alexametrics
24.1 C
Kudus
Thursday, July 7, 2022

Melihat Toleransi Beragama di Desa Tempur

Tempat Ibadah Saling Berhadapan, Adik Pendiri Masjid Jadi Pendeta

Di Desa Tempur terdapat satu bukti toleransi. Terdapat Masjid Nurul Hikmah dan Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Tempur yang beridiri saling berhadapan. Pemuka agama masing-masing tempat ibadah itu, merupakan kakak beradik.

MOH. NUR SYAHRI MUHARROM, Radar Kudus

SIANG itu, Desa Tempur, Keling cuacanya cerah. Cahaya matahari bersinar terang. Hanya saja saat itu puncak 29 Gunung Muria sedikit tertutup kabut. Salat Jumat di Masjid Nurul Hikmah Tempur baru saja rampung. Di depan masjid itu, ada GITJ Tempur yang berdiri tepat di hadapan Masjid Nurul Hikmah.


Saat wartawan koran ini mengunjungi masjid dan gereja itu, dari dalam gereja keluar Pendeta Suwadi, 60. “Tadi yang menelepon saya ya. Monggo pinarak,” ujarnya membuka pembicaraan dan mempersilahkan wartawan koran ini berkunjung ke rumahnya yang ada di samping masjid tersebut.

Saat itu dirinya tengah menyiapkan beberapa hiasan untuk pelaksanaan Natal yang sedianya digelar hari ini (25/12). “Tidak ada perayaan. Hanya ibadah saja, yang hadir dibatasi maksimal 70 orang. Itu terjadi di seluruh Jepara,” ceritanya.

Tahun ini, jadi tahun ke dua bagi GITJ Tempur tidak menggelar perayaan Natal. Maklum, pandemi Covid-19 masih jadi kendala diadakannya perayaan Natal kali ini.

Perayaan Natal terakhir digelar tahun 2019 lalu. Setiap perayaan Natal berlangsung, 600 hingga 700 orang hadir di gereja tersebut. Tak hanya dari kalangan Kristen. Namun juga hadir pula tamu undangan. Mulai dari perangkat desa, kalangan pemuda, dan lainnya. Pasalnya, dalam perayaan Natal itu digelar berbagai pertunjukan. Mulai seni tari, paduan suara, dan pertunjukan lainnya.

Baca Juga :  Setia 26 Tahun, Tak Ingin ke Lain Hati

Bila itu berlangsung, tak ada sekat antara muslim dan kristiani. “Yang muslim Ikut menjaga perayaan. Dan 80 orang yang tergabung dalam Pemuda Bersatu. Yang di dalamnya campur antara Kristen dan Islam turut menjamu tamu. Mengantarkan camilan dan makanan,” papar Suwadi.

Dengan jumlah tamu hingga ratusan orang, tentu gereja yang hanya terdiri dari satu lantai tak akan muat semua ditampung di dalam. Sebagian lainnya terpaksa harus di luar. Sebagian lainnya dipersilahkan menggunakan serambi masjid untuk jadi tempat duduk. Begitu pula sebaliknya, bila ada salat Idul Fitri atau Idul Adha, umat Islam di Tempur boleh memakai serambi gereja untuk dijadikan tempat salat. Maklum, antara serambi masjid dan gereja hanya dipisahkan jalan selebar empat meter.

GITJ Tempur jadi satu-satunya gereja yang ada di Tempur. Jumlah jemaatnya yang asli dari Tempur sekitar 50 orang dari sekitar 3 ribu penduduk Tempur. Suwadi bertugas sebagai pelayan umat atau pendeta di sana.

Gereja tersebut berdiri tahun 1988. Sementara, Masjid Nurul Hikmah berdiri tahun 2003 lalu. Siapa sangka, Suwadi yang menginisiasi pembangunan gereja bersaudara kandung dengan pendiri masjid. Dia Dia adalah Giran Hadi Sunaryo, 70, kakaknya sendiri. Semenjak kedua tempat ibadah tersebut berdiri, sinergi antara kedua umat di Tempur tak putus. “Bila ada pembangunan di masjid, umat Kristen sinergi membantu tenaga, bila ada pembangunan di Gereja, umat Islam juga sinergi membantu. Bahkan saat perayaan Idul Fitri, saya juga ikut menyediakan jajanan. Bahkan tamu saya lebih banyak saat itu dibanding saat Natal,” gurau Suwadi. (*/war)

Di Desa Tempur terdapat satu bukti toleransi. Terdapat Masjid Nurul Hikmah dan Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Tempur yang beridiri saling berhadapan. Pemuka agama masing-masing tempat ibadah itu, merupakan kakak beradik.

