanan alat musik tongtek mulai tahun 2000-an. Biasanya tiap tahun, mulai September atau Oktober mulai menerima pesanan. Tapi sekarang jarang yang memesan. “Saya dulu tiap satu set tongtek harganya Rp 350 ribu, dan butuh waktu 20 hari untuk membuatnya,” ujarnya.

Pada 1966, setelah sudah bisa membuat tongtek. Dua thn kmudia Dia lalu belajar membuat angklung kepada beberapa guru SMP 1 Gebog. Setiap sore, kala itu, dia mengaku selalu berlatih membuat alat musik tradisional tersebut. Dia juga belajar secara otodidak. Butuh waktu dua tahun, kata dia, untuk belajar membuat angklung.

Baca Juga :  Pemdes Sengowetan Grobogan Berdayakan Pemuda melalui Barongan

“Setelah bisa membuat angklung, lama-lama banyak yang pesan. Kebanyakan yang pesan itu dari sekolah-sekolah, untuk kegiatan ekstrakurikuler,” ucapnya.

Menurutnya, membuat angklung butuh kesabaran tinggi. Karena proses pembuatan angklung, dia butuh waktu enam bulan untuk menyelesaikannya. Mulai dari pemilahan bambu, itu minimal harus berumur tiga tahun. Saat memotong bambu juga harus dalam keadaan masih hijau.

Lalu saat proses pengeringan tidak boleh terkena sinar matahari langsung. Setelah itu butuh waktu untuk mengepaskan nada dengan alat musik organ, gitar dan pianika.

“Mencari bambu sesuai kriteria sekarang juga sulit, ketersediaan bambu sekarang terbatas sekali. Pohon bambu kian langka. Jarang sekali saya menemukan bambu di wilayah ini,” tuturnya.

Meski mengalami kesulitan tak membuatnya putus asa. Dia mencari bambu di Desa Piji. Menurutnya, di wilayah itu masih ditemukan pohon bambu. Meskipun hanya terbatas hanya sekitar 10-15 batang bambu yang diambil.

“Padahal aslinya paling tidak untuk membuat satu set besar itu butuh 70 batang bambu,” ungkapnya.

Dari kesabaran dan ketekunanya itu, angklungnya digunakan oleh sejumlah sekolah dari berbagai daerah. Di antaranya tentu ada Kota Kudus sendiri, Demak, Jepara, Pati, dan Rembang. “Satu set besar biasanya saya mematok harga Rp 5 juta, set sedang Rp 3,5 juta, dan set kecil Rp 2 juta. Saat ini kebetulan sedang menggarap pesanan dari daerah Pekalongan dan Lampung,” imbuhnya.

Walaupun alat musik tradisional tersebut dari daerah Sunda atau Jawa Barat. Tapi ternyata daerah lain juga bisa membuat, menikmati dan melestarikan budaya yang ada. Tak lupa dia juga mengajak kepada generasi muda untuk tetap mencintai dan menghargai budaya yang dimiliki. Terutama budaya daerah. (*/him)

Suparlan dikenal dengan perajin angklung. Kini ia kebanjiran order dari sekolah-sekolah di Kudus dan sekitarnya, bahkan hingga Lampung. Sebelumnya ia cuma membuat alat musik tongtek.

ARIKA KHOIRIYA, Radar Kudus

ALUNAN tembang jawa menyambut Jawa Pos Radar Kudus ketika bertandang ke rumah Suparlan, 69. Saat muncul di balik pintu, dia sedang mengenakan penutup kepala, blangkon. Dia tampak seperti orang Jawa tulen. Gayanya  sangat senada dengan nyanyian lawas yang diputar di dalam ruang tamunya kemarin.

Dia tak segan mengarahkan wartawan Koran ini menuju pada sebuah tempat membuat alat musik tradisional, yaitu angklung. Terlihat, potongan bambu sedang digarapnya. Beberapa set angklung ada yang sudah tertata rapi di ruang yang dindingnya terpacak gambar wayang kulit.

