alexametrics
22.4 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Lebih Dekat dengan dr. Adia Triyarintana, Sp.OG Asal Grobogan

Dikala Dokter Spesialis Obstetri jadi Sahabat Ibu Hamil

MENJADI salah satu dokter spesialis muda yang ada di Kabupaten Grobogan. Keberadaan dr. Adia Triyarintana, Sp.OG ini kerap dicari-cari pasien dalam penjuru daerah. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang baru berusia 35 tahun ini memiliki keunggulan dalam mengedukasi pasien. Pasien dibuat betah berlama-lama konsultasi, hingga kerap memberikan edukasi gratis di media daring.

INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus, Grobogan

TAK ingin terlihat kaku saat praktik. Serta tak ingin memperlihatkan identitasnya, dr Adia Triyarintana ini terlihat tak berpakaian jas snelli ketika praktik. Ia terlihat stylish dengan kemeja flanel dan jins. Ya, ini menjadi salah satu caranya dalam mendekatkan diri ke para pasiennya.


Dengan santai, pria berkacamata ini menceritakan awal perjalanan kariernya sebagai dokter. Pria kelahiran Sukoharjo, 20 Juli 1987 merupakan lulusan S1 Kedokteran di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta 2011.

Setelah lulus, tak langsung praktik di sejumlah klinik atau rumah sakit. Saat itu ia memutuskan merantau di Kalimantan untuk bekerja di pertambangan. Hampir dua tahun lamanya.

Namun, tak merasa nyaman dan merindukan profesi kedokteran yang sudah dimilikinya. Akhirnya ia memutuskan merantau di Jakarta pada 2014. Di sana ia mencoba melanjutkan pendidikan S2. Ia mengikuti ujian negara pendidikan obstetri dan ginekologi di Universitas Indonesia (UI). Beruntungnya ia langsung diterima dan resmi menerima gelar Sp.OG pada 2020.

Kemudian kali pertama praktik ia dapatkan di Rumah Sakit Islam (RSI) Kudus pada Agustus 2020. ”Sempat mencari di Kabupaten Grobogan saat itu, tapi kebetulan belum ada lowongan. Kemudian nggak lama, ada dua rumah sakit (RS) baru di Kabupaten Grobogan. Kembali mendaftar lagi dan langsung ditempatkan di RS Ki Ageng Selo Wirosari,” jelasnya.

Meski mulanya hal itu menjadi tantangan, karena ia berada di rumah sakit baru yang merupakan eks rumah sakit darurat Covid-19. Di mana notabene masih sepi dan lokasinya pun jauh dari rumahnya yang ada di Desa Depok Kecamatan Toroh. Namun, karena saat itu ia masih harus praktik di Kudus. Akhirnya, ia harus bisa memilih salah satu dari tempat kerjanya itu.

”Setiap harinya harus perjuangan. Dari rumah ke Kudus, kemudian baru ke Wirosari yakni sisi timur Kabupaten Grobogan. Sampai rumah selalu malam. Akhirnya harus bisa memilih mana yang harus diutamakan, sekaligus agar tetap ada waktu dengan keluarga. Akhirnya memutuskan untuk berpamitan dari RSI Kudus saat itu,” ujarnya.

Namun, tak lama ia malah digandeng RSI Purwodadi. Meski membuka praktik di dua tempat tersebut, keberadaannya masih dicari para pasiennya yang berada di Kudus. Tak jarang, pasiennya merelakan berjauh-jauhan hingga ke Kota Purwodadi untuk bisa bertemu dokter Adia.

Bahkan, praktiknya di RSUD Ki Ageng Selo Wirosari yang saat itu menjadi RS baru, eks RS darurat Covid-19 dan masih sepi itu menjadi tantangan tersendiri. ”Ternyata malah memberi dampak positif. Di sana paling dicari masyarakat. Poli Obgyn paling ramai setiap praktiknya. Jadi mulai menghidupkan rumah sakit ini,” ungkapnya.