MOH. NUR SYAHRI MUHARROM, Radar Kudus

SIANG itu, Desa Tempur, Keling cuacanya cerah. Cahaya matahari bersinar terang. Hanya saja saat itu puncak 29 Gunung Muria sedikit tertutup kabut. Salat Jumat di Masjid Nurul Hikmah Tempur baru saja rampung. Di depan masjid itu, ada GITJ Tempur yang berdiri tepat di hadapan Masjid Nurul Hikmah.

Saat wartawan koran ini mengunjungi masjid dan gereja itu, dari dalam gereja keluar Pendeta Suwadi, 60. “Tadi yang menelepon saya ya. Monggo pinarak,” ujarnya membuka pembicaraan dan mempersilahkan wartawan koran ini berkunjung ke rumahnya yang ada di samping masjid tersebut.

Saat itu dirinya tengah menyiapkan beberapa hiasan untuk pelaksanaan Natal yang sedianya digelar hari ini (25/12). “Tidak ada perayaan. Hanya ibadah saja, yang hadir dibatasi maksimal 70 orang. Itu terjadi di seluruh Jepara,” ceritanya.

Tahun ini, jadi tahun ke dua bagi GITJ Tempur tidak menggelar perayaan Natal. Maklum, pandemi Covid-19 masih jadi kendala diadakannya perayaan Natal kali ini.

Perayaan Natal terakhir digelar tahun 2019 lalu. Setiap perayaan Natal berlangsung, 600 hingga 700 orang hadir di gereja tersebut. Tak hanya dari kalangan Kristen. Namun juga hadir pula tamu undangan. Mulai dari perangkat desa, kalangan pemuda, dan lainnya. Pasalnya, dalam perayaan Natal itu digelar berbagai pertunjukan. Mulai seni tari, paduan suara, dan pertunjukan lainnya.

Baca Juga :  ”Saya Ndak Butuh Uang Denda Itu, Biar Dia Kapok Saja”

Bila itu berlangsung, tak ada sekat antara muslim dan kristiani. “Yang muslim Ikut menjaga perayaan. Dan 80 orang yang tergabung dalam Pemuda Bersatu. Yang di dalamnya campur antara Kristen dan Islam turut menjamu tamu. Mengantarkan camilan dan makanan,” papar Suwadi.

Dengan jumlah tamu hingga ratusan orang, tentu gereja yang hanya terdiri dari satu lantai tak akan muat semua ditampung di dalam. Sebagian lainnya terpaksa harus di luar. Sebagian lainnya dipersilahkan menggunakan serambi masjid untuk jadi tempat duduk. Begitu pula sebaliknya, bila ada salat Idul Fitri atau Idul Adha, umat Islam di Tempur boleh memakai serambi gereja untuk dijadikan tempat salat. Maklum, antara serambi masjid dan gereja hanya dipisahkan jalan selebar empat meter.

GITJ Tempur jadi satu-satunya gereja yang ada di Tempur. Jumlah jemaatnya yang asli dari Tempur sekitar 50 orang dari sekitar 3 ribu penduduk Tempur. Suwadi bertugas sebagai pelayan umat atau pendeta di sana.

Gereja tersebut berdiri tahun 1988. Sementara, Masjid Nurul Hikmah berdiri tahun 2003 lalu. Siapa sangka, Suwadi yang menginisiasi pembangunan gereja bersaudara kandung dengan pendiri masjid. Dia Dia adalah Giran Hadi Sunaryo, 70, kakaknya sendiri. Semenjak kedua tempat ibadah tersebut berdiri, sinergi antara kedua umat di Tempur tak putus. “Bila ada pembangunan di masjid, umat Kristen sinergi membantu tenaga, bila ada pembangunan di Gereja, umat Islam juga sinergi membantu. Bahkan saat perayaan Idul Fitri, saya juga ikut menyediakan jajanan. Bahkan tamu saya lebih banyak saat itu dibanding saat Natal,” gurau Suwadi. (*/war)


Most Read

Artikel Terbaru

/