alexametrics
29.5 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

KH. Yahya Cholil Staquf, Cucu Kesayangan KH. Bisri Mustofa Jadi Ketum PB NU

Gus Yahya di Mata Keluarga, Jadi Sosok Ayah saat Adik-Adiknya Belum Mentas

KH. Yahya Cholil Staquf terpilih menjadi ketua umum (ketum) Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PB NU). Di mata adiknya, sulung delapan bersaudara itu, selain dikenal sebagai seorang kakak, juga abah yang kalem tapi tegas.

VACHRI RINALDY L, Radar Kudus

MUHAMMAD Hanies Cholil Barro -adik KH. Yahya Cholil Staquf- sudah memberikan selamat kepada KH. Yahya Cholil Staquf. Bahkan sebelum muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) dimulai.


Gus Hanies -sapaan akrab Muhammad Hanies Cholil Barro- datang ke Lampung saat hari pertama muktamar NU. Setelah itu pulang. Kembali bertugas sebagai wakil bupati Rembang. Dari keluarga, kata Hanies, hanya bisa mendoakan dan mendukung kakak sulungnya itu, sebagai pucuk pimpinan organisasi Islam terbesar itu.

”Kami (keluarga, Red) terus mendoakan, biar cita-citanya bisa terwujud,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

UCAPAN BERDATANGAN: Wabup Rembang Muhammad Hanies Cholil Barro’ yang juga adik NU KH. Yahya Cholil Staquf menerima tamu di rumahnya. (VACHRI RINALDY L/RADAR KUDUS)

Hanies berkisah, kakaknya sudah berkecimpung di NU sejak dulu. Sebagai anak ketujuh dari delapan bersaudara, ia memang memiliki selisih usia yang cukup jauh dengan kakaknya itu. Sekitar 16 tahun.

Dia menuturkan, semangat Gus Yahya –sapaan akrab KH. Yahya Cholil Staquf muncul saat ada muktamar NU di Jogjakarta. Saat itu, Gus Yahya sedang menimba ilmu di Kota Pelajar itu. Mondok di Pesantren Krapyak. ”Ikut menjadi panitia (muktamar NU di Jogjakarta). Kalau ikut secara kepengurusan setahu saya semenjak Gus Dur menjadi ketua umum PB NU,” ujarnya.

Dia melihat Gus Yahya tak hanya sebagai kakak. Namun, juga seorang abah. Apalagi, selepas KH. Cholil Bisri -ayah mereka- meninggal dunia pada 2004 silam. ”Saat itu adik-adiknya belum mentas (belum menikah atau mandiri). Terutama saya. Jadi, beliu (Gus Yahya, Red) bagaikan pengganti sosok ayah dan guru bagi saya. Saat beliau ngisi ngaji di pondok, saya ikut ngajinya,” terangnya.

Baca Juga :  Pertahankan Fitrah Anak Belajar dan Bermain

Dulu saat di Rembang, sehari-hari Gus Yahya memang rutin mengisi pengajian. Biasanya pada Selasa dan Jumat. ”Ngaji sama warga kampung,” kata Hanies. Jika tidak berhalangan, kadang juga mengajar kitab Alfiyah Ibnu Malik (kitab ilmu nahwu dan shorof) kepada para santri.

Gus Yahya memang menghabiskan masa kecilnya di Rembang. Menempuh Pendidikan di SDN 4 Kutoharjo. Setelah lulus SD, juru bicara Presiden ke-4 RI Abdur Rahman Wahid itu, melanjutkan sekolah di SMPN 2 Rembang. Namun, setelah itu pindah ke Jogjakarta untuk mondok di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Munawwir, Krapyak sampai lulus SMA. Lalu, melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM).

Pria kelahiran 16 Februari 1966 itu, juga sempat mukim di Makkah untuk belajar. ”Mukim-nya (di Makkah) tidak lama. Setahunan kalau nggak salah,” kenang Hanies.

Hanies melihat sosok Gus Yahya seorang yang kalem, tapi tegas. Jika memiliki cita-cita akan berkomitmen untuk meraihnya. ”Beliau yang paling tanek (lama) mondok. Juga cucunya KH. Bisri Mustofa yang paling disayang,” ujarnya.

Sementara itu, setelah keputusan muktamar, hingga sore Hanies mengaku belum ada komunikasi lebih lanjut dengan kakaknya itu. ”Saya ngasih ucapan sebelum muktamar. Hahaha…,” candanya.