Dokter muda ini mulai menjadi favorit para ibu-ibu hamil, baik yang muda hingga tua. Hal itu karena cara memberikan edukasi ke pasien yang dirasa memang berbeda. Pasien dimanjakan berlama-lama konsultasi, edukasi diberikan se-detail mungkin. Sehingga memberikan kenyamanan tersendiri bagi para bumil.

Baca Juga :  Kemewahan Tinggal Kenangan, Kini Hidup Sederhana

”Memang ini menjadi keunggulan yang saya pelajari selama kuliah di Universitas Indonesia. Kami diajarkan untuk tidak mengejar banyaknya pasien, atau bukan kuantitas tapi kualitas. Cara kami memberikan edukasi ke pasien, hingga benar-benar mengerti kondisi kandungan mereka. Jika ada masalah dokter akan memberi solusi,” ujar pria yang tinggal di Dusun Panjetan Desa Depok Kecamatan Toroh ini.

Bahkan, dokter Adia juga tak pelit ilmu kepada pasiennya. Sehingga pasiennya pun berani menyuarakan keluhan-keluhan sedetail mungkin. ”Saya juga memberikan edukasi melalui media sosial. Kalau bisa sedekat mungkin dengan pasien. Jadi konsul bisa mudah , cepat dan free, tak perlu lah konsul hingga ke meja praktik. Kecuali memang ada keluhan yang mengharuskan bertemu di meja praktik,” katanya.

Cara edukasi tersebut juga dirasa ampuh membantu menurunkan Angka kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Meski sebenarnya AKI dan AKB merupakan pekerjaan rumah multifaktor dan  lintas sektoral.

”Salah satu faktor tingginya kasus karena kurang pahamnya bumil terhadap kondisi kehamilanya dan bagaimana solusi jika didapatkan kendala. Hal itulah menjadi betapa pentingnya seorang dokter untuk lebih banyak berdiskusi, bertanya tentang keluhan pasien dan memberi edukasi tentang apa yang sebaiknya dilakukan untuk mencapai kehamilan sehat dan melahirkan bayi sehat selamat,” jelasnya.

Selain mengutamakan edukasi, ia juga memiliki skill dalam hypnobirthing. Sehingga membantu proses persalinan pasien menjadi lebih mudah. Metode relaksasi ini kerap dipraktikkan saat membantu persalinan ibu hamil.

”Hipnosis selama persalinan ini cukup efektif membantu para ibu mengatasi ketakutan, otot-otot jadi rileks dan proses kontraksi secara alami pun bisa dilakukan,” imbuh suami dari dr Endang Setyoningsih ini.

Tak hanya itu, keunggulan salah satu dokter obgyn muda di Kabupaten Grobogan ini juga bisa menerapkan metode persalinan Eracs bagi pasien yang harus melahirkan di meja operasi. Sehingga pasien bisa cepat pulih dalam hitungan jam pasca operasi. Uji coba pertama bahkan ia lakukan saat praktik di RSUD Ki Ageng Selo Wirosari.

Perjalanan kariernya tak sampai di situ. Baru-baru ini, bapak dari dua anak ini juga membuka klinik sendiri yang ada di tengah desa dekat tempat tinggalnya. Klinik Sahabat Bumil itu menjadi klinik homey karena pasien dapat berlama-lama berkonsultasi dengan tempat dan alat yang modern, yakni menggunakan USG 4 Dimensi yang masih jarang didapat di Kabupaten Grobogan.

Meski begitu, setiap harinya ia harus membagi waktu di klinik barunya setiap pagi, kemudian siang dilanjut praktik di RSI Purwodadi dan RSUD Ki ageng Selo Wirosari lalu malam kembali lagi ke klinik sebagai destinasi terakhir sebelum pulang kerumah yang berjarak hanya 50 meter dari klinik tersebut.

”Memang jadi padat lagi waktunya, karena harus membagi di tiga tempat praktik. Namun, klinik ini menjadi cita-cita saya dan istri sejak lama. Motivasinya karena banyak teman kami yang hamil. Mereka masih termasuk generasi milenial sehingga kontrol butuh tempat yang nyaman dan simpel,” jelasnya.

