alexametrics
23.7 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Ciptakan Agrowisata untuk Semua Umur

Ika Himawan Affandi merintis agrowisata empat tahun silam. Awalnya dia menanam buah tin. Kondisi cuaca dan pandemi Covid-19 membuat dia bangkrut. Kemudian beralih ke anggur. Ia namai Kampoeng ”Pengangguran”. Banyak sekolah maupun masyarakat yang ingin belajar tanam anggur ke kebunnya.

WISNU AJI, Radar Kudus

DI sebuah gazebo kebun anggur, Ika Himawan Affandi biasa bersantai. Itu ia lakukan setelah kerja di Pemkab Rembang.

(DOK. IKA HIMAWAN AFFANDI For RADAR KUDUS)

Gazebo itu ia kasih atap ilalang. Dindingnya terbuat dari batu bata. Tapi tidak ditutup semen.

Lokasi yang dekat pegunungan membuat sauna di lokasi itu adem. Di sekitar kebun itu juga ada aliran air sungai. Kebun itu ia beri nama Kampoeng Pengangguran. Lokasinya di Panohan, Gunem, Rembang.

Sebelum menanam anggur, empat tahun silam Ika menanam 500 buah tin di kebon di Kebongagung, Sulang, Rembang. Ia tanam di lahan sekitar satu hektare. Jarak tanamnya 2,5 meter kali 1,5 meter. Perkiraannya kebun tersebut bisa menampung 750 bibit buah tin.

Ia menceritakan buah tin hingga kini permintaannya banyak. Harganya juga mahal. 250 ribu per kilogram. Bibitnya juga mahal.

Ia mengaku terkendala air. Setiap minggu harus beli air tangki. Bikin sumur dua kali gagal. Sementara saat kemarau banyak buah yang mati. Sampai kemudian dia menyerah.

”Saat masih nanam tin, pasar saya hotel-hotel di Bali. Ketika pandemi sudah tidak ada pesanan,” kenangnya

Ika mengaku sudah banyak biaya yang ia keluarkan. Tapi kerugian yang ia alami tidak menurunkan semangatnya berkebun.

Baca Juga :  Bangunkan Rumah Ortu dari Saving Beasiswa S1 dan S2

Pria berkacamata itu akhirnya memilih menjual kebun tersebut. Uangnya dia gunakan untuk modal tanam anggur. Tanaman anggur itu ditanam lahan mertua di Panohan, Gunem.

Pada Desember 2020 ia mulai olah lahan. Kemudian Januari 2021 ditanam.

”Kebetulan di kebun mertua ini airnya melimpah. Saya pilih anggur, karena banyak yang suka. Harganya juga terjangkau,” jelasnya.

”Saya kerja sama dengan reka. Dia pengembang anggur yang sukses,” tegasnya.

Ada sekitar 250 pohon yang ia tanam. Dia mengonsep tanaman agrowisata. ”Saya ingin mengkonsep ada petik anggur. Beberapa sekolah sudah banyak yang minta. Akan membawa siswa dan guru-gurunya belajar ke sini,” tambahnya.

Selain sekolah, ia mengaku, beberapa temannya ingin belajar menanam anggur ke dirinya.

”Rata-rata teman ingin tahu cara mengolah lahan, pembibitan, hingga pembuahan. Kami akan beri edukasi supaya banyak masyarakat yang tertarik menanam,” targetnya.

Sosok yang juga Kabid Perkebunan, di Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan), Kabupaten Rembang ini mengaku saat bibit berusia empat sampai lima bulan ia gunakan sistem sprayer.

”Lebih mudah gunakan sprayer. Karena saya juga sibuk kerja di Pemkab Rembang. Ingin praktis dan tetap jaga kualitas tanaman,” tandasnya.

Hasilnya delapan bulan sudah berbuah. Pohonya juga sudah besar.

