alexametrics
22.5 C
Kudus
Wednesday, June 29, 2022

Stasiun Tanggung yang Direncanakan Menjadi Gudang Barang

Tertua di Indonesia, Berarsitektur Gaya Swiss Chalet

Siapa sangka stasiun aktif tertua di Indonesia berada di Kabupaten Grobogan, tepatnya Stasiun Tanggung yang ada di Desa Tanggungharjo Kecamatan Tanggungharjo. Stasiun tipe 3 ini kini hanya menjadi stasiun pemantau yang dilewati kereta api tujuan Solo-Semarang, tidak ada proses naik turun penumpang.

INTAN MAYLANI SABRINA, GROBOGAN

Stasiun Tanggung mulai berdiri pada 1864 silam, kemudian dibangun ulang 1910. Pada 10 Agustus 1867,  stasiun ini juga menjadi saksi dibukanya jalur kereta api pertama Taunggung-Kemijen sejauh 25 kilometer oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Ludoph Anne Jan Wilt Baron Sloet van de Belle.


Stasiun ini memiliki bangunan yang didominasi dari kayu. Memiliki gaya arsitektur Swiss Chalet yang berasal dari Swiss. Selain didominasi kayu, yang terlihat di bagian atap pelana diberi dekorasi dan ekspos tiang konstruksi.

Sebelum masuk ke stasiun, sebuah papan petunjuk tertulis ‘Di Bumi Ini Kami Bermula’ tertancap kuat di kompleks stasiun. Kemudian juga ada tugu peringatan sebagai pengingat sejarah bermulanya kereta api di Indonesia.

Keunikan lainnya tepat di belakang stasiun terdapat rumah panggung yang terbuat dari kayu. Diperkirakan rumah tersebut merupakan rumah kepala stasiun waktu itu dan masih tampak kokoh hingga kini.

Masuk ke dalam, terdapat empat ruang yakni ruang kepala stasiun yang juga dipakai untuk loket, gudang, ruang tunggu dan ruang PPKA. ”Meski begitu, stasiun ini merupakan stasiun tipe 3 yang hanya jadi stasiun pemantau. Sepi karena tidak ada proses naik turun penumpang di sini,” jelas salah satu Pengawas Peron (PAP) Stasiun Tanggung, Prayitno.

Baca Juga :  Tahanan Perempuan dapat Suitan ketika Melintas di Blok Laki-laki

Menurutnya, dulu di stasiun ini ada jalur rel menuju hutan. Lantaran saat itu kereta bisa untuk mengangkut barang hasil hutan. Namun, kini jalur rel tersebut sudah hilang.

”Dulunya sekitar tahun 80-an sampai 90-an, kalau mau ke Solo-Semarang bisa naik kereta dari sini. Tapi sejak tidak ada kereta yang berhenti sampai sekarang, warga naik motor sendiri atau ngojek. Memang jadi sepi,” imbuhnya.

Karena tak lagi disinggahi kereta api, stasiun bersejarah itu hanya dimanfaatkan beberapa warga untuk bercengkerama sembari menjaga anak saat sore hari. Warga juga kerap nongkrong di stasiun, sekadar menikmati warna langit kuning jingga sembari menunggu kereta melintas.

Kabid Prasarana dan Ekonomi Bappeda Grobogan Candra Yulian Pasha menambahkan, stasiun tua itu rencananya akan dihidupkan kembali. Tentu saja bukan untuk naik turun penumpang, namun dijadikan gudang barang di sekitar stasiun.

”Harapannya bisa dijadikan stasiun peti kemas, bisa untuk transit antrean dari Pelabuhan Tanjung Mas. Hal ini untuk mengakomodasi distribusi dari dan keluar Kabupaten Grobogan. Mengakomodasi pertumbuhan industri di Kabupaten Grobogan,” ungkapnya.

