alexametrics
32.5 C
Kudus
Friday, August 12, 2022

Melihat Sistem Penanganan Kebakaran di Juwana

Jinakkan Api dengan Mesin Portable dan Bola Powder

KEBAKARAN kapal yang terjadi di sepanjang alur Sungai Juwana terbilang kerap terjadi beberapa tahun terakhir ini. Penanganan kebakaran kapal ini menjadi hal yang tak mudah. Medan yang terbilang sulit untuk proses pemadaman karena rapatnya barisan kapal di tempat tersebut.

Andre Faidhil Falah, Pati, Radar Kudus

Penanganan kebarakan di Peraraian Sungai Juwana melibatkan unsur tim kemaritiman. Yakni, TNI AL, Polairud, Sabandar, Damkar Pati, dan komunitas nelayan. Mereka saling bersinergi untuk memadamkan kebakaran.


Pencegahan bahaya kebakaran bisa saja berupa edukasi dan pelatihan penanganan kebakaran. Biasanya digelar di perusahaan maupun komunitas.

Kabid Damkar dan Linmas Satpol PP Pati Mirza Nur Hidayat mengatakan, pencegahan di pelabuhan ini pelaksanaannya meliputi beberapa komponen. TNI AL, Polairud, Sabandar, Damkar Pati, dan komunitas nelayan.

“Ketika terjadi kebakaran semua bersinergi. Kebakaran yang terjadi di area pelabuhan perairan sungai juana itu menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.

Untuk kapal Damkar sendiri ada satu yang bersandar di Pos TNI AL Juwana. Sisanya, di pos Juwana sendiri ada dua armada yang stand by jika ada peristiwa. Personelnya ada 12 orang. Itu dibagi dalam system shift dan on call.

”Jika ada kebakaran satu shift yang berisi tiga anggota menuju lokasi. Mereka juga memantau apakah perlu bantuan armada apa tidak,” paparnya.

Ketia terjadi kebakaran pihaknya akan dipanggil atau mendapat laporan dari warga. Kemudian mengomando pos Damkar Juwana untuk memadamkan api bersama semua komponen.

”Biasanya ada telepon. Kami langsung gerak. Semua unsur ikut membantu. Baik nelayan hingga Kamla,” ucapnya.

Sementara ini, pihak Damkar mempunyai empat pos siaga. Meliputi, pos induk di Pati, kawedanan Kayen ada di Tambakromo, kemudian pos Juwana dan pos bakamla.

“Tenaga ada 59 orang. Total armada ada 11. 10 mobil Damkar dan satu kapal Damkar. Empat pos itu juga saling bersinergi,” imbuhnya.

Kalau kebakaran di galangan kapal, kapal Damkar ini tak bisa masuk karena sedimentasi/endapan sungai. Sehingga akan disemprot dari kejauhan dan dibantu dari darat oleh mobil Damkar. Selain itu, juga para komunitas nelayan dengan mesin semprot portable.

“Daya semprotnya di kapal Damkar itu 25-50 meter. Bisa disemprot dari tengah menuju area kapal. Jadi punya dua pemancar. Include kapal dan portable,” tuturnya.

Selain menggunakan semprotan, jika kebakaran di dalam akan menggunakan bola pemadam. Bola itu dilempar. Jika terkena panas akan meledak. Bubuk powder pemadam akan keluar dari bola tersebut.

Menurutnya, adanya kebakaran kapal ini diakibatkan human eror. Sebab, awak kapal ini kurang waspada saat pengelasan atau perbaikan kapal.

Komandan pos TNI AL Juwana Sersan Mayor Supeno menambahkan, tim sudah dikoordinasi dan sosialisasi. Biasanya, nelayan menggunakan kapal tambangan (kapal kecil) untuk membantu memadamkan kebakaran.

“Kapal tambangan ini biasanya digunakan untuk angkutan. Kalau ada kebakaran, tiap kapal bawa satu penyemprot portable.  Begitu ada info, kapal-kapal kecil itu sudah langsung membantu. Sudah diedukasi. Jadi ini lebih efektif,” paparnya.

Baca Juga :  Harumkan Kesatuan di Perlombaan Tembak dan Renang

Untuk kapal Damkar dari Pemda ini ada dua metode penyemprotan. Tembakan kabut (air menyebar) untuk perlindungan diri. Kemudian semprotan terjal untuk memadamkan api.

“Ada dua semprotan belakang dan depan. Satu mesin tapi keluarnya dua. Ada selangnya.

Kemudian jika kapal rapat dan banyak, secara otomatis komunitas nelayan akan membantu menarik kapal yang di sebelahnya. Merenggangkan jarak agar api tak merembet.

“Jadi kapal terdesak direnggangkan biar tidak menyebar apinya. Istilahnya memutus api,” pungkasnya.

