alexametrics
32 C
Kudus
Tuesday, August 2, 2022

Satu Dasawarsa Band Senyawa Tour di Jawa Utara

Ngeband untuk Berkesplorasi, Bukan Turuti Pasar

Senyawa berani tampil beda di tengah minimnya festival musik. Lewat album Membaladakan Selamat, musikalitas mereka lebih bisa didengar khalayak. Tetapi bukan menuruti pasar. Rully dan Wukir, personel band ini, bermusik untuk bereksplorasi dan membebaskan diri untuk berkarya semata.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus, Radar Kudus

DUO personil band eksperimental asal Jogja, penampilannya mampu membuat anak muda Kudus keranjingan. Penonton menganggukkan kepalanya ketika lagu berjudul Alkisah dibawakan sebagai pembuka tour Jawa Utara di Kudus, Senin malam (13/12) lalu.


Wukir Suryadi mencabik-cabik dan memukul senar alat musik hasil rancangannya. Bentuknya seperti kecapi. Tetapi berbeda. Bunyi yang dikeluarkan berbeda. Bisa menimbulkan efek suara seperti drum, bas maupun gitar.

Sang vokalis, Rully Shabara juga tidak mau kalah. Suara khasnya terdengar nyaring. Teknik vokal nada tinggi dan teriakannya membakar semangat penonton. Rully, sapaan akrabnya, benar-benar membara. Keringat dari atas kepalanya bercucuran.

Tour-nya ke dari Semarang hingga Rembang ini adalah bentuk merayakan satu dasawarsa band yang pernah tampil di beberapa festival internasional. Senyawa akan melaksanakan khidmat tournya selama 10 tahun ke depan di seluruh wilayah Nusantara.

”Kalau  ada waktu, rejeki, uang Seminggu, lima atau tiga hari itu gak apa apa, yang penting dicicil. Februari tahun depan kami akan tour ke luar negeri,” kata vokalis berkepala plontos itu.

Baca Juga :  Cepat Matang dan Diklaim Lebih Sehat

Dalam tour-nya itu, Senyawa mencoba membawakan album barunya berjudul Membaladakan Keselamatan. Pada album tersebut konsep musik Senyawa beralih. Wukir hanya memainkan gitar akustik. Sementara eksplorasi suara Rully terdengar jelas dari album sebelumnya. Artikulasi suara Rully lebih jelas melantunkan 12 judul lagu.

Menurut Rully, album tersebut menjadi bentuk rasa syukur Senyawa diberikan keselamatan selama pandemi Covid-19. Duo personil ini menganggap telah melewati fase krisis kesehatan.

”Tajuknya kami membaladakan selamat, sejauh itu dibaladakan sebagai wujud syukur telah bisa bertahan sejauh ini,” bebernya.

Sementara Wukir ketika musiknya 180 derajat beralih ke arah yang diterima umum itu adalah bagian dari menjajal eksistensi Senyawa. Bukan memikirkan laku tidaknya musik mereka. Atau mengotak-ngotakan genre musik.

Merilis album baru ini, Senyawa tak menghiraukan apakah musikalitas mereka bisa dinikmati khalayak luas. Membaladakan Keselamatan adalah bagian dari kebebasan bermusik asal Kota Gudeg itu.

”Ini (Album Membaladakan Keselamatan, Red) adalah mengaktualisasikan apa yang menurut kami pas dan cocok. Jika itu diapresiasi kami sangat bersyukur,” kata pria berambut gondrong tersebut.

Eksistensi Senyawa hingga sampai dengan saat ini, merupakan keseriusan dua personilnya. Menurut Wukir, konsistensi dalam berkarya dan tak ada tendensi dari pihak lain membuat Senyawa utuh sekaligus langgeng hingga 10 tahun ‘beribadah’. (*)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Senyawa berani tampil beda di tengah minimnya festival musik. Lewat album Membaladakan Selamat, musikalitas mereka lebih bisa didengar khalayak. Tetapi bukan menuruti pasar. Rully dan Wukir, personel band ini, bermusik untuk bereksplorasi dan membebaskan diri untuk berkarya semata.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus, Radar Kudus

DUO personil band eksperimental asal Jogja, penampilannya mampu membuat anak muda Kudus keranjingan. Penonton menganggukkan kepalanya ketika lagu berjudul Alkisah dibawakan sebagai pembuka tour Jawa Utara di Kudus, Senin malam (13/12) lalu.

Wukir Suryadi mencabik-cabik dan memukul senar alat musik hasil rancangannya. Bentuknya seperti kecapi. Tetapi berbeda. Bunyi yang dikeluarkan berbeda. Bisa menimbulkan efek suara seperti drum, bas maupun gitar.

Sang vokalis, Rully Shabara juga tidak mau kalah. Suara khasnya terdengar nyaring. Teknik vokal nada tinggi dan teriakannya membakar semangat penonton. Rully, sapaan akrabnya, benar-benar membara. Keringat dari atas kepalanya bercucuran.

Tour-nya ke dari Semarang hingga Rembang ini adalah bentuk merayakan satu dasawarsa band yang pernah tampil di beberapa festival internasional. Senyawa akan melaksanakan khidmat tournya selama 10 tahun ke depan di seluruh wilayah Nusantara.

”Kalau  ada waktu, rejeki, uang Seminggu, lima atau tiga hari itu gak apa apa, yang penting dicicil. Februari tahun depan kami akan tour ke luar negeri,” kata vokalis berkepala plontos itu.

Baca Juga :  Warga di Kudus yang Rumahnya Ditutup Tembok Kini Tinggal Bersama Saudara

Dalam tour-nya itu, Senyawa mencoba membawakan album barunya berjudul Membaladakan Keselamatan. Pada album tersebut konsep musik Senyawa beralih. Wukir hanya memainkan gitar akustik. Sementara eksplorasi suara Rully terdengar jelas dari album sebelumnya. Artikulasi suara Rully lebih jelas melantunkan 12 judul lagu.

Menurut Rully, album tersebut menjadi bentuk rasa syukur Senyawa diberikan keselamatan selama pandemi Covid-19. Duo personil ini menganggap telah melewati fase krisis kesehatan.

”Tajuknya kami membaladakan selamat, sejauh itu dibaladakan sebagai wujud syukur telah bisa bertahan sejauh ini,” bebernya.

Sementara Wukir ketika musiknya 180 derajat beralih ke arah yang diterima umum itu adalah bagian dari menjajal eksistensi Senyawa. Bukan memikirkan laku tidaknya musik mereka. Atau mengotak-ngotakan genre musik.

Merilis album baru ini, Senyawa tak menghiraukan apakah musikalitas mereka bisa dinikmati khalayak luas. Membaladakan Keselamatan adalah bagian dari kebebasan bermusik asal Kota Gudeg itu.

”Ini (Album Membaladakan Keselamatan, Red) adalah mengaktualisasikan apa yang menurut kami pas dan cocok. Jika itu diapresiasi kami sangat bersyukur,” kata pria berambut gondrong tersebut.

Eksistensi Senyawa hingga sampai dengan saat ini, merupakan keseriusan dua personilnya. Menurut Wukir, konsistensi dalam berkarya dan tak ada tendensi dari pihak lain membuat Senyawa utuh sekaligus langgeng hingga 10 tahun ‘beribadah’. (*)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Most Read

Artikel Terbaru

/