“Awalnya sebenarnya saya ini adalah perajin tongtek. Yakni alat musik tradisional yang sering digunakan anak-anak untuk membangunkan orang sahur, anda pasti tahu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Warga RT 6 RW 2, Desa Gondosari, Gebog, Kudus, itu menceritakan, pada masa 1980-1990 an, di Kudus itu sering ada kegiatan lomba keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di bidang keamanan ronda malam. Dan salah satu bentuk lombanya adalah pertunjukan musik tongtek.

ARIKA KHOIRIYA/RADAR KUDUS

Lantas dari kesempatan lomba itu pula, tongtek asal Gebog sering menjuarai kompetisi Kamtibmas. Suparlan mengaku, tongtek Gebog pernah menjuarai tingkat kabupaten, karesidenan Pati, hingga provinsi.

“Karena kesenian musik yang ditampilkan pada saat itu, tidak hanya tongtek saja. Tetapi ditambah dengan suara kentongan, gambang, bass, serta angklung,” katanya. Dia juga memodifikasi tongtek dengan bahan bambu, .

Dari latar belakang itu, saat tongtek Gebog banyak dikenal masyarakat Kudus, Suparlan mulai kebanjiran pesanan alat musik tongtek mulai tahun 2000-an. Biasanya tiap tahun, mulai September atau Oktober mulai menerima pesanan. Tapi sekarang jarang yang memesan. “Saya dulu tiap satu set tongtek harganya Rp 350 ribu, dan butuh waktu 20 hari untuk membuatnya,” ujarnya.

Pada 1966, setelah sudah bisa membuat tongtek. Dua thn kmudia Dia lalu belajar membuat angklung kepada beberapa guru SMP 1 Gebog. Setiap sore, kala itu, dia mengaku selalu berlatih membuat alat musik tradisional tersebut. Dia juga belajar secara otodidak. Butuh waktu dua tahun, kata dia, untuk belajar membuat angklung.

Baca Juga :  Tradisi Imlek, Hindari Angka 4

“Setelah bisa membuat angklung, lama-lama banyak yang pesan. Kebanyakan yang pesan itu dari sekolah-sekolah, untuk kegiatan ekstrakurikuler,” ucapnya.

Menurutnya, membuat angklung butuh kesabaran tinggi. Karena proses pembuatan angklung, dia butuh waktu enam bulan untuk menyelesaikannya. Mulai dari pemilahan bambu, itu minimal harus berumur tiga tahun. Saat memotong bambu juga harus dalam keadaan masih hijau.

Lalu saat proses pengeringan tidak boleh terkena sinar matahari langsung. Setelah itu butuh waktu untuk mengepaskan nada dengan alat musik organ, gitar dan pianika.

“Mencari bambu sesuai kriteria sekarang juga sulit, ketersediaan bambu sekarang terbatas sekali. Pohon bambu kian langka. Jarang sekali saya menemukan bambu di wilayah ini,” tuturnya.

Meski mengalami kesulitan tak membuatnya putus asa. Dia mencari bambu di Desa Piji. Menurutnya, di wilayah itu masih ditemukan pohon bambu. Meskipun hanya terbatas hanya sekitar 10-15 batang bambu yang diambil.

“Padahal aslinya paling tidak untuk membuat satu set besar itu butuh 70 batang bambu,” ungkapnya.

Dari kesabaran dan ketekunanya itu, angklungnya digunakan oleh sejumlah sekolah dari berbagai daerah. Di antaranya tentu ada Kota Kudus sendiri, Demak, Jepara, Pati, dan Rembang. “Satu set besar biasanya saya mematok harga Rp 5 juta, set sedang Rp 3,5 juta, dan set kecil Rp 2 juta. Saat ini kebetulan sedang menggarap pesanan dari daerah Pekalongan dan Lampung,” imbuhnya.

Walaupun alat musik tradisional tersebut dari daerah Sunda atau Jawa Barat. Tapi ternyata daerah lain juga bisa membuat, menikmati dan melestarikan budaya yang ada. Tak lupa dia juga mengajak kepada generasi muda untuk tetap mencintai dan menghargai budaya yang dimiliki. Terutama budaya daerah. (*/him)

Most Read

Artikel Terbaru

/