Berdirinya klinik modern di tengah kampung ini juga menjadi keunikan karena bisa berbaur di tengah masyarakat dan homey. (*)

MENJADI salah satu dokter spesialis muda yang ada di Kabupaten Grobogan. Keberadaan dr. Adia Triyarintana, Sp.OG ini kerap dicari-cari pasien dalam penjuru daerah. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang baru berusia 35 tahun ini memiliki keunggulan dalam mengedukasi pasien. Pasien dibuat betah berlama-lama konsultasi, hingga kerap memberikan edukasi gratis di media daring.

INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus, Grobogan

TAK ingin terlihat kaku saat praktik. Serta tak ingin memperlihatkan identitasnya, dr Adia Triyarintana ini terlihat tak berpakaian jas snelli ketika praktik. Ia terlihat stylish dengan kemeja flanel dan jins. Ya, ini menjadi salah satu caranya dalam mendekatkan diri ke para pasiennya.

Dengan santai, pria berkacamata ini menceritakan awal perjalanan kariernya sebagai dokter. Pria kelahiran Sukoharjo, 20 Juli 1987 merupakan lulusan S1 Kedokteran di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta 2011.

Setelah lulus, tak langsung praktik di sejumlah klinik atau rumah sakit. Saat itu ia memutuskan merantau di Kalimantan untuk bekerja di pertambangan. Hampir dua tahun lamanya.

Namun, tak merasa nyaman dan merindukan profesi kedokteran yang sudah dimilikinya. Akhirnya ia memutuskan merantau di Jakarta pada 2014. Di sana ia mencoba melanjutkan pendidikan S2. Ia mengikuti ujian negara pendidikan obstetri dan ginekologi di Universitas Indonesia (UI). Beruntungnya ia langsung diterima dan resmi menerima gelar Sp.OG pada 2020.

Kemudian kali pertama praktik ia dapatkan di Rumah Sakit Islam (RSI) Kudus pada Agustus 2020. ”Sempat mencari di Kabupaten Grobogan saat itu, tapi kebetulan belum ada lowongan. Kemudian nggak lama, ada dua rumah sakit (RS) baru di Kabupaten Grobogan. Kembali mendaftar lagi dan langsung ditempatkan di RS Ki Ageng Selo Wirosari,” jelasnya.

Meski mulanya hal itu menjadi tantangan, karena ia berada di rumah sakit baru yang merupakan eks rumah sakit darurat Covid-19. Di mana notabene masih sepi dan lokasinya pun jauh dari rumahnya yang ada di Desa Depok Kecamatan Toroh. Namun, karena saat itu ia masih harus praktik di Kudus. Akhirnya, ia harus bisa memilih salah satu dari tempat kerjanya itu.

”Setiap harinya harus perjuangan. Dari rumah ke Kudus, kemudian baru ke Wirosari yakni sisi timur Kabupaten Grobogan. Sampai rumah selalu malam. Akhirnya harus bisa memilih mana yang harus diutamakan, sekaligus agar tetap ada waktu dengan keluarga. Akhirnya memutuskan untuk berpamitan dari RSI Kudus saat itu,” ujarnya.

Namun, tak lama ia malah digandeng RSI Purwodadi. Meski membuka praktik di dua tempat tersebut, keberadaannya masih dicari para pasiennya yang berada di Kudus. Tak jarang, pasiennya merelakan berjauh-jauhan hingga ke Kota Purwodadi untuk bisa bertemu dokter Adia.

Bahkan, praktiknya di RSUD Ki Ageng Selo Wirosari yang saat itu menjadi RS baru, eks RS darurat Covid-19 dan masih sepi itu menjadi tantangan tersendiri. ”Ternyata malah memberi dampak positif. Di sana paling dicari masyarakat. Poli Obgyn paling ramai setiap praktiknya. Jadi mulai menghidupkan rumah sakit ini,” ungkapnya.

Dokter muda ini mulai menjadi favorit para ibu-ibu hamil, baik yang muda hingga tua. Hal itu karena cara memberikan edukasi ke pasien yang dirasa memang berbeda. Pasien dimanjakan berlama-lama konsultasi, edukasi diberikan se-detail mungkin. Sehingga memberikan kenyamanan tersendiri bagi para bumil.