”Banyak orang yang heran tanam 1-2 tahun masih kecil. Karena perawatan intensif. Karena anggur suka air, tapi tidak suka genangan. Suka panas,” terangnya. (*/zen)

 

Ika Himawan Affandi merintis agrowisata empat tahun silam. Awalnya dia menanam buah tin. Kondisi cuaca dan pandemi Covid-19 membuat dia bangkrut. Kemudian beralih ke anggur. Ia namai Kampoeng ”Pengangguran”. Banyak sekolah maupun masyarakat yang ingin belajar tanam anggur ke kebunnya.

WISNU AJI, Radar Kudus

DI sebuah gazebo kebun anggur, Ika Himawan Affandi biasa bersantai. Itu ia lakukan setelah kerja di Pemkab Rembang.

(DOK. IKA HIMAWAN AFFANDI For RADAR KUDUS)

Gazebo itu ia kasih atap ilalang. Dindingnya terbuat dari batu bata. Tapi tidak ditutup semen.

Lokasi yang dekat pegunungan membuat sauna di lokasi itu adem. Di sekitar kebun itu juga ada aliran air sungai. Kebun itu ia beri nama Kampoeng Pengangguran. Lokasinya di Panohan, Gunem, Rembang.

Sebelum menanam anggur, empat tahun silam Ika menanam 500 buah tin di kebon di Kebongagung, Sulang, Rembang. Ia tanam di lahan sekitar satu hektare. Jarak tanamnya 2,5 meter kali 1,5 meter. Perkiraannya kebun tersebut bisa menampung 750 bibit buah tin.

Ia menceritakan buah tin hingga kini permintaannya banyak. Harganya juga mahal. 250 ribu per kilogram. Bibitnya juga mahal.

Ia mengaku terkendala air. Setiap minggu harus beli air tangki. Bikin sumur dua kali gagal. Sementara saat kemarau banyak buah yang mati. Sampai kemudian dia menyerah.

”Saat masih nanam tin, pasar saya hotel-hotel di Bali. Ketika pandemi sudah tidak ada pesanan,” kenangnya

Ika mengaku sudah banyak biaya yang ia keluarkan. Tapi kerugian yang ia alami tidak menurunkan semangatnya berkebun.

Baca Juga :  Wisatawan Bisa Nikmati Air Jernih dari Stalaktit dan Stalagmit

Pria berkacamata itu akhirnya memilih menjual kebun tersebut. Uangnya dia gunakan untuk modal tanam anggur. Tanaman anggur itu ditanam lahan mertua di Panohan, Gunem.

Pada Desember 2020 ia mulai olah lahan. Kemudian Januari 2021 ditanam.

”Kebetulan di kebun mertua ini airnya melimpah. Saya pilih anggur, karena banyak yang suka. Harganya juga terjangkau,” jelasnya.

”Saya kerja sama dengan reka. Dia pengembang anggur yang sukses,” tegasnya.

Ada sekitar 250 pohon yang ia tanam. Dia mengonsep tanaman agrowisata. ”Saya ingin mengkonsep ada petik anggur. Beberapa sekolah sudah banyak yang minta. Akan membawa siswa dan guru-gurunya belajar ke sini,” tambahnya.

Selain sekolah, ia mengaku, beberapa temannya ingin belajar menanam anggur ke dirinya.

”Rata-rata teman ingin tahu cara mengolah lahan, pembibitan, hingga pembuahan. Kami akan beri edukasi supaya banyak masyarakat yang tertarik menanam,” targetnya.

Sosok yang juga Kabid Perkebunan, di Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan), Kabupaten Rembang ini mengaku saat bibit berusia empat sampai lima bulan ia gunakan sistem sprayer.

”Lebih mudah gunakan sprayer. Karena saya juga sibuk kerja di Pemkab Rembang. Ingin praktis dan tetap jaga kualitas tanaman,” tandasnya.

Hasilnya delapan bulan sudah berbuah. Pohonya juga sudah besar.

”Banyak orang yang heran tanam 1-2 tahun masih kecil. Karena perawatan intensif. Karena anggur suka air, tapi tidak suka genangan. Suka panas,” terangnya. (*/zen)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/