alexametrics
25.3 C
Kudus
Saturday, May 21, 2022

Syukron Ali, Santri Daftar Haji Pakai Koin

Dikumpulkan 10 Tahun selama Nyantri, Satu Botol Berisi Rp 1 Juta

Bermodalkan koin di enam botol air mineral, Ahmad Syukron Ali mendatangi Kantor Kemenag Grobogan untuk mendaftar haji. Didampingi orangtua dan adiknya, santri asal Dusun Nglejok, Desa Pelem, Kecamatan Gabus itu mantab menyerahkan enam botol berisi koin.

SAIFUL ANWAR, Grobogan, Radar Kudus

PETUGAS di Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kemenag Grobogan terhenyak. Melihat pemuda berpeci dan bersarung membawa enam botol air mineral berisi ribuan koin. Petugas sempat terkejut. Tetapi kemudian melayaninya sesuai dengan prosedur.


Ahmad Syukron Ali  tampak tenang. Dia menyerahkan botol bekas air mineral berisi koin itu kepada petugas. Bersama persyaratan berkas yang dibutuhkan. Namun, sebelum koin itu diterima, petugas menghitungnya terlebih dulu.

Bagian atas botol itu disobek. Lalu ribuan koin itu dikeluarkan perlahan. Petugas menghitungnya hati-hati. Satu per satu koin. Jumlahnya, sesuai dengan perhitungan yang dilakukan Syukron sebelumnya. Satu botol berisi satu juta. Enam botol enam juta.

Ya, uang muka yang dibutuhkan untuk mendaftar haji sebesar Rp 25 Juta. Sedangkan, kekurangannya didapat dari hasil penjualan sapi. Sapi itu dibeli sekitar tujuh bulan lalu dengan tabungan Syukron pula. Seharga Rp 13,5 Juta. Sepekan lalu, sapi itu dijual dengan harga Rp 19,5 juta.  ”Itu tabungan saya juga. Campur ada yang koin ada yang kertas,” kata Syukron.

Yang unik, di botol tempat dia menyimpan koin itu seluruhnya tertulis doa untuk bisa berangkat haji. Bunyinya Allahumma ballighna al-makkata wa al madiinata ma’a as-salaamah fii luthfin wa’afiyatin was’adatin wabuluughi al marom. #allahuma-kaji. Tulisan dengan aksara Arab itu dia tulis di kertas.

Baca Juga :  Mobil Listrik Kecepatan Maksimal 40 Km per Jam, Menanjak No Problem

Syukron merupakan santri di Ponpes Alhamdulillah di Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Rembang. Sudah Sembilan tahun, dia mondok di sana. Selama itu pulalah, dia mengumpulkan pundi-pundi rupiahnya di dalam botol untuk berangkat haji.

Sembari nyantri, Syukron mengaku juga jualan pulsa. Dalam sebulan, uang yang bergulir dari hasil penjualannya sekitar Rp 1,5 juta. Itu termasuk modalnya. Dari situlah, dia mampu menabung dengan hasil yang dia inginkan. Yakni menunaikan ibadah haji.

Asrukin, sang ayah turut menemani Syukron kemarin. Asrukin mengaku dirinya tidak tahu jika anaknya mengumpulkan koin hingga sampai enam botol air mineral. Dirinya baru tahu setelah anak sulungnya itu pulang sekitar tujuh bulan lalu untuk mendaftar haji.

”Pulang itu bilang, mau daftar haji. Saya tanya, apa sudah punya anggaran. Katanya sudah punya. Lalu saya suruh beli sapi dulu. Nanti kalau sudah cukup, dibuat daftar,” kata Asrukin.

Kini, Syukron untuk menyempurnakan Rukun Islam kelima tinggal selangkah lagi. Ya, meski telah membayarkan uang muka, dia harus menunggu 25 tahun lagi untuk bisa berangkat ke Makkah.

Saat ditanya motivasi, santri kelahiran Grobogan, 07 Maret 1997 itu ingin menabung untuk sesuatu yang wajib dan diridai Allah. Selama ini, kata dia, banyak orang menabung untuk hal-hal yang mubah. Semisal membeli handphone, motor, dan sebagainya.