Baca Juga :  Gubuk Karya, Tempat Pemuda Menggemakan Permainan Tradisional

”Memang ini menjadi keunggulan yang saya pelajari selama kuliah di Universitas Indonesia. Kami diajarkan untuk tidak mengejar banyaknya pasien, atau bukan kuantitas tapi kualitas. Cara kami memberikan edukasi ke pasien, hingga benar-benar mengerti kondisi kandungan mereka. Jika ada masalah dokter akan memberi solusi,” ujar pria yang tinggal di Dusun Panjetan Desa Depok Kecamatan Toroh ini.

Bahkan, dokter Adia juga tak pelit ilmu kepada pasiennya. Sehingga pasiennya pun berani menyuarakan keluhan-keluhan sedetail mungkin. ”Saya juga memberikan edukasi melalui media sosial. Kalau bisa sedekat mungkin dengan pasien. Jadi konsul bisa mudah , cepat dan free, tak perlu lah konsul hingga ke meja praktik. Kecuali memang ada keluhan yang mengharuskan bertemu di meja praktik,” katanya.

Cara edukasi tersebut juga dirasa ampuh membantu menurunkan Angka kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Meski sebenarnya AKI dan AKB merupakan pekerjaan rumah multifaktor dan  lintas sektoral.

”Salah satu faktor tingginya kasus karena kurang pahamnya bumil terhadap kondisi kehamilanya dan bagaimana solusi jika didapatkan kendala. Hal itulah menjadi betapa pentingnya seorang dokter untuk lebih banyak berdiskusi, bertanya tentang keluhan pasien dan memberi edukasi tentang apa yang sebaiknya dilakukan untuk mencapai kehamilan sehat dan melahirkan bayi sehat selamat,” jelasnya.

Selain mengutamakan edukasi, ia juga memiliki skill dalam hypnobirthing. Sehingga membantu proses persalinan pasien menjadi lebih mudah. Metode relaksasi ini kerap dipraktikkan saat membantu persalinan ibu hamil.

”Hipnosis selama persalinan ini cukup efektif membantu para ibu mengatasi ketakutan, otot-otot jadi rileks dan proses kontraksi secara alami pun bisa dilakukan,” imbuh suami dari dr Endang Setyoningsih ini.

Tak hanya itu, keunggulan salah satu dokter obgyn muda di Kabupaten Grobogan ini juga bisa menerapkan metode persalinan Eracs bagi pasien yang harus melahirkan di meja operasi. Sehingga pasien bisa cepat pulih dalam hitungan jam pasca operasi. Uji coba pertama bahkan ia lakukan saat praktik di RSUD Ki Ageng Selo Wirosari.

Perjalanan kariernya tak sampai di situ. Baru-baru ini, bapak dari dua anak ini juga membuka klinik sendiri yang ada di tengah desa dekat tempat tinggalnya. Klinik Sahabat Bumil itu menjadi klinik homey karena pasien dapat berlama-lama berkonsultasi dengan tempat dan alat yang modern, yakni menggunakan USG 4 Dimensi yang masih jarang didapat di Kabupaten Grobogan.

Meski begitu, setiap harinya ia harus membagi waktu di klinik barunya setiap pagi, kemudian siang dilanjut praktik di RSI Purwodadi dan RSUD Ki ageng Selo Wirosari lalu malam kembali lagi ke klinik sebagai destinasi terakhir sebelum pulang kerumah yang berjarak hanya 50 meter dari klinik tersebut.

”Memang jadi padat lagi waktunya, karena harus membagi di tiga tempat praktik. Namun, klinik ini menjadi cita-cita saya dan istri sejak lama. Motivasinya karena banyak teman kami yang hamil. Mereka masih termasuk generasi milenial sehingga kontrol butuh tempat yang nyaman dan simpel,” jelasnya.

Berdirinya klinik modern di tengah kampung ini juga menjadi keunikan karena bisa berbaur di tengah masyarakat dan homey. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/