Butuh Tambah Personel dan Armada

MENANGANI kebakaran di luasnya wilayah Pati yang terdiri dari 21 kecamatan tak mudah. Saat ini pihak pemadam kebakaran (Damkar) hanya memiliki empat pos siaga. Yakni markas pusat di Pati Kota, Pos Juwana, Pos bakamla, dan Pos Tambakromo.

Kabid Damkar Satpol PP Pati Mirza Nur Hidayat mengatakan, saat ini di Pos Juwana jumlah personelnya tidak memadai dengan cakupan wilayah tugas yang amat luas.

Antar pos tersebut saling menghubungi. Biasanya, Damkar Pati dan Tambakromo untuk back-up kebakaran. Tenaga ada 59 orang.

“Di markas pusat ada 30 personil dengan dua shift jaga. Di Pos Tambakromo ada 12 personil untuk menangani Eks Kawedanan Sukolilo. Sedangkan Eks Kawedanan Juwana hanya punya 13 personel di wilayah padat penduduk. Namun juga harus meng-cover Eks Kawedanan Jakenan,” terangnya.

Mirza menyatakan ketimpangan tersebut mempengaruhi kinerja regu pemadam. Terlebih wilayah Juwana merupakan kawasan industri dan pusat aktivitas nelayan. Sehingga ada kerentanan tinggi terjadinya kebakaran.

“Kami ada dua armada pemadam plus satu kapal pemadam di Juwana. Namun, kami memang butuh anggota. Anggaran Pemda saya rasa tak mampu untuk menggaji THL. Intinya manut sama pemerintah,” imbuhnya.

Secara keseluruhan pihaknya kini memilki 11 armada pemadam. Namun sebagian besar kinerjanya terganggu akibat termakan usia. Padahal mobilitas regu pemadam kebakaran mengandalkan kecepatan. Ia menyebut dari keseluruhan armada hanya 6 yang efektif untuk mendukung operasi pemadaman api.

“Untuk kapal pemadam kami baru punya 1, namun idealnya kita butuh 2 unit. Sebab kebakaran kapal hanya efektif menggunakan kapal pemadam. Mengingat lokasinya yang sulit dijangkau armada darat,” jelasnya.

Ia menambahkan banyaknya kasus kebakaran secara terbanyak melanda kawasan padat penduduk dan lokasi tambat kapal. Umumnya penyebab kebakaran terjadi akibat hubungan arus pendek disebabkan rangkaian listrik yang tidak sesuai standar.

“Kami mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dalam mengelola listrik dan perapian kandang. Sebelum api membesar mohon lapor. Walaupun apinya kecil, kami siap. Daripada nanti terlambat,” paparnya. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

KEBAKARAN kapal yang terjadi di sepanjang alur Sungai Juwana terbilang kerap terjadi beberapa tahun terakhir ini. Penanganan kebakaran kapal ini menjadi hal yang tak mudah. Medan yang terbilang sulit untuk proses pemadaman karena rapatnya barisan kapal di tempat tersebut.

Andre Faidhil Falah, Pati, Radar Kudus

Penanganan kebarakan di Peraraian Sungai Juwana melibatkan unsur tim kemaritiman. Yakni, TNI AL, Polairud, Sabandar, Damkar Pati, dan komunitas nelayan. Mereka saling bersinergi untuk memadamkan kebakaran.

Pencegahan bahaya kebakaran bisa saja berupa edukasi dan pelatihan penanganan kebakaran. Biasanya digelar di perusahaan maupun komunitas.

Kabid Damkar dan Linmas Satpol PP Pati Mirza Nur Hidayat mengatakan, pencegahan di pelabuhan ini pelaksanaannya meliputi beberapa komponen. TNI AL, Polairud, Sabandar, Damkar Pati, dan komunitas nelayan.

“Ketika terjadi kebakaran semua bersinergi. Kebakaran yang terjadi di area pelabuhan perairan sungai juana itu menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.

Untuk kapal Damkar sendiri ada satu yang bersandar di Pos TNI AL Juwana. Sisanya, di pos Juwana sendiri ada dua armada yang stand by jika ada peristiwa. Personelnya ada 12 orang. Itu dibagi dalam system shift dan on call.

”Jika ada kebakaran satu shift yang berisi tiga anggota menuju lokasi. Mereka juga memantau apakah perlu bantuan armada apa tidak,” paparnya.

Ketia terjadi kebakaran pihaknya akan dipanggil atau mendapat laporan dari warga. Kemudian mengomando pos Damkar Juwana untuk memadamkan api bersama semua komponen.

”Biasanya ada telepon. Kami langsung gerak. Semua unsur ikut membantu. Baik nelayan hingga Kamla,” ucapnya.

Sementara ini, pihak Damkar mempunyai empat pos siaga. Meliputi, pos induk di Pati, kawedanan Kayen ada di Tambakromo, kemudian pos Juwana dan pos bakamla.

“Tenaga ada 59 orang. Total armada ada 11. 10 mobil Damkar dan satu kapal Damkar. Empat pos itu juga saling bersinergi,” imbuhnya.