Setelah pengumuman terpilihnya KH. Yahya Cholil Staquf sebagai ketum PBNU, sore harinya depan ndalem Gus Yahya sudah berdatangan karangan bunga. Kediamannya berada di depan Pondok Pesantren (Ponpes) Raudhatut Thalibin asuhan KH Mustofa Bisri -Gus Mus- yang juga merupakan paman Gus Yahya. (*/lin)

KH. Yahya Cholil Staquf terpilih menjadi ketua umum (ketum) Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PB NU). Di mata adiknya, sulung delapan bersaudara itu, selain dikenal sebagai seorang kakak, juga abah yang kalem tapi tegas.

VACHRI RINALDY L, Radar Kudus

MUHAMMAD Hanies Cholil Barro -adik KH. Yahya Cholil Staquf- sudah memberikan selamat kepada KH. Yahya Cholil Staquf. Bahkan sebelum muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) dimulai.

Gus Hanies -sapaan akrab Muhammad Hanies Cholil Barro- datang ke Lampung saat hari pertama muktamar NU. Setelah itu pulang. Kembali bertugas sebagai wakil bupati Rembang. Dari keluarga, kata Hanies, hanya bisa mendoakan dan mendukung kakak sulungnya itu, sebagai pucuk pimpinan organisasi Islam terbesar itu.

”Kami (keluarga, Red) terus mendoakan, biar cita-citanya bisa terwujud,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

UCAPAN BERDATANGAN: Wabup Rembang Muhammad Hanies Cholil Barro’ yang juga adik NU KH. Yahya Cholil Staquf menerima tamu di rumahnya. (VACHRI RINALDY L/RADAR KUDUS)

Hanies berkisah, kakaknya sudah berkecimpung di NU sejak dulu. Sebagai anak ketujuh dari delapan bersaudara, ia memang memiliki selisih usia yang cukup jauh dengan kakaknya itu. Sekitar 16 tahun.

Dia menuturkan, semangat Gus Yahya –sapaan akrab KH. Yahya Cholil Staquf muncul saat ada muktamar NU di Jogjakarta. Saat itu, Gus Yahya sedang menimba ilmu di Kota Pelajar itu. Mondok di Pesantren Krapyak. ”Ikut menjadi panitia (muktamar NU di Jogjakarta). Kalau ikut secara kepengurusan setahu saya semenjak Gus Dur menjadi ketua umum PB NU,” ujarnya.

Dia melihat Gus Yahya tak hanya sebagai kakak. Namun, juga seorang abah. Apalagi, selepas KH. Cholil Bisri -ayah mereka- meninggal dunia pada 2004 silam. ”Saat itu adik-adiknya belum mentas (belum menikah atau mandiri). Terutama saya. Jadi, beliu (Gus Yahya, Red) bagaikan pengganti sosok ayah dan guru bagi saya. Saat beliau ngisi ngaji di pondok, saya ikut ngajinya,” terangnya.

Baca Juga :  Manfaatkan Istirahat Sebaik Mungkin, Tambah Vitamin dan Bahagia

Dulu saat di Rembang, sehari-hari Gus Yahya memang rutin mengisi pengajian. Biasanya pada Selasa dan Jumat. ”Ngaji sama warga kampung,” kata Hanies. Jika tidak berhalangan, kadang juga mengajar kitab Alfiyah Ibnu Malik (kitab ilmu nahwu dan shorof) kepada para santri.

Gus Yahya memang menghabiskan masa kecilnya di Rembang. Menempuh Pendidikan di SDN 4 Kutoharjo. Setelah lulus SD, juru bicara Presiden ke-4 RI Abdur Rahman Wahid itu, melanjutkan sekolah di SMPN 2 Rembang. Namun, setelah itu pindah ke Jogjakarta untuk mondok di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Munawwir, Krapyak sampai lulus SMA. Lalu, melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM).

Pria kelahiran 16 Februari 1966 itu, juga sempat mukim di Makkah untuk belajar. ”Mukim-nya (di Makkah) tidak lama. Setahunan kalau nggak salah,” kenang Hanies.

Hanies melihat sosok Gus Yahya seorang yang kalem, tapi tegas. Jika memiliki cita-cita akan berkomitmen untuk meraihnya. ”Beliau yang paling tanek (lama) mondok. Juga cucunya KH. Bisri Mustofa yang paling disayang,” ujarnya.

Sementara itu, setelah keputusan muktamar, hingga sore Hanies mengaku belum ada komunikasi lebih lanjut dengan kakaknya itu. ”Saya ngasih ucapan sebelum muktamar. Hahaha…,” candanya.

Setelah pengumuman terpilihnya KH. Yahya Cholil Staquf sebagai ketum PBNU, sore harinya depan ndalem Gus Yahya sudah berdatangan karangan bunga. Kediamannya berada di depan Pondok Pesantren (Ponpes) Raudhatut Thalibin asuhan KH Mustofa Bisri -Gus Mus- yang juga merupakan paman Gus Yahya. (*/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/