Hal itu juga menyusul adanya semen Grobogan di Tanggungharjo. Sehingga saat mengirim barang tak lagi melalui jalur jalan raya tapi bisa berbasis rel. Selain itu, dihidupkannya stasiun kembali sekaligus bisa dijadikan destinasi wisata karena bangunan memiliki nilai sejarah. Bila benar bisa menjadi destinasi wisata, tentu bisa menambah pendapatan warga sekitar. (int)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Siapa sangka stasiun aktif tertua di Indonesia berada di Kabupaten Grobogan, tepatnya Stasiun Tanggung yang ada di Desa Tanggungharjo Kecamatan Tanggungharjo. Stasiun tipe 3 ini kini hanya menjadi stasiun pemantau yang dilewati kereta api tujuan Solo-Semarang, tidak ada proses naik turun penumpang.

INTAN MAYLANI SABRINA, GROBOGAN

Stasiun Tanggung mulai berdiri pada 1864 silam, kemudian dibangun ulang 1910. Pada 10 Agustus 1867,  stasiun ini juga menjadi saksi dibukanya jalur kereta api pertama Taunggung-Kemijen sejauh 25 kilometer oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Ludoph Anne Jan Wilt Baron Sloet van de Belle.

Stasiun ini memiliki bangunan yang didominasi dari kayu. Memiliki gaya arsitektur Swiss Chalet yang berasal dari Swiss. Selain didominasi kayu, yang terlihat di bagian atap pelana diberi dekorasi dan ekspos tiang konstruksi.

Sebelum masuk ke stasiun, sebuah papan petunjuk tertulis ‘Di Bumi Ini Kami Bermula’ tertancap kuat di kompleks stasiun. Kemudian juga ada tugu peringatan sebagai pengingat sejarah bermulanya kereta api di Indonesia.

Keunikan lainnya tepat di belakang stasiun terdapat rumah panggung yang terbuat dari kayu. Diperkirakan rumah tersebut merupakan rumah kepala stasiun waktu itu dan masih tampak kokoh hingga kini.

Masuk ke dalam, terdapat empat ruang yakni ruang kepala stasiun yang juga dipakai untuk loket, gudang, ruang tunggu dan ruang PPKA. ”Meski begitu, stasiun ini merupakan stasiun tipe 3 yang hanya jadi stasiun pemantau. Sepi karena tidak ada proses naik turun penumpang di sini,” jelas salah satu Pengawas Peron (PAP) Stasiun Tanggung, Prayitno.

Baca Juga :  Aktor Film Pendek Muhamad Iqbal: Dilirik Media Mainstream Nasional

Menurutnya, dulu di stasiun ini ada jalur rel menuju hutan. Lantaran saat itu kereta bisa untuk mengangkut barang hasil hutan. Namun, kini jalur rel tersebut sudah hilang.

”Dulunya sekitar tahun 80-an sampai 90-an, kalau mau ke Solo-Semarang bisa naik kereta dari sini. Tapi sejak tidak ada kereta yang berhenti sampai sekarang, warga naik motor sendiri atau ngojek. Memang jadi sepi,” imbuhnya.

Karena tak lagi disinggahi kereta api, stasiun bersejarah itu hanya dimanfaatkan beberapa warga untuk bercengkerama sembari menjaga anak saat sore hari. Warga juga kerap nongkrong di stasiun, sekadar menikmati warna langit kuning jingga sembari menunggu kereta melintas.

Kabid Prasarana dan Ekonomi Bappeda Grobogan Candra Yulian Pasha menambahkan, stasiun tua itu rencananya akan dihidupkan kembali. Tentu saja bukan untuk naik turun penumpang, namun dijadikan gudang barang di sekitar stasiun.

”Harapannya bisa dijadikan stasiun peti kemas, bisa untuk transit antrean dari Pelabuhan Tanjung Mas. Hal ini untuk mengakomodasi distribusi dari dan keluar Kabupaten Grobogan. Mengakomodasi pertumbuhan industri di Kabupaten Grobogan,” ungkapnya.

Hal itu juga menyusul adanya semen Grobogan di Tanggungharjo. Sehingga saat mengirim barang tak lagi melalui jalur jalan raya tapi bisa berbasis rel. Selain itu, dihidupkannya stasiun kembali sekaligus bisa dijadikan destinasi wisata karena bangunan memiliki nilai sejarah. Bila benar bisa menjadi destinasi wisata, tentu bisa menambah pendapatan warga sekitar. (int)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/