alexametrics
29.6 C
Kudus
Saturday, May 14, 2022

Esty Cahyaningsih, Guru MI NU Tarbiyatuth Thullab Kudus

Penyusun Soal Instrumen Literasi Membaca Tingkat MI Tingkat Nasional

Perjuangan Esty Cahyaningsih begadang hingga keluar malam memutari jalan desa hanya untuk mendapatkan wangsit membuahkan hasil. Ia terpilih menjadi salah satu penyusun soal instrumen literasi membaca AKMI 2022.

ARIKA KHOIRIYA, Kudus, Radar Kudus

PAGI itu, pukul 07.00 pada (21/3), wartawan ini menuju MI NU Tarbiyatuth Thullab, tempat Esty mengajar. Lokasinya berada di Desa Payaman, Mejobo.


Sampai di sana, madrasah yang berdiri sejak 2010 sedang dalam proses pembangunan. Tepatnya di depan kantor guru.

Selang beberapa detik, guru yang terpilih menjadi penulis soal Assesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) 2022 akhirnya datang. “Saat ini, madrasah sedang ada penilaian tengah semester (PTS) genap,” jelas Esty saat ditanya wartawan koran ini kegiatan apa yang sedang dia lakukan pada pagi itu. Saat itu, dia sedang menjaga di ruangan kelas 5.

Kata Esty, sebelum dia terpilih menjadi penulis soal AKMI tahun ini, dia pernah menjadi instruktur literasi sain di tingkat provinsi. Beda dengan sekarang, dia harus memilih literasi membaca, karena sesuai denga latar belakang pendidikannya.

“Kalau yang pengalaman pertama itu dilaksanakan di Makassar,” ucapnya. Untuk tahun ini dilaksanakan secara online. “Yang pertama itu coba-coba. Yang kedua ini super duper diniati,” katanya lantas tertawa.

Esty menjelaskan, pada tingkat nasional penulis soal ujian yang terpilih hanya diambil 15 orang, termasuk dirinya. Pada saat awal pendaftaran, kata dia, saingannya sekitar 5.000 peserta. Sampai pada tahap lima (terakhir) tersisa 48 orang. “Persiapan hingga pengumuman itu pun dimulai pada Januari hingga Maret,” ujarnya.

“Pada jelang deadline pengumpulan stimulan itu lah yang bikin saya hectic banget,” ungkapnya. Stimulan sendiri, kata dia, yakni bacaan dari soal ujian yang nantinya akan digunakan saat AKMI 2022.

Dia menjelaskan bisa terpilih menjadi penyusun soal AKMI tahun ini sangat luar biasa tantangannya. Bukan cuma karena konsepnya yang lebih ketat. Yakni sebisa mungkin membuat stimulus itu harus unik dan beda dari yang lain.

Baca Juga :  Dekat hingga Ketahui Rahasia Keluarga Mbah Moen

“Karena soal ujian sekarang itu tidak sama seperti yang dulu,” tuturnya. Sebab soal versi AKMI sekarang dikemas dengan literasi-literasi untuk menilai seberapa paham murid dalam memahami soal tersebut. “Diajak untuk berpikir kritis,” sambungnya.

Dia juga menjelaskan soal cerita di AKMI itu juga tidak boleh panjang-panjang karena anak akan menjadi malas membacanya. Untuk penulisan tiap stimulus pun dibatasi dari 150 hingga 250 kata saja.

Menurut Esty, dalam mencari bahan stimulus tidak gampang. Dia sempat stres dan super hectic. Bagaimana pun juga dia harus bisa membuat ide stimulus yang unik agar bisa lolos menjadi penulis soal AKMI. “Di saat-saat itu pun saya bisa begadang sampai pagi,” ujarnya.

Pernah dia harus begadang keluar rumah pukul 23.00 hanya ingin mendapatkan wangsit. “Suasana malam itu enak. Saya suka bercengkerama dengan alam a,” guraunya. Itu dia lakukan hampir setiap malam.

Di saat itu pun dia sering mengonsumsi kopi. Padahal, sebelumnya dia bukan penikmat kopi. “Iya terpaksa, mau bagaimana lagi, biar tidak ketiduran,” ucapnya.

Tak hanya itu, perjuangan untuk meraih ide tulisan juga dilakukan dengan cara muter-muter sawah di sekitar desa. “Iya muter dari Desa Payaman, Jepang, lalu Gulang, gabut sekali ya,” kata Esty lantas tertawa.

Intinya dalam membuat stimulus itu harus bisa berpikir kreatif agar dapat memberi pemahaman kepada calon peserta ujian (AKMI) nantinya.