”Padahal kan ada yang wajib. Tapi kebanyakan orang mengutamakan nabung untuk keperluan yang mubah,” aku dia. (*)

Bermodalkan koin di enam botol air mineral, Ahmad Syukron Ali mendatangi Kantor Kemenag Grobogan untuk mendaftar haji. Didampingi orangtua dan adiknya, santri asal Dusun Nglejok, Desa Pelem, Kecamatan Gabus itu mantab menyerahkan enam botol berisi koin.

SAIFUL ANWAR, Grobogan, Radar Kudus

PETUGAS di Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kemenag Grobogan terhenyak. Melihat pemuda berpeci dan bersarung membawa enam botol air mineral berisi ribuan koin. Petugas sempat terkejut. Tetapi kemudian melayaninya sesuai dengan prosedur.

Ahmad Syukron Ali  tampak tenang. Dia menyerahkan botol bekas air mineral berisi koin itu kepada petugas. Bersama persyaratan berkas yang dibutuhkan. Namun, sebelum koin itu diterima, petugas menghitungnya terlebih dulu.

Bagian atas botol itu disobek. Lalu ribuan koin itu dikeluarkan perlahan. Petugas menghitungnya hati-hati. Satu per satu koin. Jumlahnya, sesuai dengan perhitungan yang dilakukan Syukron sebelumnya. Satu botol berisi satu juta. Enam botol enam juta.

Ya, uang muka yang dibutuhkan untuk mendaftar haji sebesar Rp 25 Juta. Sedangkan, kekurangannya didapat dari hasil penjualan sapi. Sapi itu dibeli sekitar tujuh bulan lalu dengan tabungan Syukron pula. Seharga Rp 13,5 Juta. Sepekan lalu, sapi itu dijual dengan harga Rp 19,5 juta.  ”Itu tabungan saya juga. Campur ada yang koin ada yang kertas,” kata Syukron.

Yang unik, di botol tempat dia menyimpan koin itu seluruhnya tertulis doa untuk bisa berangkat haji. Bunyinya Allahumma ballighna al-makkata wa al madiinata ma’a as-salaamah fii luthfin wa’afiyatin was’adatin wabuluughi al marom. #allahuma-kaji. Tulisan dengan aksara Arab itu dia tulis di kertas.

Baca Juga :  Pegunungan Kendeng Utara Grobogan Gersang, Banjir Bandang Mengintai

Syukron merupakan santri di Ponpes Alhamdulillah di Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Rembang. Sudah Sembilan tahun, dia mondok di sana. Selama itu pulalah, dia mengumpulkan pundi-pundi rupiahnya di dalam botol untuk berangkat haji.

Sembari nyantri, Syukron mengaku juga jualan pulsa. Dalam sebulan, uang yang bergulir dari hasil penjualannya sekitar Rp 1,5 juta. Itu termasuk modalnya. Dari situlah, dia mampu menabung dengan hasil yang dia inginkan. Yakni menunaikan ibadah haji.

Asrukin, sang ayah turut menemani Syukron kemarin. Asrukin mengaku dirinya tidak tahu jika anaknya mengumpulkan koin hingga sampai enam botol air mineral. Dirinya baru tahu setelah anak sulungnya itu pulang sekitar tujuh bulan lalu untuk mendaftar haji.

”Pulang itu bilang, mau daftar haji. Saya tanya, apa sudah punya anggaran. Katanya sudah punya. Lalu saya suruh beli sapi dulu. Nanti kalau sudah cukup, dibuat daftar,” kata Asrukin.

Kini, Syukron untuk menyempurnakan Rukun Islam kelima tinggal selangkah lagi. Ya, meski telah membayarkan uang muka, dia harus menunggu 25 tahun lagi untuk bisa berangkat ke Makkah.

Saat ditanya motivasi, santri kelahiran Grobogan, 07 Maret 1997 itu ingin menabung untuk sesuatu yang wajib dan diridai Allah. Selama ini, kata dia, banyak orang menabung untuk hal-hal yang mubah. Semisal membeli handphone, motor, dan sebagainya.

”Padahal kan ada yang wajib. Tapi kebanyakan orang mengutamakan nabung untuk keperluan yang mubah,” aku dia. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/