alexametrics
23.7 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Si Tutul Lasem Tak Terkait dengan Koloni Macan Muria

HAMPIR semua hutan di Jawa, kata Didik (Peduli Karnivor Jawa), terdapat habitat macan tutul. Untuk penelitian macan tutul menurutnya perlu melibatkan masyarakat sekitar sebagai petunjuk arah. Ciri-ciri hutan yang dihuni macan tutul, biasanya terdapat satwa mangsa. Seperti babi, kidang, dan landak.

“Kalau babi hutan dan kidang masih ada, ada kemungkinan macan tutul masih ada,” ujarnya.

Jika menghitung dari laporan yang ia dapat pada 2005, di area Puncak Wangi hingga Lasem diperkirakan lebih dari 15 ekor. Mereka tidak tergabung dalam satu koloni. Mereka tersebar. “Itu dari informasi kasar. Bukan riset pemantauan mendalam,” katanya.


Indikatornya, ketika ada informasi indukan sedang ngiring, setidaknya ada empat ekor macan tutul. Jantan, betina, dan dua anak. “Untuk kawasan Pegunungan Kendeng utara itu tidak tercantum sebagai habitat macan tutul. Meskipun secara alami menjadi habitat, tapi karena tidak ada riset yang mendalam, akhirnya itu dianggap tidak ada,” katanya.

Sebab, kawasan hutan jati dinilai tidak mendukung keberadaan macan tutul. Terpisah dari Pegunungan Lasem, di kawasan Muria beberapa tahun yang lalu juga sempat terbit berita anak macan tutul yang meninggal. Di Muria sendiri tersebar di bentang sekitar 100 kilometer. Meliputi wilayah Kudus, Jepara, dan Pati.

Baca Juga :  Punya Dua Kantor, Omzet Miliaran

Namun, Didik menegaskan tidak ada kaitan antara macan tutul di Muria dan di Lasem. Secara ciri fisik, kemungkinan akan sama sebagaimana yang berada di Muria. Hanya saja, jika berada di daerah terbuka, si macan bisa terpapar matahari, warnanya akan lebih kuning kecokelatan. “Kalau yang di Muria kemarin itu muda. Anakan,” katanya.

Di kawasan Muria sendiri, Didik telah mengidentifikasi ada lima ekor jantan, sembilan ekor betina, dan dua anakan. “Itu sudah diterbitkan buku. Ada foto-fotonya,” ujarnya.

Untuk meneliti keberadaan macan tutul di kawasan Lasem, menurutnya perlu ada cek ke lapangan. Untuk mengidentifikasi di mana saja macan ditemukan, kapan ditemukan, dan melihat jejak-jejak kotoran yang ada.

Biasanya, macan tutul akan mendekati area perkampungan ketika si betina sedang membawa anaknya. Ini untuk menghindari pejantan di kawasan teritori. Seperti yang terjadi di kawasan Muria itu. Ditemukan bangkai anak macan. “Terekam kok nyuri bebek. Ada gambarnya pas makan ayam itu,” ujarnya. (him)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

HAMPIR semua hutan di Jawa, kata Didik (Peduli Karnivor Jawa), terdapat habitat macan tutul. Untuk penelitian macan tutul menurutnya perlu melibatkan masyarakat sekitar sebagai petunjuk arah. Ciri-ciri hutan yang dihuni macan tutul, biasanya terdapat satwa mangsa. Seperti babi, kidang, dan landak.

“Kalau babi hutan dan kidang masih ada, ada kemungkinan macan tutul masih ada,” ujarnya.

Jika menghitung dari laporan yang ia dapat pada 2005, di area Puncak Wangi hingga Lasem diperkirakan lebih dari 15 ekor. Mereka tidak tergabung dalam satu koloni. Mereka tersebar. “Itu dari informasi kasar. Bukan riset pemantauan mendalam,” katanya.

Indikatornya, ketika ada informasi indukan sedang ngiring, setidaknya ada empat ekor macan tutul. Jantan, betina, dan dua anak. “Untuk kawasan Pegunungan Kendeng utara itu tidak tercantum sebagai habitat macan tutul. Meskipun secara alami menjadi habitat, tapi karena tidak ada riset yang mendalam, akhirnya itu dianggap tidak ada,” katanya.

Sebab, kawasan hutan jati dinilai tidak mendukung keberadaan macan tutul. Terpisah dari Pegunungan Lasem, di kawasan Muria beberapa tahun yang lalu juga sempat terbit berita anak macan tutul yang meninggal. Di Muria sendiri tersebar di bentang sekitar 100 kilometer. Meliputi wilayah Kudus, Jepara, dan Pati.

Baca Juga :  Gending Dibikin Orang Senenan, Pemain Boleh dari Luar Daerah

Namun, Didik menegaskan tidak ada kaitan antara macan tutul di Muria dan di Lasem. Secara ciri fisik, kemungkinan akan sama sebagaimana yang berada di Muria. Hanya saja, jika berada di daerah terbuka, si macan bisa terpapar matahari, warnanya akan lebih kuning kecokelatan. “Kalau yang di Muria kemarin itu muda. Anakan,” katanya.

Di kawasan Muria sendiri, Didik telah mengidentifikasi ada lima ekor jantan, sembilan ekor betina, dan dua anakan. “Itu sudah diterbitkan buku. Ada foto-fotonya,” ujarnya.

Untuk meneliti keberadaan macan tutul di kawasan Lasem, menurutnya perlu ada cek ke lapangan. Untuk mengidentifikasi di mana saja macan ditemukan, kapan ditemukan, dan melihat jejak-jejak kotoran yang ada.

Biasanya, macan tutul akan mendekati area perkampungan ketika si betina sedang membawa anaknya. Ini untuk menghindari pejantan di kawasan teritori. Seperti yang terjadi di kawasan Muria itu. Ditemukan bangkai anak macan. “Terekam kok nyuri bebek. Ada gambarnya pas makan ayam itu,” ujarnya. (him)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

Most Read

Artikel Terbaru

/