Pelaksanaan AKMI sendiri, kata Esty, akan dilaksanakan November 2022. Saat ini masih dalam tahap penyusunan soal. “Iya, nanti hasil tulisan saya akan dibaca oleh seluruh peserta ujian tingkat MI di seluruh Indonesia,” pungkasnya. (*/mal)

Perjuangan Esty Cahyaningsih begadang hingga keluar malam memutari jalan desa hanya untuk mendapatkan wangsit membuahkan hasil. Ia terpilih menjadi salah satu penyusun soal instrumen literasi membaca AKMI 2022.

ARIKA KHOIRIYA, Kudus, Radar Kudus

PAGI itu, pukul 07.00 pada (21/3), wartawan ini menuju MI NU Tarbiyatuth Thullab, tempat Esty mengajar. Lokasinya berada di Desa Payaman, Mejobo.

Sampai di sana, madrasah yang berdiri sejak 2010 sedang dalam proses pembangunan. Tepatnya di depan kantor guru.

Selang beberapa detik, guru yang terpilih menjadi penulis soal Assesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) 2022 akhirnya datang. “Saat ini, madrasah sedang ada penilaian tengah semester (PTS) genap,” jelas Esty saat ditanya wartawan koran ini kegiatan apa yang sedang dia lakukan pada pagi itu. Saat itu, dia sedang menjaga di ruangan kelas 5.

Kata Esty, sebelum dia terpilih menjadi penulis soal AKMI tahun ini, dia pernah menjadi instruktur literasi sain di tingkat provinsi. Beda dengan sekarang, dia harus memilih literasi membaca, karena sesuai denga latar belakang pendidikannya.

“Kalau yang pengalaman pertama itu dilaksanakan di Makassar,” ucapnya. Untuk tahun ini dilaksanakan secara online. “Yang pertama itu coba-coba. Yang kedua ini super duper diniati,” katanya lantas tertawa.

Esty menjelaskan, pada tingkat nasional penulis soal ujian yang terpilih hanya diambil 15 orang, termasuk dirinya. Pada saat awal pendaftaran, kata dia, saingannya sekitar 5.000 peserta. Sampai pada tahap lima (terakhir) tersisa 48 orang. “Persiapan hingga pengumuman itu pun dimulai pada Januari hingga Maret,” ujarnya.

“Pada jelang deadline pengumpulan stimulan itu lah yang bikin saya hectic banget,” ungkapnya. Stimulan sendiri, kata dia, yakni bacaan dari soal ujian yang nantinya akan digunakan saat AKMI 2022.

Dia menjelaskan bisa terpilih menjadi penyusun soal AKMI tahun ini sangat luar biasa tantangannya. Bukan cuma karena konsepnya yang lebih ketat. Yakni sebisa mungkin membuat stimulus itu harus unik dan beda dari yang lain.

Baca Juga :  Kenalkan Produk Ramah Lingkungan ke Luar Negeri

“Karena soal ujian sekarang itu tidak sama seperti yang dulu,” tuturnya. Sebab soal versi AKMI sekarang dikemas dengan literasi-literasi untuk menilai seberapa paham murid dalam memahami soal tersebut. “Diajak untuk berpikir kritis,” sambungnya.

Dia juga menjelaskan soal cerita di AKMI itu juga tidak boleh panjang-panjang karena anak akan menjadi malas membacanya. Untuk penulisan tiap stimulus pun dibatasi dari 150 hingga 250 kata saja.

Menurut Esty, dalam mencari bahan stimulus tidak gampang. Dia sempat stres dan super hectic. Bagaimana pun juga dia harus bisa membuat ide stimulus yang unik agar bisa lolos menjadi penulis soal AKMI. “Di saat-saat itu pun saya bisa begadang sampai pagi,” ujarnya.

Pernah dia harus begadang keluar rumah pukul 23.00 hanya ingin mendapatkan wangsit. “Suasana malam itu enak. Saya suka bercengkerama dengan alam a,” guraunya. Itu dia lakukan hampir setiap malam.

Di saat itu pun dia sering mengonsumsi kopi. Padahal, sebelumnya dia bukan penikmat kopi. “Iya terpaksa, mau bagaimana lagi, biar tidak ketiduran,” ucapnya.

Tak hanya itu, perjuangan untuk meraih ide tulisan juga dilakukan dengan cara muter-muter sawah di sekitar desa. “Iya muter dari Desa Payaman, Jepang, lalu Gulang, gabut sekali ya,” kata Esty lantas tertawa.

Intinya dalam membuat stimulus itu harus bisa berpikir kreatif agar dapat memberi pemahaman kepada calon peserta ujian (AKMI) nantinya.

Pelaksanaan AKMI sendiri, kata Esty, akan dilaksanakan November 2022. Saat ini masih dalam tahap penyusunan soal. “Iya, nanti hasil tulisan saya akan dibaca oleh seluruh peserta ujian tingkat MI di seluruh Indonesia,” pungkasnya. (*/mal)

Most Read

Artikel Terbaru

/