Kalau kebakaran di galangan kapal, kapal Damkar ini tak bisa masuk karena sedimentasi/endapan sungai. Sehingga akan disemprot dari kejauhan dan dibantu dari darat oleh mobil Damkar. Selain itu, juga para komunitas nelayan dengan mesin semprot portable.

“Daya semprotnya di kapal Damkar itu 25-50 meter. Bisa disemprot dari tengah menuju area kapal. Jadi punya dua pemancar. Include kapal dan portable,” tuturnya.

Selain menggunakan semprotan, jika kebakaran di dalam akan menggunakan bola pemadam. Bola itu dilempar. Jika terkena panas akan meledak. Bubuk powder pemadam akan keluar dari bola tersebut.

Menurutnya, adanya kebakaran kapal ini diakibatkan human eror. Sebab, awak kapal ini kurang waspada saat pengelasan atau perbaikan kapal.

Komandan pos TNI AL Juwana Sersan Mayor Supeno menambahkan, tim sudah dikoordinasi dan sosialisasi. Biasanya, nelayan menggunakan kapal tambangan (kapal kecil) untuk membantu memadamkan kebakaran.

“Kapal tambangan ini biasanya digunakan untuk angkutan. Kalau ada kebakaran, tiap kapal bawa satu penyemprot portable.  Begitu ada info, kapal-kapal kecil itu sudah langsung membantu. Sudah diedukasi. Jadi ini lebih efektif,” paparnya.

Baca Juga :  Bukan Mitos, Diusulkan Jadi Pahlawan

Untuk kapal Damkar dari Pemda ini ada dua metode penyemprotan. Tembakan kabut (air menyebar) untuk perlindungan diri. Kemudian semprotan terjal untuk memadamkan api.

“Ada dua semprotan belakang dan depan. Satu mesin tapi keluarnya dua. Ada selangnya.

Kemudian jika kapal rapat dan banyak, secara otomatis komunitas nelayan akan membantu menarik kapal yang di sebelahnya. Merenggangkan jarak agar api tak merembet.

“Jadi kapal terdesak direnggangkan biar tidak menyebar apinya. Istilahnya memutus api,” pungkasnya.

Butuh Tambah Personel dan Armada

MENANGANI kebakaran di luasnya wilayah Pati yang terdiri dari 21 kecamatan tak mudah. Saat ini pihak pemadam kebakaran (Damkar) hanya memiliki empat pos siaga. Yakni markas pusat di Pati Kota, Pos Juwana, Pos bakamla, dan Pos Tambakromo.

Kabid Damkar Satpol PP Pati Mirza Nur Hidayat mengatakan, saat ini di Pos Juwana jumlah personelnya tidak memadai dengan cakupan wilayah tugas yang amat luas.

Antar pos tersebut saling menghubungi. Biasanya, Damkar Pati dan Tambakromo untuk back-up kebakaran. Tenaga ada 59 orang.

“Di markas pusat ada 30 personil dengan dua shift jaga. Di Pos Tambakromo ada 12 personil untuk menangani Eks Kawedanan Sukolilo. Sedangkan Eks Kawedanan Juwana hanya punya 13 personel di wilayah padat penduduk. Namun juga harus meng-cover Eks Kawedanan Jakenan,” terangnya.

Mirza menyatakan ketimpangan tersebut mempengaruhi kinerja regu pemadam. Terlebih wilayah Juwana merupakan kawasan industri dan pusat aktivitas nelayan. Sehingga ada kerentanan tinggi terjadinya kebakaran.

“Kami ada dua armada pemadam plus satu kapal pemadam di Juwana. Namun, kami memang butuh anggota. Anggaran Pemda saya rasa tak mampu untuk menggaji THL. Intinya manut sama pemerintah,” imbuhnya.

Secara keseluruhan pihaknya kini memilki 11 armada pemadam. Namun sebagian besar kinerjanya terganggu akibat termakan usia. Padahal mobilitas regu pemadam kebakaran mengandalkan kecepatan. Ia menyebut dari keseluruhan armada hanya 6 yang efektif untuk mendukung operasi pemadaman api.

“Untuk kapal pemadam kami baru punya 1, namun idealnya kita butuh 2 unit. Sebab kebakaran kapal hanya efektif menggunakan kapal pemadam. Mengingat lokasinya yang sulit dijangkau armada darat,” jelasnya.

Ia menambahkan banyaknya kasus kebakaran secara terbanyak melanda kawasan padat penduduk dan lokasi tambat kapal. Umumnya penyebab kebakaran terjadi akibat hubungan arus pendek disebabkan rangkaian listrik yang tidak sesuai standar.

“Kami mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dalam mengelola listrik dan perapian kandang. Sebelum api membesar mohon lapor. Walaupun apinya kecil, kami siap. Daripada nanti terlambat,” paparnya. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/